Tampilkan postingan dengan label Ahmadiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ahmadiyah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 Oktober 2025

Kegiatan Ahmadiyah Indonesia Bulan September 2025

 

    

Objek : Aktivitas Jemaat Ahmadiyah Indonesia
Periode: 16 September – 07 Oktober 2025
Fokus : Analisis atas Kegiatan JAI di Seluruh Wilayah Indonesia.

 

 

    

    

 


 

KEGIATAN 1 :

1. Identitas Kegiatan

  • Nama Kegiatan: Silaturahmi Intelijen Kodim 0908 Bontang ke Rumah Misi Jemaat Ahmadiyah Bontang[1]
  • Tanggal Kegiatan: Selasa, 16 September 2025
  • Tempat: Rumah Misi Jemaat Muslim Ahmadiyah Bontang
  • Pihak yang Hadir:
    • Dari Ahmadiyah:
      • Mln. Andhika Ibrar Ahmad (Mubaligh Daerah Kaltim 2 Utara)
      • Puji Darminto (Amir Daerah Kaltim 2 & Utara)
      • Warsono (Nazim Ansharullah)
      • Pengurus Jemaat lokal dan regional lainnya
    • Dari Intelijen Kodim 0908: Lima anggota rombongan



2. Materi Kegiatan

  1. Sejarah Ahmadiyah: Disampaikan bahwa Ahmadiyah masuk Indonesia sejak 1925, dan Jemaat Ahmadiyah Bontang berdiri tahun 1992.
  2. Tokoh-tokoh Nasional yang Dikaitkan: WR. Soepratman (pencipta lagu Indonesia Raya) dan Arif Rahman Hakim (tokoh mahasiswa) disebut sebagai sosok yang “bersinggungan” dengan Ahmadiyah.
  3. Kontribusi Sosial Ahmadiyah:
    • Pengajian internal jemaat
    • Donor darah
    • Gotong royong
    • Santunan fakir miskin
    • Program Clean The City
  4. Simbolisasi Persahabatan: Rombongan Kodim menerima buku “Sumbangsih Ahmadiyah untuk Negeri” sebagai cinderamata.
  5. Dokumentasi: Foto bersama, jamuan minum, dan interaksi cair penuh keakraban.

3. Analisa Kritis (Pandangan Ahlussunnah)

a. Aspek Aqidah dan Penyimpangan

  • Ahmadiyah bukan bagian dari Islam menurut kesepakatan ulama Ahlussunnah. Mereka mengangkat Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi setelah Nabi Muhammad ﷺ, padahal Allah menegaskan:

“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup para nabi.” (QS. Al-Ahzab: 40).

  • Menggunakan nama Jemaat Muslim Ahmadiyah adalah upaya sistematis untuk mengaburkan identitas dan menyusup ke dalam masyarakat Muslim, sehingga menimbulkan fitnah aqidah.

b. Pola Penyusupan Sosial

  • Penyampaian sejarah, klaim kontribusi nasional, serta program sosial adalah strategi soft approach untuk membangun citra positif Ahmadiyah di mata aparat negara.
  • Pemberian buku “Sumbangsih Ahmadiyah untuk Negeri” merupakan bentuk propaganda terselubung untuk melegitimasi eksistensi mereka.

c. Potensi Dampak Politik & Sosial

  • Dampak Politik: Hubungan hangat dengan institusi militer berpotensi membuka jalan legalisasi Ahmadiyah di daerah, sekaligus melemahkan posisi umat Islam yang menolak keberadaan mereka.
  • Dampak Sosial: Keharmonisan semu melalui kegiatan sosial bisa menimbulkan simpati publik. Jika masyarakat awam tidak memahami penyimpangan aqidah mereka, maka akan mudah terkecoh.
  • Dampak Agama: Silaturahmi seperti ini rawan dimanfaatkan untuk memperluas pengaruh dakwah Ahmadiyah, padahal aliran ini telah difatwakan sesat oleh MUI (1980 & 2005).

d. Analogi Strategi

  • Pertemuan dengan aparat negara dipoles dengan jamuan hangat, canda tawa, dan dokumentasi. Ini adalah strategi “normalisasi” – sama halnya dengan upaya kelompok sesat lain yang mengedepankan wajah sosial untuk menutupi penyimpangan akidah.

4. Kesimpulan Investigasi

  • Kegiatan silaturahmi antara Intelijen Kodim 0908 Bontang dan Jemaat Ahmadiyah bukan sekadar temu ramah, melainkan agenda strategis Ahmadiyah untuk membangun jejaring dengan aparat negara.
  • Dengan mengemas diri sebagai komunitas sosial yang peduli pada masyarakat, Ahmadiyah berusaha mengikis stigma sesat dan perlahan menanamkan pengaruhnya.
  • Dari perspektif Ahlussunnah, pertemuan ini berbahaya karena bisa menimbulkan legitimasi simbolik bagi Ahmadiyah di mata publik, sementara dari sisi aqidah mereka jelas menyimpang.
  • Masyarakat Muslim harus waspada agar tidak terkecoh oleh propaganda kemanusiaan yang disusupi misi aqidah menyimpang. Aparat negara seharusnya mengedepankan sikap netral, kritis, dan memahami fatwa ulama agar tidak terjebak dalam strategi infiltrasi.

Minggu, 08 Oktober 2023

SEJARAH A. HASSAN MEMPUNYAI KITAB-KITAB AHMADIYAH

 

SEJARAH A. HASSAN

MEMPUNYAI KITAB-KITAB AHMADIYAH

Oleh : M. Amin Djamaluddin

 

 

            Bapak M. Natsir (alloohu yarham) pernah bercerita kepada saya, bagaimana Tuan A. Hassan (alloohu yarham) mendapatkan buku-buku Ahmadiyah.

Pada suatu hari, Presiden Indonesia, Ir. Soekarno melakukan kunjungan kerja ke Jawa Timur bersama beberapa orang Duta Besar negara sahabat. Begitu Presiden Soekarno dan rombongan tiba di Jawa Timur, Presiden Soekarno dan rombongan tidak langsung menuju ke hotel tempat beliau dan rombongan akan menginap. Akan tetapi, Presiden Soekarno dan rombongan justru menuju ke rumah Tuan A. Hassan terlebih dahulu.

Setelah Presiden Soekarno dan rombongan selesai bersilaturahim dengan Tuan A. Hassan di rumahnya, sebelum Presiden Soekarno dan rombongan pergi menuju hotel, pada saat itu Presiden Soekarno bertanya kepada Tuan A. Hassan. “Tuan Hassan, perlu bantuan apa dari saya?” mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Presiden Soekarno, maka Tuan A. Hassan pun menjawab, “Saya minta Duta Besar India bermalam di rumah saya malam ini.” Permintaan Tuan A. Hassan ini segera dikabulkan oleh Presiden Soekarno, dan langsung menyuruh Duta Besar India untuk bermalam di rumah Tuan A. Hassan. Alhamdulillaah, Duta Besar India mau bermalam di rumah Tuan A. Hassan.

Pada saat itu, Tuan A. Hassan membahas masalah Ahmadiyah termasuk buku-buku Ahmadiyah dengan Duta Besar India. Pada saat itu, Tuan A. Hassan mencatat semua nama buku-buku Ahmadiyah yang disebutkan oleh Duta Besar India tersebut.

            Setelah bermalam di rumah Tuan A. Hassan, Duta Besar India dan Tuan A. Hassan pagi-pagi sekali langsung pergi ke hotel tempat Presiden Soekarno dan rombongan menginap. Sesampainya di hotel dan bertemu dengan Presiden Soekarno, Tuan A. Hassan mengatakan kepada Presiden Soekarno, “Ini yang saya minta bantuannya dari Bapak Presiden” sambil Tuan A. Hassan menyerahkan sehelai kertas kepada Presiden Soekarno.

            Setelah Presiden Soekarno membaca tulisan Tuan A. Hassan tersebut yang isinya permintaan untuk dicarikan buku-buku Ahmadiyah di India, maka Presiden Soekarno langsung meminta Duta Besar India untuk segera pulang ke negaranya dan membelikan semua buku-buku Ahmadiyah yang diperlukan oleh Tuan A. Hassan tersebut.

            Tidak berapa lama, Duta Besar India pun segera pulang ke negaranya untuk membelikan buku-buku Ahmadiyah yang diperlukan oleh Tuan A. Hassan.

Setelah Duta Besar India mendapatkan buku-buku Ahmadiyah yang diperlukan oleh Tuan A. Hassan, maka dia melaporkannya kepada Presiden Soekarno dan langsung diserahkannya buku-buku Ahmadiyah tersebut kepada Tuan A. Hassan. Inilah, sejarah singkat Tuan A. Hassan bisa mempunyai koleksi buku-buku Ahmadiyah yang di kemudian hari diwariskan kepada Pak Natsir dan dari Pak Natsir lah saya memperoleh buku-buku Ahmadiyah tersebut.

Memang, jika ada waktu senggang, Pak Natsir (alloohu yarham) suka bercerita banyak hal kepada saya. Termasuk sejarah ini.

 

 

***

Kamis, 19 Mei 2022

All About LPPI From Netizen

 


The most active anti-heretical organisation in Indonesia, the Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam (LPPI – Institute for Islamic Study and Research), has benefitted from the process of democratisation after the downfall of the Suharto regime in 1998. It has taken exclusionary stances towards what it considers to be heretical religious groups, particularly the Ahmadiyya. Established in the 1980s, the LPPI was marginalised and suppressed by the Suharto regime, and its leader, Amin Djamaluddin, was arrested several times for placing himself at loggerheads with the regime. LPPI, however, survived this repression and even found its momentum after 1998. Since then, it has been able to propagate its mission to root out and eradicate heretical beliefs and even gain support from the Majelis Ulama Indonesia (MUI – Council of Indonesian Ulama) and the government. This article studies the political and religious roles of the LPPI in promoting a strict and standardised Islam before and after 1998 by answering the following questions: What theological and political positions were adopted by this organisation in relation to the Ahmadiyya? How have the Persatuan Islam (Persis – Muslim Union) and the Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII – Indonesian Council for Islamic Propagation) influenced the LPPI in opposing nonconformist religious groups? Why did they disseminate anti-Ahmadiyya discourse, provoke people to oppose the Ahmadiyya, and lobby the government to ban this religious community? Did strategies to dismantle ‘deviant religious groups’ differ between the Suharto era and the post-Suharto era?

Organisasi anti kesesatan yang paling aktif di Indonesia, yaitu Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam (LPPI), telah diuntungkan dari proses demokratisasi setelah jatuhnya rezim Suharto pada tahun 1998. LPPI telah mengambil sikap eksklusif terhadap yang dianggapnya sebagai kelompok sesat, khususnya Ahmadiyah. LPPI didirikan pada 1980-an, dan LPPI pernah dipinggirkan dan ditekan oleh rezim Suharto, dan pemimpinnya, M. Amin Djamaluddin pernah ditangkap beberapa kali, karena berselisih dengan rezim. Namun, LPPI selamat dari penindasan rezim dan bahkan menemukan momentumnya setelah tahun 1998. Sejak itu, LPPI mampu menyebarkan misinya untuk membasmi dan memberantas aliran sesat dan bahkan mendapatkan dukungan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan pemerintah.

Artikel ini mempelajari peran politik dan dakwah LPPI di dalam mempromosikan Islam yang ketat dan baku sebelum dan sesudah tahun 1998 dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut ini : Posisi teologis dan politik apa yang dianut oleh organisasi ini dalam kaitannya dengan Ahmadiyah? Bagaimana Persatuan Islam (Persis) dan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) mempengaruhi LPPI di dalam menentang kelompok nonkonformis? Mengapa mereka menyebarkan wacana anti-Ahmadiyah, memprovokasi orang-orang untuk menentang Ahmadiyah, dan melobi pemerintah untuk melarang komunitas agama ini? Apakah strategi pembubaran 'kelompok aliran sesat' berbeda antara era Suharto dan pasca-Soeharto?


Selasa, 12 April 2022

MGA Mati Terhinakan

 HARTONO Ahmad Jaiz pernah bertanya kepada Dr. Hasan bin Mahmud Audah, mantan orang kepercayaan Khalifah Ahmadiyah ke-4 Thahir Ahmad, yang sudah kembali pada Islam. “Apakah benar, nabinya orang Ahmadiyah, Mirza Ghulam Ahmad Al-Kadzab yang lahir di India 15 Februari 1835 dan mati pada 26 Mei 1906, itu matinya di kakus (WC)?”

Kemudian Dr. Hasan bin Mahmud Audah pun menjawab, “Ha…, ha…, haa… itu tidak benar. Mirza Ghulam Ahmad Al-Kadzab tidak bisa ke WC. Dia meninggal di tempat tidur. Tetapi berminggu-minggu sebelum matinya dia berak dan kencing di situ. Jadi tempat tidurnya sangat kotor seperti WC. Karena sakitnya itu, sampai-sampai dalam sehari dia kencing seratus kali. Makanya, tanyakanlah kepada orang Ahmadiyah, maukah kamu mati seperti nabimu?”

LPPI: Jamaah Ahmadiyah Dilarang Berhaji

Berita Lama (Selasa 08 Sep 2009)

Diberitakan oleh Republika bahwa pada tahun 2009, jamaah Ahmadiyah diperbolehkan untuk beribadah haji ke Tanah Suci oleh Kantor Wilayah Departemen Agama (Kanwil Depag) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). hal ini kemudian menuai reaksi keras dari umat Islam. Di antaranya, Ketua Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam (LPPI) H. M. Amin Jamaluddin mengatakan bahwa jamaah Ahmadiyah tidak diperbolehkan untuk menunaikan ibadah haji ke tanah suci Makkah, Arab Saudi.

"Mereka (jamaah Ahmadiyah) bukan umat Islam," kata Amin kepada Republika, Senin pada 7/9/2009. Selian itu, menurut Amin, larangan beribadah haji ke Tanah Suci Makkah adalah peraturan Pemerintah Arab Saudi, bahwa semua jamaah Ahmadiyah dari berbagai negara tidak diperbolehkan untuk menunaikan ibadah rukun Islam yang kelima itu.

Amin meminta kepada Kanwil Depag NTB untuk satu suara dengan Majelis Ulama Indonesia dan pemerintah, bahwa jamaah Ahmadiyah tidak diperbolehkan berhaji. "Pemerintah dari pusat sampai daerah harus satu sikap, yakni melarang jamaah Ahmadiyah untuk menunaikan ibadah haji," tegasnya.

Dia mengaku, pemerintah sampai saat ini belum memiliki aturan pencegahan jamaah Ahmadiyah untuk beribadah haji. "Namun, jika orang itu sudah jelas termasuk jamaah Ahmadiyah, maka orang itu tidak boleh diberangkatkan," ujarnya.

Amin mencontohkan, saat musim haji tahun 2009, ada dua orang calon jemaah haji di Asrama Haji Pondok Gede, Bekasi yang diketahui sebagai jemaat Ahmadiyah. Setelah mengetahui kedua orang tersebut, Amin melaporkan keduanya ke Kedutaan Arab Saudi yang berada di Jakarta. Lantas, keduanya pun kemudian tidak jadi berangkat karena dilarang oleh Pemerintah Arab Saudi melalui Kedutaan besarnya di Jakarta.

Kamis, 17 Maret 2022

Sejarah A. Hassan Mempunyai Buku-buku Ahmadiyah

 

SEJARAH A. HASSAN

MEMPUNYAI KITAB-KITAB AHMADIYAH

Oleh : M. Amin Djamaluddin

 

            Bapak M. Natsir (alloohu yarham) pernah bercerita kepada saya, bagaimana A. Hassan (alloohu yarham) mendapatkan buku-buku Ahmadiyah.

            Pada suatu hari, Presiden Indonesia, Ir. Soekarno melakukan kunjungan kerja ke Jawa Timur bersama beberapa Duta Besar negara sahabat. Begitu Presiden Soekarno dan rombongan tiba di Jawa Timur, Presiden Soekarno dan rombongan tidak langsung menuju ke hotel tempat beliau dan rombongan akan menginap. Akan tetapi, Presiden Soekarno dan rombongan justru menuju ke rumah A. Hassan terlebih dahulu.

Setelah Presiden Soekarno dan rombongan selesai bersilaturahim dengan A. Hassan di rumahnya, sebelum Presiden Soekarno dan rombongan pergi menuju hotel, pada saat itu Presiden Soekarno bertanya kepada A. Hassan. “Tuan Hassan, perlu bantuan apa dari saya?” mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Presiden Soekarno, maka A. Hassan pun menjawab, “Saya minta Duta Besar India bermalam di rumah saya malam ini.” Permintaan A. Hassan ini segera dikabulkan oleh Presiden Soekarno, dan langsung menyuruh Duta Besar India untuk bermalam di rumah A. Hassan. Alhamdulillaah, Duta Besar India mau bermalam di rumah A. Hassan.

Pada saat itu, A. Hassan membahas masalah Ahmadiyah termasuk buku-buku Ahmadiyah dengan Duta Besar India. Pada saat itu, A. Hassan mencatat semua nama buku-buku Ahmadiyah yang disebutkan oleh Duta Besar India tersebut.

            Setelah bermalam di rumah A. Hassan, Duta Besar India dan A. Hassan pagi-pagi sekali langsung pergi ke hotel tempat Presiden Soekarno dan rombongan menginap. Sesampainya di hotel dan bertemu dengan Presiden Soekarno, A. Hassan mengatakan kepada Presiden Soekarno, “Ini yang saya minta bantuannya dari Bapak Presiden” sambil A. Hassan menyerahkan sehelai kertas kepada Presiden Soekarno.

            Setelah Presiden Soekarno membaca tulisan A. Hassan tersebut yang isinya permintaan untuk dicarikan buku-buku Ahmadiyah di India, maka Presiden Soekarno langsung meminta Duta Besar India untuk segera pulang ke negaranya dan membelikan semua buku-buku Ahmadiyah yang diperlukan oleh A. Hassan tersebut.

            Tidak berapa lama, Duta Besar India pun segera pulang ke negaranya untuk membelikan buku-buku Ahmadiyah yang diperlukan oleh A. Hassan.

Setelah Duta Besar India mendapatkan buku-buku Ahmadiyah yang diperlukan oleh A. Hassan, maka dia melaporkannya kepada Presiden Soekarno dan langsung diserahkannya buku-buku Ahmadiyah tersebut kepada A. Hassan. Inilah, sejarah singkat A. Hassan bisa mempunyai koleksi buku-buku Ahmadiyah yang di kemudian hari diwariskan kepada Pak Natsir dan dari Pak Natsir lah saya memperoleh buku-buku Ahmadiyah tersebut.

Memang, jika ada waktu senggang, Pak Natsir (alloohu yarham) suka bercerita banyak hal kepada saya. Termasuk sejarah ini.

 

 

Wassalam,

 

 

M. Amin Djamaluddin

Rabu, 16 Maret 2022

Ketika Ahmadiyah Keluar dari Pakistan

 AHMADIYAH TERUSIR KE LUAR PAKISTAN

Setelah dikeluarkannya UU yang melarang Ahmadiyah menggunakan simbol-simbol Islam, akhirnya Big Boss mereka, Mirza Thahir pun hengkang ke London. Di sana dia membangun markas besar baru bagi Ahmadiyah. Akan tetapi, para siswa Darul Ulum Deoband tidak membiarkan Mirza Thahir kembali menistakan agama Islam di sana. 

Bahkan mereka segera menyelesaikan masa istirahatnya dengan mengadakan Muktamar Tahaffuzh Khatmun Nubuwwah setiap tahunnya sejak tahun 1985 tanpa pernah berhenti dan selalu dihadiri oleh para ulama lulusan Darul Ulum Deoband dari Pakistan, India, Jazirah Arab, Afrika dan mereka menyampaikan pidatonya masing-masing. 

Demikian pula Majlis Tahaffuzh Khatmun Nubuwwah telah membangun kantor cabangnya di Inggris untuk memantau pergerakan Ahmadiyah secara kontinyu di sana. Demikian pula telah dibuka kantor cabang di Amerika, Afrika dan Eropa untuk menghadapi Ahmadiyah. 

Para ulama lulusan Darul Ulum Deoband lah yang berada di front terdepan. Demi melawan Ahmadiyah ini, di sana telah beberapa kali diadakan konferensi dan seminar ilmiyah dan pembagian kitab-kitab beserta buku-buku saku dakwah di India. Sekali lagi, semua geliat dakwah ini terlaksana di bawah bimbingan para ulama dan siswa Darul Ulum Deoband. Juga di Darul Ulum Deoband sendiri telah didirikan Majlis Tahaffuzh Khatmun Nubuwwah di India, segala puji bagi Allah SWT atas semua karunia ini.

Antara Pakistan dan Ahmadiyah

 

NEGARA PAKISTAN DAN AHMADIYAH



            Ketika negara Pakistan merdeka pada tahun 1947 M, Mirza Mahmud selaku pemimpin tertinggi di dalam aliran Ahmadiyah ini pergi dari Qadiyan (India) ke Pakistan. Sedangkan al-Moodi, penguasa pertama Inggris telah menjanjikan tanah di Punjab kepadanya seluas 34.000 ha berada di pinggir sungai Gangga. Pada saat itu, Pemerintah Inggris hanya memungut biaya 100.341 rupee saja untuk registrasi tanah. Di atas tanah inilah, orang-orang Ahmadiyah membangun markas mereka yang diberi nama Mirzail seperti Israel tanpa ada seorang pun yang bisa ikut campur sampai akhirnya Zhafarullah Khan al-Qadiyani menjadi Menteri Luar Negeri Pakistan yang pertama. Pak Menlu pun mulai mendakwahkan ajaran Ahmadiyah ke seluruh dunia dengan menggunakan uang negara Pakistan. Memang benar, Inggris telah meninggalkan India. Akan tetapi, Inggris telah membangun sebuah markas besar bagi anak angkatnya (Mirza Ghulam Ahmad) yang didanai dari uang kaum muslimin India (termasuk Pakistan di dalamnya). Sejak saat itu, orang-orang Ahmadiyah mulai merancang UU, karena mereka melihat kesempatan emas di hadapan mereka. Hal ini lah yang membuat sedih kaum muslimin Pakistan, karena di dalam hati mereka masih ada keimanan. Pada saat itu, orang-orang Ahmadiyah sedang berada di puncak kekuasaan (sedang jaya), mereka seperti seekor kuda liar tak terkendali. Pemerintah Pakistan pun segera mengambil keputusan untuk mempercepat Pemilu, supaya kaum muslimin dan non muslim bisa memilih calon-calon mereka. Pada saat itu, Pemerintah Pakistan memasukkan Ahmadiyah ke dalam kelompok kaum muslimin.

            Menghadapi masalah ini, Amir Syariah yaitu Sayyid Athaullah Syah al-Bukhari segera mengutus singa Islam, yaitu Syaikh Ghulam Ghauts al-Hazarwi dan pejuang Islam Syaikh Muhammad Ali al-Jalandahri untuk menemui Syaikh Abul Hasanat al-Qadiri, pimpinan sekolah al-Barilawiyyah. Maka terjadilah kesepakatan antara al-Barilawiyyah, Deobandiyah, Ahlul Hadits dan Syiah untuk menggerakkan rakyat melawan Ahmadiyah. Di kemudian hari, pada tahun 1953, pergerakan ini dikenal dengan nama Khatmun Nubuwwah. Seluruh alumni Darul Ulum Deoband telah berperan sebagai para pejuang di dalam pergerakan ini. Pergerakan ini telah mampu menahan laju pergerakan kuda liar Ahmadiyah. Akhirnya Zhafrullah (yang terlaknat) tidak bisa menjadi menteri kembali. Sehingga kekuatan Ahmadiyah porak poranda dan Ahmadiyah berjalan di muka bumi Pakistan sambil merangkak (terseok-seok).

Awal Mula Fatwa Sesat terhadap Ahmadiyah

 

 FATWA PERTAMA TERHADAP AHMADIYAH

(Sumber : Kitab Miratul Qadiyaniyyah)


 

            Disebutkan ketika perjuangan Mirza Ghulam Ahmad mulai berkembang sedikit demi sedikit. Akhirnya dia pun merantau ke sebuah kota yang bernama Ludhiana pada tahun 1301 H./1884 M. Di Ludhiana, Syaikh Muhammad al-Ladhyani dan Syaikh Abdullah al-Ladhyanawi dan Syaikh Muhammad Ismail al-Ladhyanawi rahimahumullah mengeluarkan sebuah fatwa bahwasanya Mirza Ghulam Ahmad itu bukan seorang mujaddid (pembaharu), tapi justru dia adalah seorang zindiq (ateis) dan orang sesat. (Fatawa Qadiriyah hal. 3).

            Merupakan karunia dari Allah SWT bahwasanya Allah SWT telah memberikan taufiq kepada para ulama Deobandi untuk mengafirkan Mirza Ghulam Ahmad. Orang yang pertama kali mengeluarkan fatwa kafir tersebut adalah Syaikh Muhammad al-Ladhyanawi yaitu kakek dari Syaikh Habiburrahman al-Ladhyanawi yang dikenal dengan pimpinan Gerakan Pembebasan. Fatwa dari para ulama ini seperti melempar sebuah batu ke dalam air yang tergenang (air yang tidak mengalir), maka percikannya menciprat dan keadaan pun menjadi berubah. Maka mulailah orang-orang ikut serta ke dalam perjuangan ini pada zaman Syaikh Muhammad Husain al-Batalawi yang setuju terhadap pemikiran-pemikiran Mirza Ghulam Ahmad. Tapi kemudian, Syaikh Muhammad Husain al-Batalawi mengeluarkan fatwa kufur terhadap Mirza Ghulam Ahmad pada tahun 1890 M. Maka Mirza Ghulam Ahmad membalasnya dengan menyebar luaskan majalah-majalah dan buku-bukunya dengan bantuan Inggris. Para ulama telah berusaha menyampaikan bantahan terhadap majalah dan buku-buku tersebut sesuai dengan kebutuhannya. Hal ini lah yang membuat gembira para pembaca, bahwasanya Allah SWT telah menolong para ulama Deobandi untuk merumuskan fatwa kufur terhadap Mirza Ghulam Ahmad. Fatwa kufur ini dirumuskan oleh Syaikh Muhammad Suhul, dosen di Darul Ulum Deobandi. Inilah terjemahannya :

(1)   Mirza Ghulam Ahmad (dicap) telah murtad, zindiq (atheis), sesat dan kafir.

(2)   Islam melarang umatnya bermuamalah dengan para pengikut Mirza Ghulam Ahmad. Kaum muslimin pun dilarang mengucapkan salam kepada mereka. Tidak boleh berbesanan dengan mereka; tidak boleh memakan sembelihan mereka dan harus menjauhi mereka sebagaimana harus menjauhi Yahudi, orang-orang Hindu dan orang-orang Nashrani.

(3)   Shalat di belakang orang-orang Ahmadiyah adalah seperti shalat di belakang orang-orang Yahudi, Nashrani dan orang-orang Hindu.

(4)   Orang-orang Ahmadiyah tidak diperbolehkan masuk ke dalam masjid kaum muslimin. Mereka tidak boleh melaksanakan (ritual) ibadah mereka di dalam masjid kaum muslimin sebagaimana terlarang bagi orang-orang Hindu.

(5)   Mirza Ghulam Ahmad adalah penduduk Qadiyan (sebelah utara India). Oleh karena itu, para pengikutnya disebut Qadiyaniyyah, sekte Ghulamiyyah atau jemaat setan iblis.    

                  

Fatwa ini ditandatangani oleh beberapa orang para ulama dari India seperti Syaikh Mahmud al-Hasan al-Deobandi, Syaikh Mufti Muhammad Hasan, Syaikh Sayyid Muhammad Anwar Syah al-Kasymiri, Syaikh Sayyid Murtadha Hasan al-Sanidfuri, Syaikh Abdussami, Syaikh Mufti Azizurrahman al-Deobandi, Syaikh Muhammad Ibrahim al-Balyawi, Syaikh al-Adab I’zaz Ali al-Deobandi, Syaikh Habiburrahman dan para ulama lainnya yang mempunyai hubungan dengan Deobandi, Saharnafur, Dahla, Calcuta, Dakka, Pesyawar, Rampur, Rawalbandi, Huzarah, Murad Abad, Wazir Abad, Multan, Mayan Wali dan lain-lainnya. Dengan ini semua, Anda bisa mengukur seberapa ketelitian dan kekuatan fatwa ini. Tidak ada jalan lagi bagi orang-orang yang ingin menambah-nambah fatwa ini setelah tabir kekufuran Ahmadiyah terkuak dalam rentang waktu seratus tahun. Para ulama senior telah menyusun fatwa yang sangat teliti ini setelah memikirkan dan memahaminya matang-matang. Fatwa ini mencakup semua bagian dan tidak ada yang kurang sedikit pun, walaupun sudah berjalan seratus tahun lebih. Kemudian keluarlah sebuah fatwa dari Dar Ulum Deobandi tahun 1332 Hijriyah di bawah bimbingan Syaikh Mufti Azizurrahman mengenai haramnya berbesanan dengan orang-orang Ahmadiyah. Fatwa ini ditandatangani oleh Syaikh Sayyid Ashgar Husain dan Syaikh Rasul Khan, Syaikh Muhammad Idris al-Kandahlawi, Syaikh Jul Muhammad Khan dari Deobandi, Syaikh Inayat Ali al-Saharnafuri rektor Universitas Mazhahirul Ulum, Syaikh Khalil Ahmad al-Saharnafuri, Syaikh Abdurrahman al-Kamalfuri, Syaikh Abdullathif, Syaikh Badar Alim al-Mirati, Syaikh Syah Abdurrahim, Syaikh Hakimul Ummah Muhammad Asyraf Ali al-Tanawi, Syaikh Syah Abdurrahim, Syaikh Syah Abdulqadir dari Rayifur, Syaikh al-Mufti Kifayatullah al-Dihlawi dan para ulama lain dari Kalkuta, Binaris, Walkanu, Agharuh, Muard Abad, Lahore, Amratsari, Ludhiana, Pesyawar, Rowalbandi, Multan, Husyayarfuri, Ghurdasafur, Jahlum, Siyalkut, Ghujranawala, Haidar Abad, Dakan, Bufala, dan Rampur. Demikian pula fatwa ini ditandatangani oleh sejumlah para ulama yang mulia dan fatwa ini disebut Fatwa Pengkafiran Ahmadiyah dan dicetak oleh Percetakan al-I’zaziyyah di Deoband.

 

Selasa, 08 Maret 2022

Pergerakan Ahmadiyah di Indonesia

 

BEBERAPA PERATURAN YANG MEMBATASI

PERGERAKAN AHMADIYAH DI INDONESIA

Oleh : M. Amin Djamaludin

 

Beberapa tahun yang lalu (2017), jemaah Ahmadiyah pernah mengajukan permohonan Judicial Review  ke MK terhadap UU Nomor 1/PNPS/1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan atau Penodaan Agama dengan memohon tafsir konstitusional bersyarat terhadap Pasal 1, 2, dan 3 UU Nomor 1/PNPS/1965 tersebut.

Di dalam berkas permohonan yang dikutip detik.com, Kamis (24/8/2017), Ahmadiyah telah menyodorkan 15 kasus yang menyatakan bahwa UU Nomor 1/PNPS/1965 tersebut dianggap merugikan komunitas Ahmadiyah, dan juga mereka menyatakan bahwa UU Nomor 1/PNPS/1965 bertentangan dengan Pasal 28C ayat 2 UUD 1945 yang berbunyi, “Setiap orang berhak untuk memajukan dirinya dalam memperjuangkan haknya secara kolektif untuk membangun masyarakat, bangsa dan negaranya.”

Dalam berkas perbaikan Permohonan Pemohon tertanggal 5 September 2017 dinyatakan bahwa UU a quo juga dianggap bertentangan dengan Pasal 1 ayat (3), Pasal 28D dan (1), Pasal 28C ayat (2), Pasal 28E ayat (1)  dan ayat (2), Pasal 29 ayat (2) UUD 1945.

Menurut Ahli, terhadap Pasal-pasal dalam UU No. 1/PNPS/1965 yang diajukan dan dianggap sebagai bertentangan dengan Pasal-pasal dalam UUD NKRI Tahun 1945 tersebut, terlihat Ahmadiyah sedang berupaya membangun kesan bahwasanya Pemerintah telah mengabaikan hak asasi manusia (HAM) Ahmadiyah. Padahal, seharusnya pihak Ahmadiyah harus membaca dan memahami pasal-pasal lainnya dari UUD 1945 tersebut, mulai Pasal 28A s.d. Pasal 28J, juga Pasal 29 ayat (2). Di antara Pasal 28 yang harus dipertimbangkan oleh pihak Ahmadiyah, yaitu Pasal 28J ayat 1 dan 2, yang berbunyi:

  1. Setiap orang wajib menghormati hak asasi manusia orang lain dalam tertib kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
  2. Dalam menjalankan hak dan kebebasannya, setiap orang wajib tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan dengan undang-undang dengan maksud semata-semata untuk menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak dan kebebasan orang lain dan untuk memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbangan moral, nilai-nilai agama, keamanan, dan ketertiban umum dalam suatu masyarakat demokratis.

Akan tetapi menurut pengamatan kami terhadap hal-hal yang menimpa Ahmadiyah adalah disebabkan oleh “kenakalan” mereka sendiri yang tidak mau menaati fatwa yang telah dikeluarkan oleh lembaga-lembaga yang diakui peranannya dalam masyarakat dalam mengawal terlaksananya ibadah agama Islam yang sesuai dengan syariat serta lembaga pemerintahan itu sendiri, yaitu MUI, Surat Keputusan dari 3 Menteri (SKB 3 Menteri 2008), larangan dari Gubernur, Bupati dan Walikota, di antaranya :

SKB Lombok Barat tahun 1983

1.   Pada 21 November 1983, Kabupaten Lombok Barat telah lebih dulu mengeluarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) No. Kep.11/IPK.32.2/L-2.III.3/11/83 tentang Pelarangan Kegiatan Jemaah Ahmadiyah.

2.       SKB 3 Menteri tahun 2008

Pada 9 Juni 2008, Pemerintah mengeluarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Agama, Jaksa Agung, dan Menteri Dalam Negeri RI dengan No. : 3 tahun 2008, No. : KEP-033/A/JA/6/2008 dan No. : 199 tahun 2008 tentang Peringatan dan Perintah kepada Penganut, Anggota dan/atau Anggota Pengurus Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) dan Warga Masyarakat.

 

Kajian Ahmadiyah

 

TAFSIR AL-QUR`AN VERSI AHMADIYAH

Oleh : M. Amin Djamaludin

Jemaat Ahmadiyah di mana pun mereka berada, disebut-disebut mempunyai kitab suci tersendiri, yaitu kitab Tadzkirah. Akan tetapi, mereka pun tetap ngotot bahwa kitab Tadzkirah itu bukan sebagai kitab suci, tetapi hanya pengalaman spiritual yang dialami oleh Pendiri Jemaat Ahmadiyah, yaitu Mirza Ghulam Ahmad. Hal ini pun telah mereka nyatakan berulang kali bahwa Tadzkirah bukan kitab suci mereka.

Kemudian, ketika mereka ditanya tentang apa kitab sucinya, maka mereka pun menjawab bahwa kitab suci mereka tetap Al-Qur`an. Akan tetapi, walaupun mereka mengaku sebagai umat muslim, beriman kepada Rasulullah s.a.w., tetapi mereka juga beriman kepada Mirza Ghulam Ahmad. Lihatlah, bagaimana cara mereka menyimpangkan penafsiran ayat-ayat Al-Qur`an dan kemudian dikait-kaitkan secara paksa agar berkenaan dengan Mirza Ghulam Ahmad, sebagai nabi dan rasul mereka (bisa dilihat dari keterangan footnote yang penulis cantumkan yang bersumber dari kitab tafsir Al-Qur`an versi Jemaat Ahmadiyah).

Untuk mengetahui perbedaan dan penyimpangan penafsiran versi JAI tersebut, sengaja penulis mencantumkan pembandingnya, yaitu penafsiran Al-Qur`an versi para ulama Islam.

Selasa, 23 Juli 2019

A. Hassan Mengoleksi Buku-buku Ahmadiyah


SEJARAH A. HASSAN
MEMPUNYAI KITAB-KITAB AHMADIYAH
Oleh : M. Amin Djamaluddin

            Bapak M. Natsir (alloohu yarham) pernah bercerita kepada saya, bagaimana A. Hassan (alloohu yarham) mendapatkan buku-buku Ahmadiyah.
            Pada suatu hari, Presiden Indonesia, Ir. Soekarno melakukan kunjungan kerja ke Jawa Timur bersama beberapa Duta Besar negara sahabat. Begitu Presiden Soekarno dan rombongan tiba di Jawa Timur, Presiden Soekarno dan rombongan tidak langsung menuju ke hotel tempat beliau dan rombongan akan menginap. Akan tetapi, Presiden Soekarno dan rombongan justru menuju ke rumah A. Hassan terlebih dahulu.
Setelah Presiden Soekarno dan rombongan selesai bersilaturahim dengan A. Hassan di rumahnya, sebelum Presiden Soekarno dan rombongan pergi menuju hotel, pada saat itu Presiden Soekarno bertanya kepada A. Hassan. “Tuan Hassan, perlu bantuan apa dari saya?” mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Presiden Soekarno, maka A. Hassan pun menjawab, “Saya minta Duta Besar India bermalam di rumah saya malam ini.” Permintaan A. Hassan ini segera dikabulkan oleh Presiden Soekarno, dan langsung menyuruh Duta Besar India untuk bermalam di rumah A. Hassan. Alhamdulillaah, Duta Besar India mau bermalam di rumah A. Hassan.
Pada saat itu, A. Hassan membahas masalah Ahmadiyah termasuk buku-buku Ahmadiyah dengan Duta Besar India. Pada saat itu, A. Hassan mencatat semua nama buku-buku Ahmadiyah yang disebutkan oleh Duta Besar India tersebut.

Serba Serbi Ahmadiyah


TULISAN BAPAK ADUN MUBARAK
DITUJUKAN KEPADA KETUA LPPI JAKARTA
+62 823-1918-5778

Ass. Punten pak abdi ngagangu manawi bilih lepat abdi adun mubarak
Sindiran kepada para ulama
Mari kita mengucapkan terimakasih yg sebesar besarnya kepada kebaikan iblis. Karena ternyata kalau kita merenung. Iblis telah sangat berbuat baik kepada kita.. Telah menggoda adam. Kalau saja iblis tidak mrnggoda adam. Nabi adam masih tetap berdua dengan hawa di surga. Dan kita semua tidak akan dilahirkan dan tidak akan ada nabi muhammad saw.. Maka jelas semua itu atas jasa jasa kebaikan iblis telah menggoda adam.... Dan kita wajib terimakasih kepada iblis
.
Kalau uraian tsb. Rancu dan tidak mungkin berterima kasih kepsda iblis... Berati mempunyai kepercayaan nabi adam dan hawa di usir di surga itu salah?

Kalau uraian tsb. Rancu dan tidak mungkin berterima kasih kepsda iblis... Berati mempunyai kepercayaan nabi adam dan hawa di usir di surga itu salah?

Sindiran kepada para ulama
Mari kita mengucapkan terimakasih yg sebesar besarnya kepada kebaikan iblis. Karena ternyata kalau kita merenung. Iblis telah sangat berbuat baik kepada kita.. Telah menggoda adam. Kalau saja iblis tidak mrnggoda adam. Nabi adam masih tetap berdua dengan hawa di surga. Dan kita semua tidak akan dilahirkan dan tidak akan ada nabi muhammad saw.. Maka jelas semua itu atas jasa jasa kebaikan iblis telah menggoda adam.... Dan kita wajib terimakasih kepada iblis

Kamis, 09 Agustus 2018

Apa Itu Tadzkirah Ahmadiyah?

Apa Itu Kitab Tadzkirah Ahmadiyah?
Oleh: Dudung Ramdani, Lc
Allah SWT menyebutkan banyak ciri dan tanda orang-orang yang zhalim. Di antaranya adalah orang yang mengaku menerima wahyu, padahal dia itu tidak menerima wahyu dari Allah SWT sama sekali. Atau dengan kata lain, Allah SWT tidak menurunkan wahyu sedikit pun kepada dirinya. Akan tetapi, ada sebagian manusia yang mengaku menerima wahyu dan bahkan wahyu-wahyu tersebut dia tulis dan di kemudian hari dicetak menjadi sebuah kitab, yaitu seperti yang telah dilakukan oleh Mirza Ghulam Ahmad.
Mirza Ghulam Ahmad telah mengaku menerima wahyu dari Allah SWT di Qadian. Wahyu-wahyu yang dia terima dicetak  oleh para pengikutnya dan diberi nama Tadzkirah. Di dalam Tadzkirah ini, konon katanya Allah SWT telah mewahyukan banyak hal kepada Mirza Ghulam Ahmad.

Umat Islam yang beraqidah lurus dan benar pasti akan menolak klaim sepihak dari Mirza Ghulam Ahmad ini. Karena di dalam Al-Qur`an sudah jelas bahwa setelah Nabi Muhammad SAW diutus dan Al-Qur`an telah sempurna, maka tidak akan ada nabi lagi dan tidak akan ada seorang manusia pun yang akan menerima wahyu.
Allah SWT telah berfirman, “Siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah atau yang berkata, “Telah diwahyukan kepadaku,” padahal tidak diwahyukan sesuatu pun kepadanya…”
(QS Al-An’am [6]: 93).

Para ulama banyak yang telah mengkaji kitab Tadzkirah dan disimpulkan bahwa kitab Tadzkirah adalah kitab sesat karena di dalamnya terdapat ayat-ayat Al-Qur`an yang dipotong-potong dan kemudian dirangkaikan menjadi sebuah rangkaian yang kemudian diakui sebagai wahyu yang turun di India kepada Mirza Ghulam Ahmad.

MATI KOLERA KUTUKAN MUBAHALAH KOK DISEBUT MATI SYAHID?!


MATI KOLERA KUTUKAN MUBAHALAH KOK DISEBUT MATI SYAHID?!
Oleh ustadz Dudung Ramdani, Lc

Di dalam buku, “Bukan Sekedar Hitam Putih,” hal. 231 dikatakan, ”Setelah mengetahui fakta mengenai sakit dan wafatnya Hz. Mirza Ghulam Ahmad a.s., sekarang yang menjadi persoalan dari segi aqidah adalah: Apakah sakit diare akut yang menyerang isi perut Hz. Mirza Ghulam Ahmad a.s. dapat dikategorikan sebagai penyakit yang diridhai oleh Tuhan atau tidak?”
            Setelah mengajukan pertanyaan ini, penulis membuat ”keterangan hadits” secara sepihak, tanpa merujuk kepada duduk permasalahan ”diare”-nya ”nabi” mereka, Mirza Ghulam Ahmad, yaitu dia menderita penyakit diare dan kolera sehingga mati di tempat tidur berlumuran muntah dan kotoran (menurut sebagian, Mirza Ghulam Ahmad mati di WC, berlumuran muntah dan kotoran). Kalau menurut pengakuan isteri Mirza Ghulam Ahmad bahwa suaminya itu mati di kasurnya berlumuran muntah dan kotoran. Lihat kitab Siratul Mahdi, jilid 1 hal. 11).
            Anaknya Mirza Ghulam Ahmad (yang mengarang kitab Siratul Mahdi) berkata,
أثناء وصفها للحظات الأخيرة من حياة الميرزا غلام تحدثت زوجة الميرزا عن مرحاض الطواريء الذي أعدته للميرزا بجانب سرير الموت حيث قالت نصرة جيهان ما يلي: بعد فترة قصيرة انتابته نوبة أخرى لكن هذه المرة كان ضعفه شديدا جدا بحيث لم يستطع الذهاب إلى الحمام، فقمت بالترتيبات قرب السرير حيث جلس هو هناك لقضاء حاجته، ثم نهض و استلقى على السرير ثم قمت بتدليك قدميه، لكن ضعفه كان شديدا جدا، وبعد ذلك أصابته نوبة أخرى ثم استقاء، و بعد أن انتهى من القيء حاول أن يستلقي لكن ضعفه هذه المرة كان أكثر بحيث لم تحمله يداه فانقلب على ظهره و ضرب رأسه بخشب السرير.
”Ketika isteri Mirza Ghulam Ahmad menggambarkan detik-detik terakhir dari kehidupan Mirza Ghulam Ahmad, maka istri Mirza berkata tentang toilet darurat yang disiapkannya untuk Mirza di samping tempat tidur kematiannya, di mana Nushrat Jihan berkata sebagai berikut, ”Sejenak kemudian, Mirza Ghulam Ahmad terserang lagi kolera, tapi kali ini badannya sangat lemah, sehingga ia tidak kuat untuk pergi ke WC. Maka aku (isteri Mirza Ghulam Ahmad) berdiri di dekat ranjangnya, di mana ia (MGA) duduk di sana untuk buang air besar. Lalu ia pun bangkit dan berbaring di atas ranjangnya, dan kemudian aku pun memijat kakinya. Tapi badannya sangat lemah, dan sejurus kemudian MGA terkena serangan kolera lagi, dan kemudian ia muntah, dan setelah dia (MGA) selesai muntah, dia mencoba untuk berbaring, tapi karena badannya sudah lemah, dan kelemahan kali ini sangat lemah sekali, sehingga kedua tangannya tidak kuat lagi maka MGA pun terjengkakng kepalanya membentur kayu ranjangnya,” (Lihat Siratul Mahdi, jilid 1, hal. 11).

Serba Serbi Ahmadiyah


  
SERBA-SERBI AHMADIYAH
(oleh ustadz Dudung Ramdani, Lc)


DAFTAR ISI

  1. TAHUN KELAHIRAN YANG BERBEDA-BEDA    
  2. MIRZA GULAM AHMAD DAN ASAL USULNYA  
  3. PENGAKUAN-PENGAKUAN MIRZA GHULAM AHMAD 
  4. PERUBAHAN ISI TADZKIRAH AGAR COCOK DENGAN KENYATAAN
  5. BENTUK-BENTUK PENGHINAAN MIRZA GHULAM  
  6. PENYAKIT-PENYAKIT MIRZA GHULAM AHMAD
  7. MIRZA GHULAM AHMAD, “NABI” DARI INDIA YANG BODOH 
  8. SEJARAH MUBAHALAH
  9. PARA SAKSI KEMATIAN MIRZA GHULAM AHMAD

Ahmadiyah selalu menjadi polemik di seluruh dunia. Kaum muslimin tetap berkeyakinan bahwa Ahmadiyah adalah aliran sesat, karena berkeyakinan ada nabi setelah Nabi Muhammad SAW.
            Untuk menguatkan dakwaan kita bahwa Ahmadiyah adalah sesat, maka dengan ini saya akan paparkan beberapa hal yang saya nilai ganjil. Mulai dari tahun kelahiran Mirza Ghulam Ahmad yang berbeda-beda, ramalan yang tidak pernah terbukti, melakukan pembohongan (padahal seorang nabi tidak akan pernah berbohong), mengajak bermubahalah, eh malah Mirza Ghulam Ahmad yang mati kolera. Tetapi, para pengikutnya tetap saja membela kesesatan ini. Mungkin saja, di balik pembelaan mereka ini ada udang di balik batu. Ada uang yang melimpah bantuan dari asing, atau ada kepentingan politik yang ingin dicapai di balik semua ini.
Mari kita simak satu persatu kesesatan Ahmadiyah ini. Di antaranya :
             
1. TAHUN KELAHIRAN YANG BERBEDA-BEDA
            Mengapa berbeda-beda? Mirza Ghulam Ahmad mengatakan bahwa dirinya dilahirkan pada tahun 1839 atau 1840. Mirza Ghulam Ahmad berkata, ”Saya dilahirkan pada tahun 1839/1840. Karena pada saat itu, adalah akhir dari Pemerintahan Sikh. Pada tahun 1857, saya baru berumur 16 tahun. Janggut serta kumis saya belum tumbuh.” (Kitabul Bariyyah, hal. 159/ Ruhani Khozain Jilid 13 hal. 177).
Akan tetapi para pengikutnya merubah tahun kelahiran nabi mereka. Dengan ini mereka bertujuan agar usia nabi mereka (Mirza Ghulam Ahmad) sesuai antara ramalannya (Mirza Ghulam Ahmad) mengenai umurnya sendiri. Para pengikut Mirza Ghulam Ahmad menuliskan bahwa tahun kelahiran Mirza Ghulam Ahmad adalah tahun 1835. Hal ini dikarenakan Mirza Ghulam Ahmad pernah meramalkan bahwa umurnya akan berkisar antara 75-85. 
            Mirza Ghulam Ahmad berkata di dalam kitabnya, Dhamimah Haqiqatul Wahyi, hal. 94 sebagai berikut :
أَطَالَ اللهُ بَقَاءَكَ تَعِيْشُ ثَمَانِيْنَ حَوْلًا أَوْ تَزِيْدُ عَلَيْهِ خَمْسَةً أَوْ أَرْبَعَةً أَوْ يَقِلُّ كَمِثْلِهَا.
“Allah akan memanjangkan umurmu, engkau akan hidup sekitar 80 tahun, atau lebih 5 atau 4 tahun  dari itu (84 atau 85 tahun), atau kurang seperti itu (kurang 5 atau 4 tahun dari 80 tahun, yaitu 74 atau 75 tahun).”
Oleh karena itu, ketika para pengikut Mirza Ghulam Ahmad mengatakan bahwa nabi mereka lahir pada tahun 1835, maka ketika Mirza Ghulam Ahmad meninggal dunia pada tahun 1908, artinya ramalannya tepat. Karena 1908 – 1835 = 73 tahun. Akan tetapi, apabila tidak dirubah, maka ramalan Mirza Ghulam Ahmad tidak terbukti. Karena 1908 – 1839 = 69 tahun. Umur Mirza Ghulam Ahmad yang sebenarnya adalah 69 tahun. Jadi antara ramalan dengan kenyataan tidak sesuai.  

2. MIRZA GULAM AHMAD DAN ASAL USULNYA

Mirza Ghulam Ahmad mengaku keturunan Persia.
”Keluarga ini (yaitu keluarga aku) dikenal sebagai keluarga Mongol. Akan tetapi Allah yang mengetahui hal gaib dan hal sebenarnya telah menampakkan kepadaku berkali-kali di dalam wahyu-Nya yang suci bahwa keluargaku adalah keluarga (keturunan) Persia dan Allah telah memanggilku dan telah berkata kepadaku dengan sebutan Ibnu Paris (Anak Persia), sebagaimana Allah telah berfirman tentang aku, ”Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan menjauhkan diri dari jalan Allah, maka akan menjawab kepada mereka seorang laki-laki dari Persia dan Allah berterima kasih atas usahanya (usaha Mirza Ghulam Ahmad),” (Haqiqatul Wahyi, hal. 81).

”Sekarang telah nampak bagiku dari firman Allah bahwa keluargaku benar-benar keluarga (keturunan) Persia, bukan keturunan Mongol. Aku tidak tahu, dari mana dan kesalahan apa sehingga keluargaku dikenal sebagai keturunan Mongol,” (Haqiqatul Wahyi, hal. 81).

Selasa, 26 Mei 2015

المقدمة
وجود الأحمدية في إندونيسيا مثل الشوكة في بدن الإنسان، فهذا الإنسان كل يوم يشكو بألم شديد في جسمه. و إذا يريد هذا الإنسان أن يتخلص من هذا الوجع، فعليه أن يزيل هذه الشوكة من جسمه. وكذلك بالنسبة للأحمدية، وجودها في إندونيسيا مضرة للمسلمين، لأن المسلمين لا يريدون هذه التعاليم المنحرفة. و قد طلب المسلمون من الحكومة أن تحظر الأحمدية، ولكن مازالت الحكومة تتردد حتى تسبب الأحمدية الفوضى في هذه البلاد، مثل حصل الإشتباكات في بعض المناطق في إندونيسيا.
وأما قضية تدنيس دين من الأديان و خصوصا دين الإسلام وهو فيما يتعلق بتعاليم الأحمدية التي تعتقد أن مرزا غلام أحمد الهندي هو نبي الله بعد نبينا محمد صلى الله عليه وسلم. و كذلك يعتقد الأحمديون أن لديهم كتاب مقدس غير القرآن، وهو كتاب تذكرة و هي عبارة عن مجموعة كشوف ورؤيا مرزا غلام أحمد.  
و رفض مسلمو إندونيسيا هذه الأحمدية، وكان الشيخ محمد أمين جمال الدين، مدير مركز البحوث والدراسات الإسلامية قد رفع قضية الأحمدية إلى الشرطة تقريبا ثلاثة مرات، يعني سنة 2006 ، 2009 ، و 2011، و قال أنه يأمل أن الشكوى الثالث [هذا العام] سيهتم به الشرطة. و سبب هذا الرفض يعني أن الأحمدية قد انتهكت حرمات دين الإسلام، و هذا الأمر ليس له علاقة بحرية اعتناق أي دين من الأديان، ولكن أن الأحمدية قد انتهكت دين الإسلام، لأن الأحمديين يعتقدون أن هناك نبي آخر بعد محمد صلى الله عليه وسلم وزعم هذا النبي المزور أنه أوحي إليه و هذا الوحي جمعه هذا النبي المزور المرزا في كتاب تذكرة.  

ويأمل المسلمون في إندونيسيا أن الحكومة تصرح موقفها ضد الأحمدية، لأن الأحمدية قد انتهكت القرار المشترك سنة 2008، الذي وقع عليه وزير الشؤون الداخلية و وزير الشؤون الدينية والمدعي العام، و الحزم من الحكومة نعتبره شيئا هاما لتجنب الفوضى. و هذا القرار المشترك أصدره ثلاثة الوزراء في 9 يونيو سنة 2008، ومن ضمنه تحذير لجميع الأحمديين أن لا ينشر أحد منهم تعاليم الأحمدية التي تنحرف عن تعاليم الإسلام. و في الواقع أن الأحمديين ينتهكون هذا القرار المشترك. ولذلك هناك صوت واحد، حظر الأحمدية أو سحبها من إندونيسيا!

Berita Lama tentang Ahmadiyah

للأحمدية لها خياران: بين الحل و إنشاء دين جديد
هذا الخبر من صحيفة ريفوبليكا، يوم الجمعة 15 أكتوبر 2010.

بين حل أو حظر الأحمدية أو الأحمدية أن تصبح دينا جديدا
وجود الأحمدية في المجتمع المسلم مثل الشوكة في الجسد، و هكذا موقف الأحمدية في إندونيسيا. وقد تم مجلس العلماء الإندونيسي إصدار الفتوى أن القاديانية أو الأحمدية هي فرقة ضالة ومضللة وخارجة عن الإسلام. ومع ذلك، حوالي خمسمائة ألف من أتباع الأحمدية قائلين أنهم ما زالوا جزءا من الإسلام. 
إن حياة الأحمدية و هذه الأمة [المسلمون] مثل في بيت واحد، وقمنا بالحفاظ على بيتنا و الرعاية عليه، و لكنهم [أتباع الأحمدية] قاموا بتدمير بيتنا، وبالتأكيد سيكون هناك دائما من الضوضاء. من الذي يخطئ؟ هكذا قاله مدير مركز البحوث والدراسات الإسلامية (LPPI) ، وهو محمد أمين جمال الدين خلال زيارته لصحيفة ريفوبليكا يوم الأربعاء، 13 أكتوبر 2010.
و قال محمد أمين جمال الدين و هو باحث عن الأحمدية منذ سنة 1968 أن الأحمدية تدمر تعاليم الإسلام وتنتهك حرمات القرآن الكريم، و بالإضافة إلى ذلك أن الأحمدية قد انتهكت القرار المشترك من ثلاثة الوزراء الذي تم إصداره في 9 يونيو سنة 2008. و من ضمن ذلك القرار: إعطاء الإنذار والأوامر إلى جميع أتباع الأحمدية لإيقاف جميع أنشطتهم التي لا توافق دين الإسلام، كالإعتقاد أن هناك نبي مرسل بعد نبينا محمد صلى الله عليه وسلم. وكذلك من ضمن ذلك القرار: الإنذار والأوامر إلى جميع أعضاء الأحمدية الذين لا يستجيبون هذا القرار أن القانون الإندونيسي سيعاقبهم. و كذلك وجد محمد أمين جمال الدين بعض الأدلة أن الأحمدية لا تزال تنشر تعاليمها من خلال توزيع الكتب والمجلات على المسلمين.
إن أتباع الأحمدية لا يطيعون قرار ثلاثة الوزراء الذي تم تحديده لهم، وهذا العصيان أو العناد يمكن رؤيته من التقارير التي وقع عليها والي كونينجان جاوى الغربية، هكذا قاله رئيس المكتب الإقليمي لوزارة الشؤون الدينية و رئيس مجلس العلماء الإندونيسي من قسم الفتاوى، وهو الكياهي الحاج معروف أمين.
ولا يمكن لنا تجنب التوترات بين المسلمين مع أتباع الأحمدية، وقد أشعل هذا التأخير أي تأخير الحكومة في معالجة هذه الفرقة الضالة يشعل غضب المسلمين في المنطقة التي يسكنها أتباع الأحمدية، و كذلك لم ترض الأمة الإسلامية أن الأحمدية تفسد و تنتهك التعاليم الإسلامية التي يحترمها كل مسلم. و لله الحمد، في 7 سبتمبر 2010 يؤكد وزير الشؤون الدينية و هو سوريادارما علي أن إغلاق أو حظر الأحمدية أفضل من أن تسمح الحكومة لهم بالبقاء و يقوم أتباع الأحمدية بأنشطتهم. و هناك خياران في هذا الوقت: بين السماح و الإغلاق أو الحظر. و لديهما مخاطر، هكذا قاله الوزير.
و إغلاق الأحمدية له أساسه، وأساسه القانوني هو القرار المشترك ثلاثة الوزراء وقانون رقم 1 سنة 1965، و الإغلاق أفضل بكثير من السماح أو البقاء، لأننا نسعى إلى إيقاف هذا الضلال المستمر. و كذلك طلب الوزير من أتباع الأحمدية أن ينشئوا دينا جديدا و عدم الإنتماء إلى الإسلام إذا كانوا مصرين في نشر و تطبيق عقيدة الأحمدية. و طلب الوزير من أتباع الأحمدية أن لايستخدموا الرموز الإسلامية مثل مسجد و القرآن الكريم وشعائر الإسلام الأخرى.
و لا يجوز لأحد أن يفسر الإسلام برأيه و هو يستدل بحجة حرية الدين. وفي عام 2005 طلب أعضاء مجلس العلماء الإندونيسي من أتباع الأحمدية العودة إلى تعاليم الإسلام الصحيح. و في البداية، يعتقد مجلس العلماء الإندونيسي أن أتباع الأحمدية يمكن تصحيحهم و إنقاذهم من الضلال إلى نور الإسلام. ولكننا نعتقد الآن أننا لا نقدر على تقويمهم و تعديلهم، و الحل لهذه المشكلة هو حظر الأحمدية، لأن الأحمدية قد انتهكت حرمات الإسلام، أو نشجع جميع أعضاء الأحمدية أن ينشئوا دينا جديدا واسمه دين الأحمدية أو أن تصبح الأحمدية مؤسسة غير الإسلامية. هكذا قاله الكياهي معروف أمين وهو كذلك عضو المجلس الاستشاري للرئيس. و قد حذر رئيس مجلس العلماء الإندونيسي في منطقة بوغور جاوى الغربية و هو الدكتور أحمد موكري أن موقف الأحمدية مثل القنبلة المؤقتة التي ستنفجر في أي وقت.
وكذلك طلب رئيس جمعية محمدية [الرئاسة المركزية] من الحكومة أن لا تتردد في حظر أو إغلاق الأحمدية، لأن بقاء الأحمدية سيؤدي دائما إلى الصراع، و على الحكومة أن لا تخاف من أي ضغط من الخارج أي من الدول الغربية، لأن جميع المنظمات الإسلامية على استعداد لدعم الحكومة في إصدار قرار في حظر الأحمدية. و وفقا لرئيس نهضة العلماء و هو يوسف أفندي سلاميت أنه يعتبر هذه الخطوة هي خطوة صحيحة و صوابة لأن الأحمدية هي الفرقة الموجودة في إندونيسيا منذ زمان، ونجد الصعوبة في إلغاءها أو حظرها. و قال أن موقف الأحمدية مثل الدمل، و ينبغي حل هذه المشكلة بسرعة وبدقة وينبغي أن لا يطول أمرها، و هناك خياران للأحمدية، إما الحل أو الإغلاق أو أن تصبح الأحمدية دينا جديدا و لا تنتمي إلى الإسلام. 

Qadiyaniyyat News in Arabic Version


أفسد السكان المحليون في لومبوك الغربية
بيوت أتباع الأحمدية
يوم الجمعة، 26 نوفمبر 2010

هناك مئات من السكان المحليين أفسدوا بيوت أتباع الأحمدية في قرية كيتافانج لومبوك الغربية نوسا تينجارا الغربية و كانت تلك البيوت مهجورة لا يسكنها أحد و أصحاب هذه البيوت قد انتقلوا إلى السكن تارسيطو في مدينة ماتارام.
و حصل هذا العنف أي عملية تدمير بيوت أتباع الأحمدية يوم الجمعة (26/11) حوالي الساعة 16:30 توقيت إندونيسيا الشرقية و ينطوي على الرجال والنساء والأطفال.  و رمى السكان المحليون باستخدام الأحجار زجاج النوافذ و سقوف البيوت و قام بعضهم بتدمير جدران البيوت باستخدام عتلة، و مئات من ضباط الشرطة من لومبوك الغربية  وأعضاء الجيوش لا يقدرون على تبديد هذا العنف الذي يبدو شرسة.
و رئيس رجال الشرطة منطقة لينجسار وهو سامنور الدين وكان موجودا في مكان الحادثة قد حاول لحث المواطنين أي السكان المحليين على عدم اتخاذ أي عمل فوضوي أي عنفي، ولكن قد تم تجاهل لهذا النداء من قبل السكان المحليين، فإنهم لا يزالون يخربون بيوت أتباع الأحمدية وعدد البيوت تقريبا 21 بيتا.  
وكان يستمر هذا العنف نحو 30 دقيقة، و أخيرا تم رجال الشرطة في حث السكان المحليين على العودة إلى بيوتهم، ومع ذلك، هدد السكان المحليون على إعادة هذه العملية أي عملية التدمير إذا كان الأحمديون لا يذهبون من قرية غيغيرونج.
        وقد وصل رئيس رجال الشرطة لومبوك الغربية وهو أجوس سوبريانتو في مكان الحادثة بعد رجوع السكان المحليين إلى بيوتهم، و قبل هذا أن والي لومبوك الغربية الحاج زيني آروني قد قال في المحاضرة التي أقيمت بعد صلاة الجمعة أمام زمرة الناس من سكان القرية غيغيرونج أنه قد أكد أن الأحمدية لا تنبغي لها أن تعيش في لومبوك الغربية. و يستقبل الحاضرون هذه المقولة بقولهم صراحة، "لقد تعبنا من الوعود من الحكومة لحل الأحمديين."
و حتى نزلت هذه الأخبار، أن الوضع هناك مازال مخيفا، و ضباط الشرطة من لومبوك الغربية  لايزالون واقفين لتجنب أي عمل جماعي آخر.