Tampilkan postingan dengan label Intermezo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Intermezo. Tampilkan semua postingan

Rabu, 30 Maret 2022

Kisah Perdebatan A Hassan

 

Kisah Perdebatan 

A. Hassan dengan Tokoh Atheis

 


Oleh: Artawijaya

GEDUNG milik organisasi Al-Irsyad, Surabaya, hari itu penuh sesat dipadati massa. Almanak menunjukkan tahun 1955. Kota Surabaya yang panas, serasa makin panas dengan dilangsungkannya debat terbuka antara Muhammad Ahsan, seorang atheis yang berasal dari Malang, dengan Tuan A. Hassan, guru Pesantren Persatuan Islam, Bangil. Meski namanya berbau Islam, Muhammad Ahsan adalah orang atheis yang tidak percaya bahwa Tuhan itu ada, dan tidak pula meyakini bahwa alam semesta ini ada Yang Maha Mengaturnya. Ia juga menyatakan manusia berasal dari kera, bukan dari tanah sebagaimana dijelaskan Al-Qur’an.

Menurut keterangan Ustadz Abdul Jabbar, guru Pesantren Persis, yang menyaksikan perdebatan itu, hadirin yang datang cukup membludak. Lebih dari ratusan massa datang berkumpul, mengular sampai ke luar gedung. Mereka mengganggap perdebatan ini penting, karena Muhammad Ahsan, telah secara terbuka di Surat Kabar Harian Rakyat, 9 Agustus 1955, meragukan keberadaan Tuhan. Ia juga menolak keyakinan Islam bahwa orang yang berbuat kebaikan di dunia, akan dibalas di akhirat kelak. Ahsan berkeyakinan, segala sesuatu tercipta melalui evolusi alam, dan akan musnah dengan hukum alam juga. Dalam surat kabar itu, ia menyatakan lugas, “Pencipta itu mestinya berbentuk. Tidak mungkin suatu pencipta tidak berbentuk, “tulisnya.

Atas pernyataan itu, Hasan Aidit, Ketua Front Anti Komunis, menghubungi A. Hassan agar bersedia bertukar pikiran dengan tokoh atheis itu. Sebelumnya, Hasan Aidit dan Bey Arifin sudah melayangkan tantangan debat di forum Study Club Surabaya pada 12 Agustus 1955, namun rencana itu gagal. Ia kemudian menyusun rencana agar Ahsan yang atheis itu dipertemukan dengan A. Hassan, sosok yang dikenal ahli dalam berdebat soal-soal keislaman. A. Hassan dan Muhammad Ahsan bersedia bertemu di forum terbuka.

Singkat kata, perdebatan terbuka benar-benar terjadi. Karena dikhawatirkan akan berlangsung panas, maka panitia memberikan beberapa peraturan kepada hadirin yang datang menyaksikan. Hadirin tak boleh bertepuk tangan, tidak boleh bersorak sorai, tidak boleh saling berbicara, tidak menampakkan gerak-gerik yang merendahkan salah seorang pembicara, dan tidak boleh mengganggu ketentraman selama berlangsungnya perdebatan.

Sementara untuk orang yang berdebat dibuat aturan pula. Masing-masing berdiri di satu podium dan diberi mikrophone, kemudian saling bertukar pertanyaan dan jawaban. Sementara pimpinan acara, yaitu Hasan Aidit, duduk di sebuah meja didampingi seorang sekretaris untuk mencatat jalannya perdebatan. Tugas pimpinan acara adalah mengatur jalannya perdebatan, dan menegur siapa saja yang melanggar aturan.

Setelah dibuka dengan ceramah dari KH. Muhammad Isa Anshary, tokoh Persatuan Islam yang juga petinggi Partai Masyumi, acara pun di mulai. Perdebatan berlangsung dalam format tanya jawab dan saling menyanggah pendapat yang diajukan.

Berikut point-point penting dari ringkasan perdebatan itu. Tokoh atheis Muhammad Ahsan akan disingkat menjadi (MA), sedangkan A. Hassan disingkat menjadi (AH):

A.H: Saya berpendirian ada Tuhan. Buat membuktikan keadaan sesuatu, ada beberapa macam cara; dengan panca indera, dengan perhitungan, dengan kepercayaan yang berdasar perhitungan, dengan penetapan akal. Makatentang membuktikan adanya Tuhan, tuan mau cara yang mana?

Selasa, 25 Agustus 2015

Harga Sapi Naik karena Ditimbun


Jakarta - Pihak Kepolisian Daerah Metro Jaya mensinyalir kuat adanya kartel dalam perdagangan sapi. Polisi bahkan sudah mengamati ada 3 perusahaan importir yang powerful dalam mengendalikan harga daging sapi.

"Dari 7 feedloter yang kita periksa, ada 3 feedloter yang memegang kendali penuh. Mereka yang menentukan harga," kata Kasubdit Indag Ditreskrimsus Polda Metro Jaya AKBP Agung Marlianto kepada detikcom, Selasa (25/8/2015).

"Mengapa mereka bisa mengendalikan, karena mereka punya kuota yang paling besar," imbuhnya.

Sejauh ini, penyidik masih terus melakukan penyelidikan kasus kartel ini. Agung menyebut, pihaknya sudah punya bukti-bukti cukup dalam kasus ini.

Hanya saja, pihaknya masih menyempurnakan bukti-bukti yang ada agar kasus bisa segera ditingkatkan ke penyidikan.

"Kami harus minta surat dari Pemda DKI dulu, yang menyatakan bahwa bahan pokok langka dan kenaikan harga tidak wajar. Itu mutlak harus ada dari Pemda," lanjutnya. 
(mei/hri)

Rabu, 22 April 2015

Intermezo Saja...

http://www.suara-islam.com/read/index/13956/Kisah-Imajinatif-Dialog-Guru-Liberal-dan-Murid-Lugu


Bismillaahi wal Hamdulillaah.

Ada pepatah lama : "Guru Kencing Berdiri, Murid Kencing Berlari." Pepatah ini muncul dari fakta bahwa seorang Murid pada umumnya selalu berusaha untuk meniru gurunya, bahkan sering ingin sedikit berlebih.

Karenanya, seorang Guru harus sangat hati-hati dalam berucap dan bersikap serta bertindak, agar Murid tidak meniru kesalahan Sang Guru.

Tapi di zaman sekarang ini, ada pepatah baru : "Guru Kencing Berdiri, Murid Kencingi Guru". Pepatah ini bisa berarti bahwa Murid tergantung kepada pendidikan Guru, dan bisa juga berarti bahwa Murid zaman sekarang banyak yang makin kurang ajar kepada Gurunya, serta bisa pula diartikan bahwa kini banyak Murid sudah berani membalikkan pendapat Gurunya yang "nyeleneh".