Tampilkan postingan dengan label Gafatar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gafatar. Tampilkan semua postingan

Kamis, 24 Maret 2022

Awas Gafatar

 

MATERI DI DALAM BUKU: TEOLOGI ABRAHAM;

MEMBANGUN KESATUAN IMAN YAHUDI, KRISTEN DAN ISLAM

TULISAN MAHFUL M. HAWARY YANG BERISI PENODAAN

Oleh : H. M. Amin Djamaluddin

Nama buku   

:

Teologi Abraham; Membangun Kesatuan Iman, Yahudi, Kristen dan Islam

Penulis

:

Mahful M Hawary

Penyunting

:

MY Daruwijaya, SH

Penerbit

:

Fajar Madani

Dwima Plaza I, 4th Floor suite 417 Jl. A. Yani Kav. 67 – Jakarta 10510

http://fajarmadani.co.cc

fajar.madani@yahoo.com  

Distributor

:

Didistribusikan oleh  Setjen KOMAR Tlp. (021) 2362 6164

Cetakan         

:

Cetakan I, Mei 2009

ISBN

:

 -                











Berikut ini, kami kutipkan beberapa tulisan Mahful M. Hawary di dalam bukunya Teologi Abraham yang kami anggap sebagai bentuk penodaan, yaitu :

 

  1. “Dari sinilah, banyak kelompok (minoritas) yang memahami bahwa masih terbukanya pintu seorang Nabi dan Rasul setelah Muhammad yang akan mengantarkan ummat dunia menuju kebangkitan Madinah al-Munawwarah jilid dua; Khilafah Islam.” (Teologi Abraham, hal. 133)

 

  1. ”Karenanya, Teologi Abraham adalah satu-satunya ilmu yang dapat digunakan di dalam menjembatani unifikasi iman anak-anak spiritual Abraham, baik dari kaum Yahudi, Nasrani, maupun Islam. Dari kerangka pikir tersebut, dapatlah dipahami mengapa Allah menyindir dengan pedas sikap mereka yang tak menerima Teologi Abraham (Millah Ibrahim). Dia menegaskan, hanya orang bodoh saja yang menolak Teologi Abraham sebagai pintu pemersatu anak-anak spiritual Abraham, yang pada saatnya nanti akan membangun perdamaian dunia.”  (Teologi Abraham, hal. 137)

 

  1. ”Saatnya hari ini, kaum Yahudi, Nasrani, dan Islam untuk duduk bersama mendialogkan hal-hal prinsipil yang memiliki akar teologi yang sama dengan cara mengembalikan akar sengketa teologisnya kepada sumber utamanya, yakni Teologi Abraham sebagai Pokok Anggur Allah. Membangun kesatuan teologi bagi para generasi iman Abraham (anak-anak spiritual Abraham), baik dari kaum Yahudi, Nasrani dan Islam, akan menjadi sumber utama bagi terciptanya perdamaian ummat beragama dari kedamaian insan dunia, yang turut memberi berkat dan kedamaian bagi keharmonisan seluruh mahluk di alam semesta.” (Teologi Abraham, hal. 138)

 

Rabu, 07 Desember 2016

Mewaspadai GAFATAR

PENGANTAR PENERBIT
Segala puji bagi Allah SWT, Tuhan alam semesta. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad r, keluarga dan semua shahabatnya.
Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam (LPPI) telah lama mengamati tersebarnya ajaran sesat dan menyimpang dari Islam di tengah-tengah muslimin Indonesia. Hakikat ajaran yang sesat dan menyimpang dari Islam ini, biasanya selalu terindikasi berupaya untuk menghancurkan Islam, menyimpangkan tafsir Al-Qur`an, pelecehan terhadap Rasulullah Saw dan para shahabat beliau r dan lain-lainnya.
Di antara yang LPPI kaji adalah aliran yang bernama Gafatar (Gerakan Fajar Nusantara) yang merupakan reinkarnasi dari aliran sesat Al-Qiyadah Al-Islamiyyah yang kemudian berganti nama menjadi Komunitas Millah Abraham (KOMAR) dan terakhir menjadi Gafatar.
Melihat fenomena di masyarakat, LPPI berinisiatif untuk menerbitkan sebuah buku yang akan menyingkap inti dari ajaran yang dibawa oleh Gafatar ini dengan judul “Awas Bahaya Gafatar; Pemurtadan Sistematis Terhadap Umat Islam.”  
Untuk itu, mudah-mudahan persembahan dari LPPI ini memberikan manfaat yang besar bagi seluruh kaum muslimin di Indonesia yang terkena dampak negatif dari aliran Gafatar ini.
Semoga Allah I memberikan petunjuk jalan yang benar kepada kita dan meneguhkan kita semua di atas agama-Nya hingga akhir hayat. Amien.

Jakarta, April 2016

Wassalam,
LPPI - JAKARTA

Selasa, 22 Maret 2016

Buku Gafatar akan Segera Terbit


MEWASPADAI GAFATAR 
(GERAKAN PEMURTADAN TERHADAP UMAT ISLAM)
Oleh LPPI

Gafatar merupakan singkatan dari Gerakan Fajar Nusantara. Sebelumnya, gerakan ini bernama Komunitas Millah Abraham yang pada awalnya bernama Al-Qiyadah Al-Islamiyyah.[1] Awal mula berdirinya aliran Al-Qiyadah Al-Islamiyyah ini adalah setelah Ahmad Moshaddeq bertahanuts di Gunung Bunder Bogor, dia mengaku menerima wahyu yaitu berupa mimpi yang berulang beberapa malam sehingga mendorong dirinya untuk memproklamirkan diri sebagai nabi baru dari Indonesia dengan mendirikan jemaat yang bernama Al-Qiyadah Al-Islamiyyah dengan syahadat barunya, yaitu “aku bersaksi bahwasanya Al-Masih Al-Maw’ud (Ahmad Moshaddeq) adalah utusan Allah.”[2] Akan tetapi, perjalanan Al-Qiyadah Al-Islamiyyah ini tidak berjalan mulus, karena para ulama segera melakukan pencegahan. Akhirnya, setelah buku-buku panduan Al-Qiyadah Al-Islamiyyah ini dikaji dan diteliti oleh MUI, maka MUI pun memvonisnya sesat. Setelah itu, masalah Al-Qiyadah Al-Islamiyyah ini segera dibawa ke ranah hukum dan Ahmad Moshaddeq ditangkap dan divonis oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan setelah menyerahkan diri ke Polda Metro Jaya pada 29 Oktober 2007 dan divonis pada 23 April 2008 dengan hukuman penjara 4 (empat) tahun karena melanggar UU No.1/PNPS/1965 tentang penodaan agama.
            Pada saat Ahmad Moshaddeq menjalani hukum kurungan, ternyata para pengikutnya melakukan rapat pada tanggal 12 September 2009, yaitu DPP KOMAR melakukan Rapat Kerja Pengurus Lengkap yang semua kegiatan rapat tersebut dituliskan dalam bentuk buku kecil, tepatnya di Jl. Raya Puncak km 79 Cisarua Bogor Jawa Barat. Isi rapat tersebut menyatakan bahwa dari Al-Qiyadah Al-Islamiyyah berubah menjadi Komunitas Millah Abraham.[3] Dengan demikian, mereka bisa tetap bergerak dan mengembangkan fahamnya di seluruh Indonesia. Mereka hanya merubah namanya saja, akan tetapi ajarannya masih tetap sesat, karena mengikuti ajaran “nabi” Ahmad Moshaddeq.
            Ajaran Komar ini banyak berkembang di wilayah NAD (Nanggroe Aceh Darussalam). Masyarakat Aceh menjadi resah sebab ajaran Komar ini banyak yang bertentangan dengan Islam. Alhamdulillah, setelah MPU meneliti dan mengkaji buku-buku Millah Abraham[4] ini, akhirnya Gubernur Aceh mengeluarkan SK yang berisi larangan untuk Millah Abraham di seluruh wilayah Aceh dengan SK Gubernur Aceh No. 9 tahun 2011 yang berisi larangan untuk Millah Abraham di seluruh Aceh yang ditanda tangani pada 6 April 2011.
Setelah dilarang di Aceh, akhirnya mereka berganti nama (baju) lagi dari Millah Abraham menjadi Gafatar (Gerakan Fajar Nusantara). Gafatar ini didirikan pada tanggal 14 Agustus 2011 dan dideklarasikan pada tanggal 21 Januari 2012 di gedung JIEXPO Kemayoran Jakarta Pusat dengan Ketua Umumnya Mahful Muis Tumanurung (mengaku sebagai lulusan UIN Ciputat) dan Wakil Ketua Umumnya Ir. Wahyu Sanjaya. Dengan nama baru ini, mereka melakukan kegiatan sosial di mana-mana seperti baksos, kerja bakti, donor darah dll di seluruh Indonesia.
Inti dari gerakan Gafatar ini adalah usaha untuk menyatukan tiga agama, yaitu Islam, Kristen dan Yahudi. Mereka mengatakan bahwa seluruh agama yang tiga ini adalah dijamin masuk surga dan merupakan agama yang benar karena bersumber dari satu orang nabi, yaitu Nabi Ibrahim AS.
Padahal di dalam Al-Qur`an dinyatakan bahwa hanya Islam lah satu-satunya agama yang diridhai oleh Allah SWT, karena ajaran Islam masih murni dan tidak tercampuri oleh ajaran manusia. Allah SWT berfirman,
“Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam,” (QS Ali Imran [03]: 19). Sedangkan ajaran Taurat dan Injil sudah tercemar oleh kebatilan. Bagaimana mungkin bisa disejajarkan dengan Islam.[5]
Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada Rakernas MUI Desember 2007 telah menetapkan 10 (sepuluh) Kriteria Aliran Sesat sebagai berikut :[6]

Selasa, 24 Februari 2015

PROSES LAHIRNYA GAFATAR (GERAKAN FAJAR NUSANTARA)


 
PROSES LAHIRNYA GAFATAR (GERAKAN FAJAR NUSANTARA)
Oleh M. Amin Djamaluddin




Gafatar adalah nama (baju) baru dari Al-Qiyadah Al-Islamiyyah dan Komar (Komunitas Millah Abraham), setelah “nabi” Ahmad Moshaddeq ditangkap dan divonis oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (menyerahkan diri ke Polda Metro Jaya pada 29 Oktober 2007 dan divonis pada 23 April 2008) dengan hukuman penjara 4 (empat) tahun.
Dalam rapat Pengurus lengkap, pada Sabtu 12 September 2009 di Jalan Raya Puncak KM 79 Cisarua Bogor Jawa Barat, dalam pengarahan Ketuanya pada saat itu antara lain mengatakan,
“12 September 2009 ini adalah sebuah saah baru, sejarah baru dan catatlah peristiwa ini baik-baik.” (hal. 16)
“Suatu hal yang perlu kita cerdasi, Allah bukanlah orang Arab dan Dia (Allah) sangat mengerti apabila manusia beribadah kepada-Nya menggunakan bahasa apa pun yang digunakannya. Ini merupakan sebuah aqiedah bersejarah yang aku ungkapkan kepada kalian, pada tanggal 12 September 2009 bersejarah ini. Ini merupakan suatu yang baru dari Alqi (Al-Qiyadah Al-Islamiyyah, pen) kita bergeser menuju Millah Abraham. Kalau nanti orang mempermasalahkan nama yang kamu gunakan, maka katakanlah kepada mereka, kamu adalah Komunitas Millah Abraham.” (hal. 17).
“Pada masa transisi, penyesuaian merupakan suatu yang logis. Dengan adanya peralihan dari Alqi (Al-Qiyadah Al-Islamiyyah, pen) kepada Komunitas Millah Abraham, tentu saja perlu penyesuaian, perlu perubahan struktur.” (hal. 22) (copy terlampir).
            Dengan mereka berganti nama (baju) dari Al-Qiyadah Al-Islamiyyah menjadi Millah Abraham, akhirnya mereka bisa leluasa dan bebas mengembangkan organisasinya di seluruh Indonesia. Mereka hanya merubah namanya saja, akan tetapi ajarannnya masih tetap sesat, karena mengikuti ajaran ”nabi” Ahmad Moshaddeq.
            Alhamdulillah, Gubernur Aceh telah mengeluarkan SK yang berisi larangan untuk Millah Abraham di seluruh wilayah Aceh dengan SK Gubernur Aceh No. 9 tahun 2011, pada Kamis 26 April 2012. Akhirnya mereka berganti nama (baju) lagi dari Millah Abraham menjadi Gafatar (Gerakan Fajar Nusantara). Dengan nama baru ini, mereka melakukan kegiatan sosial di mana-mana di seluruh Indonesia.
            Kemudian, pada hari Kamis, 7 Juni 2012, koran Radar Depok memuat wawancara jarak jauh dengan penulis, (pada saat itu, penulis sedang pulang kampung ke Udik Bima, NTB). Penulis tidak bisa mendengar suara wartawan Radar Depok tersebut, karena suara Hpnya terputus-putus. Wartawan Radar Depok bertanya kepada penulis tentang Gafatar yang kegiatannya luar biasa di Depok. Penulis jawab bahwasanya Gafatar itu pada intinya masih tetap mengikuti ajaran yang bersumber dari Ahmad Moshaddeq. Perlu diketahui bahwasanya Ahmad Moshaddeq ini berasal dari Pesantren Al-Zaytun NII KW-9, Al-Qiyadah Al-Islamiyyah dan juga Millah Abraham. Wawancara antara penulis dengan wartawan Radar Depok via telepon ini, dimuat oleh Radar Depok pada hari Jumat, 8 Juni 2012.
            Setelah Radar Depok menurunkan berita hasil wawancara dengan penulis tersebut, akhirnya beberapa pimpinan Gafatar mendatangi redaksi koran Radar Depok dan mereka memprotes keras berita tersebut. Maka pada saat itu pula, wartawan Radar Depok menelepon penulis, dan penulis jawab bahwa penulis masih di kampung, belum pulang ke Jakarta.
            Setelah penulis tiba di Jakarta, maka pada Senin 11 Juni 2012, datanglah beberapa orang pengurus Gafatar ke kantor LPPI di Jalan Tambak No. 20B Jakarta Pusat. Di Kantor LPPI, Ketua Dewan Pimpinan Daerah Gafatar Jawa Barat, Ir. La Ode Arsam Tira protes dan marah-marah kepada penulis. Penulis hanya mendengarkan dan diam saja saat Ir. Laode marah-marah tersebut.
            Setelah kemarahan Ir. Laode mereda, maka penulis mengambil buku-buku asli tulisan Ahmad Moshaddeq dan buku tulisan Ketua Umum Gafatar, Mahful Muis Hawari dan penulis perlihatkan buku-buku tersebut kepada mereka semuanya.
  1. Buku tulisan Ketua Umum Gafatar, Mahful Muis Hawari yang berjudul Teologi Abraham Membangun Kesatuan Iman, Yahudi, Kristen dan Islam. Penulis menilai bahwa buku ini merupakan missi Yahudi untuk menghancurkan Islam dari dalam.
  2. Buku tulisan Ahmad Moshaddeq yang berjudul Eksistensi dan Konsekuensi Sebuah Kesaksian. Editor Mahful Muis, S.Ag, M.A. Di dalam buku tersebut terdapat tulisan Ahmad Moshaddeq dan juga tulisan Mahful Muis, S.Ag, M.A.
  3. Buku tulisan Ahmad Moshaddeq yang berjudul Al Masih Al Maw’ud & Ruhul Qudus Dalam Perspektif Taurat, Injil & Al-Qur`an.  
  4. Buku dengan judul Ruhul Qudus yang Turun Kepada Al Masih Al Maw’ud. Di dalam buku tersebut, pada hal. 191, 192 hampir seluruh Pengurus Gafatar telah berbai’at kepada ”nabi” Ahmad Moshaddeq.
Buku yang ke-4 ini hanya copyannya saja, karena buku yang asli sudah disita oleh Polda Metro Jaya sebagai bukti penodaan agama, sewaktu penulis melaporkan Ahmad Moshaddeq di Polda Metro Jaya tahun 2007, delapan tahun yang lalu, sehingga divonis 4 (empat) tahun penjara.

Setelah mereka melihat buku-buku asli tersebut, terutama buku tulisan Ketua Umumnya, alangkah kagetnya mereka. Penulis berkata kepada Ir. La Ode, “Buku tulisan Ketua Umum Gafatar ini berisi misi Yahudi, yaitu untuk menyesatkan ummat Islam, sama dengan misinya Millah Abraham!”
Penulis juga memperlihatkan kepada mereka Susunan Pengurus Gafatar lengkap dengan foto-foto mereka dengan latar foto berwarna orange serta nomor urut bai’at mereka kepada Ahmad Moshaddeq.
Setelah penulis memperlihatkan buku-buku asli tersebut kepada mereka, termasuk buku tulisan Ketua Umum Gafatar dan buku tulisan Ahmad Moshaddeq tersebut, maka Ir. La Ode yang tadinya marah-marah kepada penulis, akhirnya dia berkata kepada penulis, ”Pak Amin ini orang tua kita, tempat kita bertanya berbagai masalah agama,” sambil memegang bahu penulis. Kemudian setelah itu, mereka pun pulang. (copy kartu namanya terlampir).

Jakarta, 11 Januari 2015
           Penulis,



M. Amin Djamaluddin
    (Pimpinan LPPI)



  


Visi dan Misi Gafatar


PRAKATA
Segala Puji hanya milik Tuhan Yang Maha Esa, Pencipta alam semesta, Raja langit dan bumi, yang telah menunjuki jalan kebenaran dan menguatkan kita dalam menapaki jalan kemuliaan, jalan perubahan menuju kemerdekaan dan kedamaian sejati. Sebuah jalan yang dirindukan oleh setiap diri di muka bumi. Jalan Kebenaran yang tidak dapat dipungkiri oleh makhluk apapun di muka bumi. Hanya dengan berjalan pada Jalan Kebenaran, maka setiap makhluk dapat hidup secara seimbang, teratur, dan saling melayani.

Jalan kebenaran ini dapat menjadi pintu bagi untaian keharmonisan hidup bagi setiap insan di alam raya, termasuk kita yang berdiam di bangsa Nusantara ini. Untaian keharmonisan ini menjadi cita-cita ideal pada setiap era peradaban. Walau terbangun atas beragam suku, bahasa, adat istiadat, dan keyakinan, namun keberagaman itu diharapkan akan memperkaya aset bangsa untuk menjadi kekuatan integral bagi Ibu Pertiwi. Setiap diri mendambakan untuk hidup dalam tatanan masyarakat heterogen yang rukun, saling menghormati, tepo seliro, adil, sejahtera, arif dan bijaksana.

Kamis, 12 Februari 2015

Dianggap Mengajarkan Aliran Tidak Sesuai Kaidah Agama (Gafatar Sesat)

KWANDANG – Kurang lebih 30 orang yang tergabung dalam Gerakan Fajar Nusantara (GAFATAR) pada Selasa (27/1) kemarin diusir oleh masyarakat Desa Ombulodata Kecamatan Kwandang. Berdasarkan penuturan dari beberapa warga yang ditemui awak media ini, di ruas jalan Trans Sulawesi sekitar 200 meter dari Pertamina Kwandang, tepatnya di pertigaan menuju Desa Ombulodata, tindakan pengusiran yang dilakukan oleh masyarakat tersebut atas kesadaran dan keinginan mereka sendiri.


Pantauan Gorontalo Post, sekitar pukul 10.30 Wita puluhan masyarakat berkerumunan di wilayah Desa Ombulodata. Saat ditanyakan, secara spontan warga menjawab baru saja mengusir sekitar 30-an orang yang masuk dalam anggota GAFATAR yang akan melakukan kegiatan di desa tersebut.

Visi Misi Gafatar

PRAKATA
Segala Puji hanya milik Tuhan Yang Maha Esa, Pencipta alam semesta, Raja langit dan bumi, yang telah menunjuki jalan kebenaran dan menguatkan kita dalam menapaki jalan kemuliaan, jalan perubahan menuju kemerdekaan dan kedamaian sejati. Sebuah jalan yang dirindukan oleh setiap diri di muka bumi. Jalan Kebenaran yang tidak dapat dipungkiri oleh makhluk apapun di muka bumi. Hanya dengan berjalan pada Jalan Kebenaran, maka setiap makhluk dapat hidup secara seimbang, teratur, dan saling melayani.



Jalan kebenaran ini dapat menjadi pintu bagi untaian keharmonisan hidup bagi setiap insan di alam raya, termasuk kita yang berdiam di bangsa Nusantara ini. Untaian keharmonisan ini menjadi cita-cita ideal pada setiap era peradaban. Walau terbangun atas beragam suku, bahasa, adat istiadat, dan keyakinan, namun keberagaman itu diharapkan akan memperkaya aset bangsa untuk menjadi kekuatan integral bagi Ibu Pertiwi. Setiap diri mendambakan untuk hidup dalam tatanan masyarakat heterogen yang rukun, saling menghormati, tepo seliro, adil, sejahtera, arif dan bijaksana.

Rabu, 11 Februari 2015

Al Qiyadah Al Islamiyyah Sekarang Gafatar


 AL QIYADAH  AL ISLAMIYAH
Oleh : M. Amin Djamaluddin




I.      Pendiri: AHMAD MOSHADDEQ

Jabatan : Rasulullah Al Masih Al Mau’ud, sebagai pengganti Rasulullah Muhammad SAW yang sudah berakhir masanya.
Dia diangkat menjadi “rasul Al Masih Al Mau’ud” pada tanggal 23 Juli 2006 setelah dia bertapa di Gunung Bunder - Bogor selama 40 hari 40 malam. Dia mengaku diangkat menjadi “rasul“ pas di hari yang keempat puluh dari hari pertapaannya itu.
Dalam bukunya yang berjudul “Ruhul Qudus Yang Turun Kepada Al Masih Al Maw’ud”, halaman 178-191 dijelaskan sbb.:

10. Mimpi Al Masih Al Mau’ud

Kajian Singkat Komar

Poin-poin Penyimpangan Buku Kewajiban Menghormati Hari “Ketujuh” [Sabath]
Diterbitkan oleh Komunitas Millah Abraham
Oleh M. Amin Djamaluddin


Di dalam buku tersebut disinyalir mengandung banyak penyimpangan, di antaranya :

  1. KOMAR (Komunitas Millah Abraham) menerjemahkan kata al-jumu’ah di dalam Al-Qur`an bukan sebagai hari Jum’at seperti yang kita ketahui, akan tetapi diterjemahkan sebagai ”hari berkumpul.” Sehingga KOMAR menerjemahkan ayat panggilan ibadah Jum’at sebagai berikut, ”Wahai orang-orang yang beriman apabila diseru untuk menunaikan sholat pada hari berkumpul.” (hal. 132).

Gafatar Memang Sesat!

Gafatar: Aliran Sesat Merambah SMA

Ahad, 6 Rajab 1433, atau bertepatan tanggal 27 Mei 2012, di mesjid kampus Universitas Hasanuddin lantai 1, dua orang siswi SMA mengadukan keresahan mereka akan sebuah organsasi sosial: GAFATAR (Gerakan Fajar Nusantara).


 Dalam buku profil resmi yang diterbitkan gafatar, tercantum visi mereka sebagai berikut:
Terwujudnya tata kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara yang damai sejahtera, beradab, berkeadilan, dan bermartabat di bawah naungan Tuhan yang Maha Esa melalui penyatuan nilai-nilai luhur bangsa, peningkatan kualitas ilmu dan intelektualitas, serta pemahaman dan pengamalan nilai-nilai universal agar menjadi rahmat bagi semesta alam.
Untuk mencapai visi itu, mereka mencanangkan misi:

Rabu, 04 Februari 2015

PROSES LAHIRNYA GAFATAR (GERAKAN FAJAR NUSANTARA/DULU Al-QIYADAH AL-ISLAMIYYAH)

PROSES LAHIRNYA GAFATAR (GERAKAN FAJAR NUSANTARA)
Oleh M. Amin Djamaluddin

Gafatar adalah nama (baju) baru dari Al-Qiyadah Al-Islamiyyah dan Komar (Komunitas Millah Abraham), setelah “nabi” Ahmad Moshaddeq ditangkap dan divonis oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (menyerahkan diri ke Polda Metro Jaya pada 29 Oktober 2007 dan divonis pada 23 April 2008) dengan hukuman penjara 4 (empat) tahun.


Dalam rapat Pengurus lengkap, pada Sabtu 12 September 2009 di Jalan Raya Puncak KM 79 Cisarua Bogor Jawa Barat, dalam pengarahan Ketuanya pada saat itu antara lain mengatakan,
“12 September 2009 ini adalah sebuah saah baru, sejarah baru dan catatlah peristiwa ini baik-baik.” (hal. 16)