BAHAI HIDUP KEMBALI DI KURDISTAN IRAK
Oleh DR. Fursat
Mar’ie
(diterjemahkan oleh Dudung Ramdani, Lc dari Majalah Al-Mujtama edisi nomer 2058, 22-28 Juni 2013 Tahun ke-44, hal. 34-38, semoga Alloh SWT merahmatinya dan kedua orangtuanya, alloohumma aamiin)
Bahai adalah sebuah gerakan kebatinan yang muncul di Iran, yang berasal dari Syiah sekte Dua Belas Imam, yang merupakan penerus dari gerakan kebatinan yang muncul di Iran sebelumnya: Seperti sekte Syaikhiyyah, Kasyafiyyah dan Babiyyah, dengan dukungan dari Rusia pada awal kemunculannya, kolonial Inggris, dan Yahudi di kemudian harinya dengan tujuan untuk merusak agama Islam, memecah belah persatuan umat Islam dan mengalihkan mereka dari prinsip-prinsip dasar (aqidah) Islam.
Bahai ini berhubungan erat dengan wilayah Kurdistan di Iraq, seperti yang akan kami terangkan di dalam penjelasan sejarah ini, yaitu ketika Bahai berusaha untuk kembali ke wilayah Kurdistan untuk yang kedua kalinya dengan memanfaatkan dari kondisi perpolitikan yang tidak menguntungkan (tidak kondusif/kacau balau).
Bahai didirikan oleh Mirza Husain
Ali Al-Mazindrani yang bergelar Bahaullah yang lahir pada tahun 1817 M.
Orangtuanya merupakan tuan tanah. Mirza Husain ini sering membaca buku-buku
Tasawuf dan buku-buku sekte Syaikhiyyah dan juga ajaran Ibnu Arabi, Abdulkarim
Al-Jiliy dan juga para penyair senior Persia . Mirza Husain percaya kepada
ajaran kesatuan agama dan wihdatul wujud (ajaran yang menyatakan
bahwasanya Allah SWT bisa bersatu dengan makhluk-Nya, penerj) yang akhirnya
pencetus ajaran wihdatul wujud ini berkata bahwa semua kewajiban ibadah
bisa runtuh karenanya (setelah terjadi wihdatul wujud maka tidak wajib
menjalan syariat agama, penerj) dan juga bisa menghilangkan syiar-syiar agama. Kemudian
Al-Baha mulai mengumumkan dakwahnya di sebuah kebun yang bernama As-Saray
(Kebun Keridhaan) di Baghdad pada tahun 1863.
