Selasa, 07 Juli 2015

Turki menempatkan rudal di perbatasan Suriah

TURKI (Arrahmah.com) – Sejumlah besar konvoi militer yang membawa sekering rudal dan artileri keluar dari Ankara telah mencapai provinsi perbatasan Suriah Kilis. Pasukan Khusus Komandan Mayor Jenderal Intelijen Aksakallı menerima informasi itu pada Ahad (5/7/2015), sebagaimana dilansir WB.

Sejumlah besar artileri dan rudal serta amunisi telah dikirim ke wilayah Elbeyli Kilis serta Polisi Perbatasan Oncupinar. Artileri dan rudal serta konvoi militer itu tiba di Kilis pada Ahad.

“Pasukan khusus” yang ditempatkan selama operasi Suleyman Shah juga diharapkan menjadi bagian dari operasi itu.

Skuadron yang merupakan bagian dari Brigade Komando Gunung Kayseri juga diharapkan akan dikerahkan untuk patroli polisi perbatasan di perbatasan Turki-Suriah.

(banan/arrahmah.com)

Kamis, 02 Juli 2015

SIAPAKAH YANG TELAH MERACUN AL-HASAN BIN ALI?

Oleh ust Dudung Ramdani, Lc (dari berbagai sumber)

Sejarah mencatat bahwa Al-Hasan meninggal karena diracun. Menurut sebuah riwayat bahwa Hasan bin Ali semoga Allah meridhai mereka, meninggal karena diracun oleh istrinya Ja’dah binti Al-Asy’ats. Riwayat lain mengatakan bahwa Mu'awiyah lah yang telah menyuruh Ja’dah untuk meracun Hasan bin Ali. Hal ini dilakukan karena Mu’awiyah suka terhadap Ja’dah dan berjanji dia akan menikahi Ja’dah sepeninggal Hasan. Ada juga riwayat yang mengatakan bahwa Yazid bin Muawiyah lah yang telah menyuruh seluruh pembantu Hasan untuk menaruh racun di makanan dan minuman Hasan.

Sebenarnya, Hasan tidak tahu, siapa yang telah meracuni dirinya. Begitu pula dengan Husein. Husein tidak tahu, siapa yang telah meracuni saudaranya itu. Karena pada saat Hasan sedang sakaratul maut, datanglah Husein dan bertanya kepadanya, “Wahai saudaraku, siapakah yang telah meracunmu?” Hasan, “Untuk apa engkau menanyakan hal ini? Apakah untuk menuntut balas/qisas?” Husein, “Iya!” Hasan, “Biarkan saja nanti di hadapan Allah SWT, saya dan dia akan beradu argumentasi. Biarlah Allah SWT yang menghukumnya!” Dari sini sudah bisa disimpulkan, jika Hasan sendiri tidak mengetahui secara pasti, siapa yang telah meracunnya. Demikian juga dengan Husein. Andai saja Husein tahu dengan pasti orang yang telah meracun Hasan, tentu Husein akan menuntut balas. 

Pertanyaan kepada Ahlu Syiah

Orang-orang Syiah selalu memperingati tanggal 10 Muharram dengan ritual cambuk-menyambuk atau pukul memukul tubuh dan kepala dengan benda tajam sampai bercucuran. Mereka melakukan hal ini adalah dalam rangka beribadah kepada Allah SWT. Yaitu dengan cara memperingati hari wafatnya Imam mereka, yaitu Imam Husein di padang Karbala pada tanggal 10 Muharram tahun 61 H. Dari generasi ke generasi, “ibadah” ini telah diwariskan turun temurun. Sampai-sampai anak yang masih kecil pun, harus ikut andil dalam perayaan ini.

Dari kami selaku Ahlu Sunnah hanya ingin mengajukan beberapa pertanyaan :
Apakah Rasulullah SAW mengajarkan “ibadah” ini?
Bagaimana pengamalan makna takziyah di dalam Islam?
Bolehkan kita meratapi mayit selama berabad-abad dengan cara melukai tubuh kita sendiri? Di manakah posisi kita terhadap ayat yang berbunyi, “(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji‘uun” (Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali). Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS Al-Baqarah [02]: 156-157).
Jika memang benar orang-orang Syiah merasa sedih dengan wafatnya Husein, bukankah ada yang patut lebih disedihi lagi, yaitu dengan wafatnya Rasulullah SAW sebagai kakek dari Husein itu sendiri?
Mengapa orang-orang Syiah hanya menghormati Ahlul Bait dari garis keturunan Ali yang berjumlah 11 orang? Bagaimana dengan anak-anak Ali yang lainnya? Apakah orang-orang Syiah bersikap baik terhadap keturunan Ali yang lainnya? 

Andai saja ada orang-orang Syiah atau perwakilannya yang bisa menjawab semua ini.



Salam, 

LPPI

IMAM HASAN AL-ASKARI TERNYATA MANDUL MENURUT KITAB-KITAB SYIAH

Oleh LPPI Jakarta

Jika diasumsikan bahwa Imam ke-12 ini benar adanya, maka para ulama Syiah telah menyatakan di dalam kitab-kitab mereka bahwa seorang anak kecil tidak bisa disebut sebagai seorang imam. Hal ini dikarenakan usianya yang masih muda dan di belum memenuhi syarat-syarat menjadi seorang imam yang telah disebutkan oleh para ulama Syiah. Di antaranya : Telah aqil baligh, adil, bisa memimpin, dan menguasi ilmu-ilmu yang berkaitan dengan hukum Islam. (Lihat kitab Al-Hukuumah Al-Islaamiyyah karya Imam Khumaini, hal. 45-46).

Kitab-kitab Syiah telah menyatakan secara tegas bahwa Imam Hassan Al-Askari -Imam yang ke-11) itu tidak mempunyai anak, baik dari istrinya maupun selir-selirnya. Pada saat beliau wafat pada tahun 260 H., datanglah seluruh kerabatnya dan menemui seluruh isteri Imam Hasan. Ternyata mereka tidak menemukan dari mereka itu ada yang hamil, walaupun hanya seorang. Akhirnya seluruh kerabat Imam ini membagikan warisannya di antara ibunya dan seluruh saudara-saudaranya, yaitu Ja’far. (Lihat kitab Al-Kaafiyull Hujjah, jilid 1/505, kitab Al-Irsyaad Lil Mufiid, hal. 339, kitab Kasyful Ghummah, hal. 408, kitab Al-Fushuul Al-Muhimmah hal. 289, kitab Jalaa-ul Uyuun jilid 2/762 dan kitab A’laamul Wara karya Ath-Thabarsi hal. 377).

Rabu, 01 Juli 2015

Pengalaman Berbuka Puasa Bersama Komunitas Syiah

Pengalaman Berbuka Puasa Bersama Komunitas Syiah
By: Syiah Indonesia on 11.19 / comment : 0 

Illustrasi

Syiahindonesia.com - Biasanya pada umumnya kita saat berbuka puasa akan segera makan/minum begitu mendengar adzan magrib sudah berkumamndang. Sehingga tidak ada acara yang paling menarik yang ditunggu-tunggu selain Adzan maghrib di bulan puasa. Karena itu Adzan Maghrib sama artinya dengan buka puasa. Apalagi dianjurkan untuk menyegerakan berbuka puasa dan melarang untuk mengundurkan. Maka segera kita akan melihat di kereta-kereta orang segera ribut membuka minuman dan makanan bekal untuk berbuka.

Tetapi hal itu tidak akan terjadi pada saat buka puasa dengan komunitas kaum Syiah. Di komunitas Syiah, buka puasa tidak sama artinya dengan adzan Maghrib, sebagaimana sebagaimana orang Suni. Seperti acara buka puasa bersama yang diadakan di Komplek Yayasan Islamic Cultural Centre ( ICC ) Al-Huda di Warung Buncit tidak jauh dari Republika, persis di samping Halte Busway Pejaten Phillips.

Ketika suara Adzan Maghrib terdengar berkumandang dari Masjid yang tidak jauh dari Yayasan, para jamaah masih terduduk mendengarkan ceramah. Bahkan Ustad yang memberikan ceramah belum menunjukkan tanda-tanda ceramah akan selesai. Baru setelah suara adzan tidak terdengar lagi penceramah selesai memberikan ceramah. Segera berbuka ? tidak ! pak Ustad memberikan waktu bagi para jamaah untuk mengajukan pertanyaan.

Konsep NABI Menurut Kristen (Nabi Ya’kub AS)

[114] Konsep NABI Menurut Kristen (Nabi Ya’kub AS)
Tuesday, 12 November 2013 23:37 

Masih melanjutkan pembahasan yang lalu, kini kita akan membahas tentang Nabi Ya’kub AS Kita akan lihat, bagaimana Bibel sebagai kitab ‘suci’ umat Kristen membahas tentang mereka.

Nabi Ya’kub AS menurut Bibel

Kata Yakub kepada ayahnya: "Akulah Esau, anak sulungmu. Telah kulakukan, seperti yang bapa katakan kepadaku. Bangunlah, duduklah dan makanlah daging buruan masakanku ini, agar bapa memberkati aku." ....  Lalu kata Ishak kepada Yakub: "Datanglah mendekat, anakku, supaya aku meraba engkau, apakah engkau ini anakku Esau atau bukan."

Maka Yakub mendekati Ishak, ayahnya, dan ayahnya itu merabanya serta berkata: "Kalau suara, suara Yakub; kalau tangan, tangan Esau." Jadi Ishak tidak mengenal dia, karena tangannya berbulu seperti tangan Esau, kakaknya. Ishak hendak memberkati dia, tetapi ia masih bertanya: "Benarkah engkau ini anakku Esau?" Jawabnya: "Ya! ....  Setelah Ishak selesai memberkati Yakub, dan baru saja Yakub keluar meninggalkan Ishak, ayahnya, pulanglah Esau, kakaknya, dari berburu.

Asma Allah Hanya Untuk Umat Islam

[115] Asma Allah Hanya Untuk Umat Islam
Tuesday, 12 November 2013 23:38 

Beberapa waktu lalu, saudara seakidah kita di Malaysia bersyukur atas keputusan Pengadilan Tingkat Banding Malaysia yang menerima gugatan pemerintah terkait dengan larangan penggunaan kata Allah untuk kalangan Kristen. Salah satu pihak Kristen yang menyayangkan keputusan tersebut adalah media Katholik, The Herald, dan berencana untuk menempuh jalur hukum. Kita pun lantas menjadi bertanya-tanya, tepatkah penggunaan kata “Allah” sebagai nama tuhan di kalangan non-Islam, utamanya Kristen?

Penyebutan Nama Tuhan di Berbagai Wilayah di Dunia

Penyebutan nama tuhan oleh kaum Zulu di Afrika Selatan barangkali cukup mengagetkan kita. Tuhan Yang Maha Kuasa mereka sebut dengan istilah “Umvelingangi”, yang apabila dilafalkan secara tepat akan terdengar seperti “Walla-hu-gani” atau “Dan Allah Maha Kaya”. Di Hindi, kata untuk menyebut Tuhan Yang Maha Kuasa adalah “Pramatma”. Dalam bahasa Sanskrit, “Atma” berarti jiwa, dan “Pram-atma” bermakna Jiwa Besar dan Suci, atau Jiwa Suci. Sementara itu, konsep Barat (Anglo-Saxon dan Teuton) mendefinisikan tuhan dengan sebutan GOD (Inggris), GOT (Afrikaans), GOLT (Jerman), GUDD (Danish, Swedia, Norwegia).  Bangsa Latin menyebut nama tuhan dengan sebutan “Deus”, dan bangsa Israel menyebut nama tuhannya dengan sebutan “EL” atau Adonai. Bangsa Yahudi juga dikenal menyebut tuhannya dengan istilah “Yahweh” (YHWH).