Selasa, 22 Maret 2022
Kamis, 17 Maret 2022
DOSA MEMBUNUH SEORANG MUSLIM SANGAT BESAR
DIBUNUH
HANYA KARENA SEORANG MUSLIM
Bagaimana perbuatan buruk yang membunuh
warga sipil secara brutal untuk mewujudkan tujuan-tujuan keji mereka dianggap
sebagai cara untuk menciptakan perdamaian dan keselamatan? Mereka terlibat
dalam pembunuhan licik ribuan muslim tak bersenjata melalui aktivitas
terorisme; tapi walau bagaimana pun, Rasûlullâh r
telah menyatakan bahwa membunuh muslim dosanya lebih besar dari menghancurkan
dunia ini.
‘Abdu Allâh bin ‘Amr RA berkata bahwa
Rasûlullâh SAW bersabda,
لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى
اللهِ مِنْ قَتْلِ رَجُلٍ مُسْلِمٍ.
“Hancurnya dunia ini lebih ringan menurut Allâh daripada
membunuh seorang muslim.”[1]
‘Abdu Allâh bin Buraidah RA berkata
bahwsanya Rasûlullâh SAW bersabda,
قَتْلُ الْمُؤْمِنِ أَعْظَمُ عِنْدَ
اللهِ مِنْ زَوَالِ الدُّنْيَا.
“Membunuh seorang mu`min itu lebih besar (dosanya) di sisi
Allâh SWT daripada hancurnya dunia ini.”[2]
Riwayat lain menegaskan bahwa membunuh
muslim tanpa landasan hukum apapun (bighair al-haq), merupakan
tragedi yang lebih serius daripada robohnya alam semesta. Al-Barrâ bin Al-‘Âzib
RA berkata bahwasanya Rasûlullâh SAW bersabda,
لَزَوَالُ الدُّنْيَا جَمِيْعًا
أَهْوَنُ عَلَى اللهِ مِنْ سَفْكِ دَمٍ بِغَيْرِ حَقٍّ.
“Hancurnya seluruh dunia ini lebih ringan menurut pandangan
Allâh SWT daripada mengucurkan darah dengan tidak benar (tanpa haq).”[3]
Hukuman yang hina bagi para pembunuh
yang dengan sengaja membunuh seorang mu`min dapat difahami dari ayat ketika
Allâh SWT menyebutkan rantaian hukuman bagi pendosa dengan redaksi seperti, kekal
di neraka Jahannam, mendapat murka Allâh SWT, mendapat laknat
Allâh SWT, berikut yang lainnya yaitu siksaan yang pedih. Allâh SWT
berfirman,
ﮓﮔﮕﮖﮗﮘﮙﮚﮛﮜﮝﮞ ﮠﮡﮢﮣ
“Dan barangsiapa
membunuh seorang yang beriman dengan sengaja, maka balasannya ialah neraka
Jahannam, dia kekal di dalamnya. Allâh SWT murka kepadanya, dan melaknatnya
serta menyediakan adzab yang besar
baginya.”[4]
Sejarah A. Hassan Mempunyai Buku-buku Ahmadiyah
SEJARAH A. HASSAN
MEMPUNYAI
KITAB-KITAB AHMADIYAH
Oleh : M. Amin
Djamaluddin
Bapak
M. Natsir (alloohu yarham) pernah bercerita kepada saya, bagaimana A.
Hassan (alloohu yarham) mendapatkan buku-buku Ahmadiyah.
Pada
suatu hari, Presiden
Setelah Presiden
Soekarno dan rombongan selesai bersilaturahim dengan A. Hassan di rumahnya,
sebelum Presiden Soekarno dan rombongan pergi menuju hotel, pada saat itu Presiden
Soekarno bertanya kepada A. Hassan. “Tuan Hassan, perlu bantuan apa dari saya?”
mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Presiden Soekarno, maka A. Hassan pun menjawab,
“Saya minta Duta Besar
Pada saat itu,
A. Hassan membahas masalah Ahmadiyah termasuk buku-buku Ahmadiyah dengan Duta
Besar
Setelah
bermalam di rumah A. Hassan, Duta Besar
Setelah
Presiden Soekarno membaca tulisan A. Hassan tersebut yang isinya permintaan
untuk dicarikan buku-buku Ahmadiyah di India, maka Presiden Soekarno langsung meminta
Duta Besar India untuk segera pulang ke negaranya dan membelikan semua
buku-buku Ahmadiyah yang diperlukan oleh A. Hassan tersebut.
Tidak
berapa lama, Duta Besar
Setelah Duta
Besar
Memang, jika ada
waktu senggang, Pak Natsir (alloohu yarham) suka bercerita banyak hal kepada
saya. Termasuk sejarah ini.
Wassalam,
M. Amin Djamaluddin
Rabu, 16 Maret 2022
Ketika Ahmadiyah Keluar dari Pakistan
AHMADIYAH TERUSIR KE LUAR PAKISTAN
Antara Pakistan dan Ahmadiyah
NEGARA PAKISTAN DAN AHMADIYAH
Ketika
negara Pakistan merdeka pada tahun 1947 M, Mirza Mahmud selaku pemimpin
tertinggi di dalam aliran Ahmadiyah ini pergi dari Qadiyan (India) ke Pakistan.
Sedangkan al-Moodi, penguasa pertama Inggris telah menjanjikan tanah di
Menghadapi masalah ini, Amir
Syariah yaitu Sayyid Athaullah Syah al-Bukhari segera mengutus singa Islam,
yaitu Syaikh Ghulam Ghauts al-Hazarwi dan pejuang Islam Syaikh Muhammad Ali
al-Jalandahri untuk menemui Syaikh Abul Hasanat al-Qadiri, pimpinan sekolah
al-Barilawiyyah. Maka terjadilah kesepakatan antara al-Barilawiyyah, Deobandiyah,
Ahlul Hadits dan Syiah untuk menggerakkan rakyat melawan Ahmadiyah. Di kemudian
hari, pada tahun 1953, pergerakan ini dikenal dengan nama Khatmun Nubuwwah.
Seluruh alumni Darul Ulum Deoband telah berperan sebagai para pejuang di dalam
pergerakan ini. Pergerakan ini telah mampu menahan laju pergerakan kuda liar Ahmadiyah.
Akhirnya Zhafrullah (yang terlaknat) tidak bisa menjadi menteri kembali.
Sehingga kekuatan Ahmadiyah porak poranda dan Ahmadiyah berjalan di muka bumi
Awal Mula Fatwa Sesat terhadap Ahmadiyah
(Sumber : Kitab Miratul Qadiyaniyyah)
Disebutkan ketika perjuangan
Mirza Ghulam Ahmad mulai berkembang sedikit demi sedikit. Akhirnya dia pun
merantau ke sebuah kota yang bernama Ludhiana pada tahun 1301 H./1884 M. Di
Ludhiana, Syaikh Muhammad al-Ladhyani dan Syaikh Abdullah al-Ladhyanawi dan
Syaikh Muhammad Ismail al-Ladhyanawi rahimahumullah mengeluarkan sebuah
fatwa bahwasanya Mirza Ghulam Ahmad itu bukan seorang mujaddid
(pembaharu), tapi justru dia adalah seorang zindiq (ateis) dan orang
sesat. (Fatawa Qadiriyah hal. 3).
Merupakan karunia
dari Allah SWT bahwasanya
Allah SWT telah memberikan taufiq kepada para ulama Deobandi untuk mengafirkan
Mirza Ghulam Ahmad. Orang yang pertama kali mengeluarkan fatwa kafir tersebut
adalah Syaikh Muhammad al-Ladhyanawi yaitu kakek dari Syaikh Habiburrahman
al-Ladhyanawi yang dikenal dengan pimpinan Gerakan Pembebasan. Fatwa
dari para ulama ini seperti melempar sebuah batu ke dalam air yang tergenang
(air yang tidak mengalir), maka percikannya menciprat dan keadaan pun menjadi
berubah. Maka mulailah orang-orang ikut serta ke dalam perjuangan ini pada
zaman Syaikh Muhammad Husain al-Batalawi yang setuju terhadap
pemikiran-pemikiran Mirza Ghulam Ahmad. Tapi kemudian, Syaikh Muhammad Husain
al-Batalawi mengeluarkan fatwa kufur terhadap Mirza Ghulam Ahmad pada tahun
1890 M. Maka Mirza Ghulam Ahmad membalasnya dengan menyebar luaskan
majalah-majalah dan buku-bukunya dengan bantuan Inggris.
(1) Mirza Ghulam Ahmad (dicap) telah murtad, zindiq (atheis), sesat dan kafir.
(2) Islam melarang umatnya bermuamalah dengan para pengikut Mirza Ghulam Ahmad. Kaum muslimin pun dilarang mengucapkan salam kepada mereka. Tidak boleh berbesanan dengan mereka; tidak boleh memakan sembelihan mereka dan harus menjauhi mereka sebagaimana harus menjauhi Yahudi, orang-orang Hindu dan orang-orang Nashrani.
(3) Shalat di belakang orang-orang Ahmadiyah adalah seperti shalat di belakang orang-orang Yahudi, Nashrani dan orang-orang Hindu.
(4) Orang-orang Ahmadiyah tidak diperbolehkan masuk ke dalam masjid kaum muslimin. Mereka tidak boleh melaksanakan (ritual) ibadah mereka di dalam masjid kaum muslimin sebagaimana terlarang bagi orang-orang Hindu.
(5)
Mirza Ghulam Ahmad adalah penduduk
Qadiyan (sebelah utara
Fatwa ini ditandatangani oleh beberapa orang para ulama dari India seperti Syaikh Mahmud al-Hasan al-Deobandi, Syaikh Mufti Muhammad Hasan, Syaikh Sayyid Muhammad Anwar Syah al-Kasymiri, Syaikh Sayyid Murtadha Hasan al-Sanidfuri, Syaikh Abdussami, Syaikh Mufti Azizurrahman al-Deobandi, Syaikh Muhammad Ibrahim al-Balyawi, Syaikh al-Adab I’zaz Ali al-Deobandi, Syaikh Habiburrahman dan para ulama lainnya yang mempunyai hubungan dengan Deobandi, Saharnafur, Dahla, Calcuta, Dakka, Pesyawar, Rampur, Rawalbandi, Huzarah, Murad Abad, Wazir Abad, Multan, Mayan Wali dan lain-lainnya. Dengan ini semua, Anda bisa mengukur seberapa ketelitian dan kekuatan fatwa ini. Tidak ada jalan lagi bagi orang-orang yang ingin menambah-nambah fatwa ini setelah tabir kekufuran Ahmadiyah terkuak dalam rentang waktu seratus tahun. Para ulama senior telah menyusun fatwa yang sangat teliti ini setelah memikirkan dan memahaminya matang-matang. Fatwa ini mencakup semua bagian dan tidak ada yang kurang sedikit pun, walaupun sudah berjalan seratus tahun lebih. Kemudian keluarlah sebuah fatwa dari Dar Ulum Deobandi tahun 1332 Hijriyah di bawah bimbingan Syaikh Mufti Azizurrahman mengenai haramnya berbesanan dengan orang-orang Ahmadiyah. Fatwa ini ditandatangani oleh Syaikh Sayyid Ashgar Husain dan Syaikh Rasul Khan, Syaikh Muhammad Idris al-Kandahlawi, Syaikh Jul Muhammad Khan dari Deobandi, Syaikh Inayat Ali al-Saharnafuri rektor Universitas Mazhahirul Ulum, Syaikh Khalil Ahmad al-Saharnafuri, Syaikh Abdurrahman al-Kamalfuri, Syaikh Abdullathif, Syaikh Badar Alim al-Mirati, Syaikh Syah Abdurrahim, Syaikh Hakimul Ummah Muhammad Asyraf Ali al-Tanawi, Syaikh Syah Abdurrahim, Syaikh Syah Abdulqadir dari Rayifur, Syaikh al-Mufti Kifayatullah al-Dihlawi dan para ulama lain dari Kalkuta, Binaris, Walkanu, Agharuh, Muard Abad, Lahore, Amratsari, Ludhiana, Pesyawar, Rowalbandi, Multan, Husyayarfuri, Ghurdasafur, Jahlum, Siyalkut, Ghujranawala, Haidar Abad, Dakan, Bufala, dan Rampur. Demikian pula fatwa ini ditandatangani oleh sejumlah para ulama yang mulia dan fatwa ini disebut Fatwa Pengkafiran Ahmadiyah dan dicetak oleh Percetakan al-I’zaziyyah di Deoband.
Kamis, 10 Maret 2022
HITAM DI BALIK PUTIH; BUKU BANTAHAN ATAS BUKU PUTIH MAZHAB SYIAH
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah SWT yang
telah memberikan rahmat dan karunia-Nya kepada seluruh umat manusia. Shalawat
dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah SAW, keluarga dan para
sahabatnya serta semua pengikutnya sampai akhir zaman, amma ba’du :
Layaknya seorang pedagang, para
pengusung ajaran Syiah juga melakukan trik-trik dagang yang jitu agar
dagangannya laris di pasaran. Di antara trik tersebut adalah dengan mengemas
ajaran mereka seolah-olah bersumber dari ajaran Rasulullah SAW dan tidak ada penyimpangan
sedikit pun. Di antara konsep yang berhasil dibangun oleh Syiah yaitu Syiah
berhasil membuat konsep “mengentengkan” ajaran agama Islam. Yaitu Syiah meyakini
bahwa prinsip beragama yang paling utama hanya cukup dengan berwilayah
kepada Ali (meyakini bahwa Ali adalah wali/penguasa mereka). Siapa yang
menerimanya, maka dia akan beruntung dan selamat di akhirat. Karena pada hari
Kiamat, Ali akan memberikan penyelamatan terhadap seluruh umat manusia yang
mencintainya. Bahkan menurut Syiah, Ali lah yang telah mengajari malaikat
Jibril. “Ketika Jibril menghampiri Nabi saw, tiba-tiba Ali
juga menemui beliau saw. Jibril berdiri untuk memuliakan dan menghormati Ali
as. Rasulullah saw bersabda kepada Jibril, “Apakah engkau berdiri untuk
menghormati pemuda ini? Jibril memaparkan, ‘Ya, dikarenakan dia memiliki hak
pengajaran kepadaku.’” Rasul saw berkata, “Apakah hak itu? Jibril menjelaskan,
‘Ketika Allah menciptakanku, lalu Dia menanyaiku, ‘Siapakah engkau, siapa
namamu, siapa Aku dan siapa nama Aku?’ Saya merasa kikuk, apa yang harus aku
jawab, secara tiba-tiba seorang pemuda (Ali as), manifestasi dari Alam
Nuraniyah berkata, ‘Katakanlah! Engkau adalah Tuhan Yang Mahaagung, nama-Mu
Indah, dan aku adalah hamba-Mu yang hina-dina, namaku Jibril.” (Kecuali Ali, Abbas Rais Kermani, Penerbit Al-Huda, hal. 35).
Selain itu, Syiah juga berani membuat konsep ibadah yang selalu
bersebrangan dengan Ahlu Sunnah wal Jama'ah, karena mereka berkeyakinan bahwa Ahlu
Sunnah wal Jama'ah lah yang telah membunuh Imam Husein yang Syiah agungkan.
Misalnya Syiah mengatakan bahwa tatacara shalat Rasulullah saw adalah sebagai
berikut, “Sayid Ibnu Thawus meriwayatkan bahwa Imam Ali Ridha as pernah
ditanya tentang shalat Ja’far at-Thayyar. Beliau menjawab, “Mengapa kalian lupa
dengan shalat Rasulullah saw? Mungkin
Rasulullah saw belum pernah melakukan shalat Ja’far tersebut, dan Ja’far juga
belum pernah melaksanakan shalat beliau itu!” Perawi berkata, “Jika begitu,
ajarkanlah shalat (Rasulullah saw) tersebut kepadaku!” Beliau berkata,
“Kerjakanlah shalat 2 rakaat, dan di setiap rakaat bacalah surah al-Fatihah 1
kali dan inna anzalnahu (surah al-Qadr) 15 kali. Bacalah juga surah al-Qadr
tersebut ketika ruku, bangun dari ruku, sujud pertama, bangun dari sujud
pertama, sujud kedua, dan bangun dari sujud kedua masing-masing 15 kali.
Setelah itu bacalah tasyahud dan salam…” (Kunci-kunci Surga jilid 1, Syekh Abbas
Al-Qummi, hal. 150).
Selain membuat tatacara shalat Rasulullah SAW versi Syiah, Syiah juga membuat tatacara shalat yang
dilakukan oleh para imam mereka, mulai dari tatacara shalat Ali bin Abi Thalib
as, shalat Imam Hasan dan Husain as dan imam-imam yang lainnya yang sangat
berbeda dengan tatacara shalat kaum muslimin di dunia yang bermazhab Ahlu
Sunnah wal Jama'ah. Misalnya tatacara shalat Ali as adalah sebagai berikut, “Syekh
Thusi dan Sayid Ibnu Thawus ra meriwayatkan bahwa Imam Ja’far Shadiq as
berkata, “Sesiapa di antara kalian melaksanakan shalat Amirul Mukminin as yang
berjumlah 4 rakaat, niscaya ia akan terbersihkan dari dosa seperti ia baru
lahir dari perut ibunya dan segala keperluannya akan dipenuhi. Pada setiap
rakaat, bacalah surah al-Fatihah 1 kali dan surah al-Ikhlash 50 kali.” (Kunci-kunci
Surga jilid 1, Syekh Abbas Al-Qummi, hal. 152).
Selain perbedaan dalam masalah ibadah, juga
Syiah berani berbeda dalam masalah aqidah. Misalnya Syiah berkata, “Imam
Shadiq as dalam menafsirkan ayat, “Segala sesuatu akan musnah, kecuali wajah
Allah….”berkata, “Yang dimaksud dengan Wajah Allah dalam ayat ini adalah Ali
as.” (Kecuali Ali, Abbas Rais Kermani, Penerbit Al-Huda, hal. 22).
Di antara yang menjadi
penyebab lakunya paham Syiah, yaitu beragama di dalam Syiah sangat mudah, hanya
cukup cinta dan setia kepada Ali as akan mendapatkan jaminan keselamatan di akhirat. Mereka
telah berhasil menyesatkan banyak orang. Aqidah batil tersebut telah merusak
keimanan kepada Allah SWT dan Rasul-Nya, dan seluruh
ajaran Islam. Ahlu Sunnah wal Jama'ah meyakini jika rasa cinta kepada Allah dan
Rasul-Nya belum tentu akan menyelamatkan seseorang dari adzab-Nya jika tidak
dibarengi dengan iman dan amal shalih, lalu bagaimana mungkin rasa cinta kepada
Ali dianggap cukup untuk menyelamatkan seseorang dari adzab-Nya?
Kecintaan kepada Ali as yang
diusung oleh Syiah adalah dikarenakan Rasulullah SAW telah mengangkat Ali as di
Ghadir Khum sebagai pemimpin setelah beliau saw. Untuk masalah ini, ada baiknya
Syiah merenungkan beberapa hal di bawah ini :
- Jika
masalah kepemimpinan adalah sangat penting adanya, seharusnya Nabi r
menyampaikannya kepada seluruh kaum muslimin di Arafah, sebelum beliau
meninggal dunia, tepatnya pada saat haji Wada. Karena ketika di Arafah,
semua jamaah haji dari berbagai negeri berkumpul. Tidak hanya penduduk
Madinah, tapi dari seluruh penjuru Jazirah Arab. Sehingga apabila penduduk
Madinah berkhianat, dan mereka lebih memilih Abu Bakar t
sebagai khalifah, maka kaum muslimin yang lainnya yang datang dari luar
Madinah bisa menjadi saksi akan hal itu.
- Apabila
benar bahwa Rasulullah SAW telah
berwasiat kepada Ali RA untuk menjadi khalifah, mengapa Ali tidak
menyampaikan hal tersebut di hadapan para sahabat? Apakah Ali takut untuk
menjadi syahid membela wasiat Rasulullah SAW? Bukankah ini bertentangan
dengan sejarah hidup Ali RA yang terkenal dengan keberanian dan
kejujurannya?
- Hadits
Ghadir Khum sebenarnya adalah hadits yang berisi pemulihan nama baik Ali RA
oleh Rasulullah SAW. Hal ini dikarenakan ada beberapa orang para shahabat
yang tidak berkenan oleh sikap Ali RA dalam masalah ghanimah/rampasan
perang dari Yaman dan bukan sebagai pengangkatan Ali sebagai khalifah
pengganti Rasulullah SAW.


