Kamis, 17 Maret 2022

DOSA MEMBUNUH SEORANG MUSLIM SANGAT BESAR

 

DIBUNUH HANYA KARENA SEORANG MUSLIM



 

Bagaimana perbuatan buruk yang membunuh warga sipil secara brutal untuk mewujudkan tujuan-tujuan keji mereka dianggap sebagai cara untuk menciptakan perdamaian dan keselamatan? Mereka terlibat dalam pembunuhan licik ribuan muslim tak bersenjata melalui aktivitas terorisme; tapi walau bagaimana pun, Rasûlullâh r telah menyatakan bahwa membunuh muslim dosanya lebih besar dari menghancurkan dunia ini.

‘Abdu Allâh bin ‘Amr RA berkata bahwa Rasûlullâh SAW bersabda,

لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللهِ مِنْ قَتْلِ رَجُلٍ مُسْلِمٍ.

“Hancurnya dunia ini lebih ringan menurut Allâh daripada membunuh seorang muslim.”[1]

‘Abdu Allâh bin Buraidah RA berkata bahwsanya Rasûlullâh SAW bersabda,

قَتْلُ الْمُؤْمِنِ أَعْظَمُ عِنْدَ اللهِ مِنْ زَوَالِ الدُّنْيَا.

“Membunuh seorang mu`min itu lebih besar (dosanya) di sisi Allâh SWT daripada hancurnya dunia ini.”[2]

Riwayat lain menegaskan bahwa membunuh muslim tanpa landasan hukum apapun (bighair al-haq), merupakan tragedi yang lebih serius daripada robohnya alam semesta. Al-Barrâ bin Al-‘Âzib RA berkata bahwasanya Rasûlullâh SAW bersabda,

لَزَوَالُ الدُّنْيَا جَمِيْعًا أَهْوَنُ عَلَى اللهِ مِنْ سَفْكِ دَمٍ بِغَيْرِ حَقٍّ.

“Hancurnya seluruh dunia ini lebih ringan menurut pandangan Allâh SWT daripada mengucurkan darah dengan tidak benar (tanpa haq).”[3]

Hukuman yang hina bagi para pembunuh yang dengan sengaja membunuh seorang mu`min dapat difahami dari ayat ketika Allâh SWT menyebutkan rantaian hukuman bagi pendosa dengan redaksi seperti, kekal di neraka Jahannam, mendapat murka Allâh SWT, mendapat laknat Allâh SWT, berikut yang lainnya yaitu siksaan yang pedih. Allâh SWT berfirman,

ﮓﮔﮕﮖﮗﮘﮙﮚﮛﮜﮝﮞ ﮠﮡﮢﮣ

“Dan barangsiapa membunuh seorang yang beriman dengan sengaja, maka balasannya ialah neraka Jahannam, dia kekal di dalamnya. Allâh SWT murka kepadanya, dan melaknatnya serta menyediakan adzab  yang besar baginya.”[4]

Sejarah A. Hassan Mempunyai Buku-buku Ahmadiyah

 

SEJARAH A. HASSAN

MEMPUNYAI KITAB-KITAB AHMADIYAH

Oleh : M. Amin Djamaluddin

 

            Bapak M. Natsir (alloohu yarham) pernah bercerita kepada saya, bagaimana A. Hassan (alloohu yarham) mendapatkan buku-buku Ahmadiyah.

            Pada suatu hari, Presiden Indonesia, Ir. Soekarno melakukan kunjungan kerja ke Jawa Timur bersama beberapa Duta Besar negara sahabat. Begitu Presiden Soekarno dan rombongan tiba di Jawa Timur, Presiden Soekarno dan rombongan tidak langsung menuju ke hotel tempat beliau dan rombongan akan menginap. Akan tetapi, Presiden Soekarno dan rombongan justru menuju ke rumah A. Hassan terlebih dahulu.

Setelah Presiden Soekarno dan rombongan selesai bersilaturahim dengan A. Hassan di rumahnya, sebelum Presiden Soekarno dan rombongan pergi menuju hotel, pada saat itu Presiden Soekarno bertanya kepada A. Hassan. “Tuan Hassan, perlu bantuan apa dari saya?” mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Presiden Soekarno, maka A. Hassan pun menjawab, “Saya minta Duta Besar India bermalam di rumah saya malam ini.” Permintaan A. Hassan ini segera dikabulkan oleh Presiden Soekarno, dan langsung menyuruh Duta Besar India untuk bermalam di rumah A. Hassan. Alhamdulillaah, Duta Besar India mau bermalam di rumah A. Hassan.

Pada saat itu, A. Hassan membahas masalah Ahmadiyah termasuk buku-buku Ahmadiyah dengan Duta Besar India. Pada saat itu, A. Hassan mencatat semua nama buku-buku Ahmadiyah yang disebutkan oleh Duta Besar India tersebut.

            Setelah bermalam di rumah A. Hassan, Duta Besar India dan A. Hassan pagi-pagi sekali langsung pergi ke hotel tempat Presiden Soekarno dan rombongan menginap. Sesampainya di hotel dan bertemu dengan Presiden Soekarno, A. Hassan mengatakan kepada Presiden Soekarno, “Ini yang saya minta bantuannya dari Bapak Presiden” sambil A. Hassan menyerahkan sehelai kertas kepada Presiden Soekarno.

            Setelah Presiden Soekarno membaca tulisan A. Hassan tersebut yang isinya permintaan untuk dicarikan buku-buku Ahmadiyah di India, maka Presiden Soekarno langsung meminta Duta Besar India untuk segera pulang ke negaranya dan membelikan semua buku-buku Ahmadiyah yang diperlukan oleh A. Hassan tersebut.

            Tidak berapa lama, Duta Besar India pun segera pulang ke negaranya untuk membelikan buku-buku Ahmadiyah yang diperlukan oleh A. Hassan.

Setelah Duta Besar India mendapatkan buku-buku Ahmadiyah yang diperlukan oleh A. Hassan, maka dia melaporkannya kepada Presiden Soekarno dan langsung diserahkannya buku-buku Ahmadiyah tersebut kepada A. Hassan. Inilah, sejarah singkat A. Hassan bisa mempunyai koleksi buku-buku Ahmadiyah yang di kemudian hari diwariskan kepada Pak Natsir dan dari Pak Natsir lah saya memperoleh buku-buku Ahmadiyah tersebut.

Memang, jika ada waktu senggang, Pak Natsir (alloohu yarham) suka bercerita banyak hal kepada saya. Termasuk sejarah ini.

 

 

Wassalam,

 

 

M. Amin Djamaluddin

Rabu, 16 Maret 2022

Ketika Ahmadiyah Keluar dari Pakistan

 AHMADIYAH TERUSIR KE LUAR PAKISTAN

Setelah dikeluarkannya UU yang melarang Ahmadiyah menggunakan simbol-simbol Islam, akhirnya Big Boss mereka, Mirza Thahir pun hengkang ke London. Di sana dia membangun markas besar baru bagi Ahmadiyah. Akan tetapi, para siswa Darul Ulum Deoband tidak membiarkan Mirza Thahir kembali menistakan agama Islam di sana. 

Bahkan mereka segera menyelesaikan masa istirahatnya dengan mengadakan Muktamar Tahaffuzh Khatmun Nubuwwah setiap tahunnya sejak tahun 1985 tanpa pernah berhenti dan selalu dihadiri oleh para ulama lulusan Darul Ulum Deoband dari Pakistan, India, Jazirah Arab, Afrika dan mereka menyampaikan pidatonya masing-masing. 

Demikian pula Majlis Tahaffuzh Khatmun Nubuwwah telah membangun kantor cabangnya di Inggris untuk memantau pergerakan Ahmadiyah secara kontinyu di sana. Demikian pula telah dibuka kantor cabang di Amerika, Afrika dan Eropa untuk menghadapi Ahmadiyah. 

Para ulama lulusan Darul Ulum Deoband lah yang berada di front terdepan. Demi melawan Ahmadiyah ini, di sana telah beberapa kali diadakan konferensi dan seminar ilmiyah dan pembagian kitab-kitab beserta buku-buku saku dakwah di India. Sekali lagi, semua geliat dakwah ini terlaksana di bawah bimbingan para ulama dan siswa Darul Ulum Deoband. Juga di Darul Ulum Deoband sendiri telah didirikan Majlis Tahaffuzh Khatmun Nubuwwah di India, segala puji bagi Allah SWT atas semua karunia ini.

Antara Pakistan dan Ahmadiyah

 

NEGARA PAKISTAN DAN AHMADIYAH



            Ketika negara Pakistan merdeka pada tahun 1947 M, Mirza Mahmud selaku pemimpin tertinggi di dalam aliran Ahmadiyah ini pergi dari Qadiyan (India) ke Pakistan. Sedangkan al-Moodi, penguasa pertama Inggris telah menjanjikan tanah di Punjab kepadanya seluas 34.000 ha berada di pinggir sungai Gangga. Pada saat itu, Pemerintah Inggris hanya memungut biaya 100.341 rupee saja untuk registrasi tanah. Di atas tanah inilah, orang-orang Ahmadiyah membangun markas mereka yang diberi nama Mirzail seperti Israel tanpa ada seorang pun yang bisa ikut campur sampai akhirnya Zhafarullah Khan al-Qadiyani menjadi Menteri Luar Negeri Pakistan yang pertama. Pak Menlu pun mulai mendakwahkan ajaran Ahmadiyah ke seluruh dunia dengan menggunakan uang negara Pakistan. Memang benar, Inggris telah meninggalkan India. Akan tetapi, Inggris telah membangun sebuah markas besar bagi anak angkatnya (Mirza Ghulam Ahmad) yang didanai dari uang kaum muslimin India (termasuk Pakistan di dalamnya). Sejak saat itu, orang-orang Ahmadiyah mulai merancang UU, karena mereka melihat kesempatan emas di hadapan mereka. Hal ini lah yang membuat sedih kaum muslimin Pakistan, karena di dalam hati mereka masih ada keimanan. Pada saat itu, orang-orang Ahmadiyah sedang berada di puncak kekuasaan (sedang jaya), mereka seperti seekor kuda liar tak terkendali. Pemerintah Pakistan pun segera mengambil keputusan untuk mempercepat Pemilu, supaya kaum muslimin dan non muslim bisa memilih calon-calon mereka. Pada saat itu, Pemerintah Pakistan memasukkan Ahmadiyah ke dalam kelompok kaum muslimin.

            Menghadapi masalah ini, Amir Syariah yaitu Sayyid Athaullah Syah al-Bukhari segera mengutus singa Islam, yaitu Syaikh Ghulam Ghauts al-Hazarwi dan pejuang Islam Syaikh Muhammad Ali al-Jalandahri untuk menemui Syaikh Abul Hasanat al-Qadiri, pimpinan sekolah al-Barilawiyyah. Maka terjadilah kesepakatan antara al-Barilawiyyah, Deobandiyah, Ahlul Hadits dan Syiah untuk menggerakkan rakyat melawan Ahmadiyah. Di kemudian hari, pada tahun 1953, pergerakan ini dikenal dengan nama Khatmun Nubuwwah. Seluruh alumni Darul Ulum Deoband telah berperan sebagai para pejuang di dalam pergerakan ini. Pergerakan ini telah mampu menahan laju pergerakan kuda liar Ahmadiyah. Akhirnya Zhafrullah (yang terlaknat) tidak bisa menjadi menteri kembali. Sehingga kekuatan Ahmadiyah porak poranda dan Ahmadiyah berjalan di muka bumi Pakistan sambil merangkak (terseok-seok).

Awal Mula Fatwa Sesat terhadap Ahmadiyah

 

 FATWA PERTAMA TERHADAP AHMADIYAH

(Sumber : Kitab Miratul Qadiyaniyyah)


 

            Disebutkan ketika perjuangan Mirza Ghulam Ahmad mulai berkembang sedikit demi sedikit. Akhirnya dia pun merantau ke sebuah kota yang bernama Ludhiana pada tahun 1301 H./1884 M. Di Ludhiana, Syaikh Muhammad al-Ladhyani dan Syaikh Abdullah al-Ladhyanawi dan Syaikh Muhammad Ismail al-Ladhyanawi rahimahumullah mengeluarkan sebuah fatwa bahwasanya Mirza Ghulam Ahmad itu bukan seorang mujaddid (pembaharu), tapi justru dia adalah seorang zindiq (ateis) dan orang sesat. (Fatawa Qadiriyah hal. 3).

            Merupakan karunia dari Allah SWT bahwasanya Allah SWT telah memberikan taufiq kepada para ulama Deobandi untuk mengafirkan Mirza Ghulam Ahmad. Orang yang pertama kali mengeluarkan fatwa kafir tersebut adalah Syaikh Muhammad al-Ladhyanawi yaitu kakek dari Syaikh Habiburrahman al-Ladhyanawi yang dikenal dengan pimpinan Gerakan Pembebasan. Fatwa dari para ulama ini seperti melempar sebuah batu ke dalam air yang tergenang (air yang tidak mengalir), maka percikannya menciprat dan keadaan pun menjadi berubah. Maka mulailah orang-orang ikut serta ke dalam perjuangan ini pada zaman Syaikh Muhammad Husain al-Batalawi yang setuju terhadap pemikiran-pemikiran Mirza Ghulam Ahmad. Tapi kemudian, Syaikh Muhammad Husain al-Batalawi mengeluarkan fatwa kufur terhadap Mirza Ghulam Ahmad pada tahun 1890 M. Maka Mirza Ghulam Ahmad membalasnya dengan menyebar luaskan majalah-majalah dan buku-bukunya dengan bantuan Inggris. Para ulama telah berusaha menyampaikan bantahan terhadap majalah dan buku-buku tersebut sesuai dengan kebutuhannya. Hal ini lah yang membuat gembira para pembaca, bahwasanya Allah SWT telah menolong para ulama Deobandi untuk merumuskan fatwa kufur terhadap Mirza Ghulam Ahmad. Fatwa kufur ini dirumuskan oleh Syaikh Muhammad Suhul, dosen di Darul Ulum Deobandi. Inilah terjemahannya :

(1)   Mirza Ghulam Ahmad (dicap) telah murtad, zindiq (atheis), sesat dan kafir.

(2)   Islam melarang umatnya bermuamalah dengan para pengikut Mirza Ghulam Ahmad. Kaum muslimin pun dilarang mengucapkan salam kepada mereka. Tidak boleh berbesanan dengan mereka; tidak boleh memakan sembelihan mereka dan harus menjauhi mereka sebagaimana harus menjauhi Yahudi, orang-orang Hindu dan orang-orang Nashrani.

(3)   Shalat di belakang orang-orang Ahmadiyah adalah seperti shalat di belakang orang-orang Yahudi, Nashrani dan orang-orang Hindu.

(4)   Orang-orang Ahmadiyah tidak diperbolehkan masuk ke dalam masjid kaum muslimin. Mereka tidak boleh melaksanakan (ritual) ibadah mereka di dalam masjid kaum muslimin sebagaimana terlarang bagi orang-orang Hindu.

(5)   Mirza Ghulam Ahmad adalah penduduk Qadiyan (sebelah utara India). Oleh karena itu, para pengikutnya disebut Qadiyaniyyah, sekte Ghulamiyyah atau jemaat setan iblis.    

                  

Fatwa ini ditandatangani oleh beberapa orang para ulama dari India seperti Syaikh Mahmud al-Hasan al-Deobandi, Syaikh Mufti Muhammad Hasan, Syaikh Sayyid Muhammad Anwar Syah al-Kasymiri, Syaikh Sayyid Murtadha Hasan al-Sanidfuri, Syaikh Abdussami, Syaikh Mufti Azizurrahman al-Deobandi, Syaikh Muhammad Ibrahim al-Balyawi, Syaikh al-Adab I’zaz Ali al-Deobandi, Syaikh Habiburrahman dan para ulama lainnya yang mempunyai hubungan dengan Deobandi, Saharnafur, Dahla, Calcuta, Dakka, Pesyawar, Rampur, Rawalbandi, Huzarah, Murad Abad, Wazir Abad, Multan, Mayan Wali dan lain-lainnya. Dengan ini semua, Anda bisa mengukur seberapa ketelitian dan kekuatan fatwa ini. Tidak ada jalan lagi bagi orang-orang yang ingin menambah-nambah fatwa ini setelah tabir kekufuran Ahmadiyah terkuak dalam rentang waktu seratus tahun. Para ulama senior telah menyusun fatwa yang sangat teliti ini setelah memikirkan dan memahaminya matang-matang. Fatwa ini mencakup semua bagian dan tidak ada yang kurang sedikit pun, walaupun sudah berjalan seratus tahun lebih. Kemudian keluarlah sebuah fatwa dari Dar Ulum Deobandi tahun 1332 Hijriyah di bawah bimbingan Syaikh Mufti Azizurrahman mengenai haramnya berbesanan dengan orang-orang Ahmadiyah. Fatwa ini ditandatangani oleh Syaikh Sayyid Ashgar Husain dan Syaikh Rasul Khan, Syaikh Muhammad Idris al-Kandahlawi, Syaikh Jul Muhammad Khan dari Deobandi, Syaikh Inayat Ali al-Saharnafuri rektor Universitas Mazhahirul Ulum, Syaikh Khalil Ahmad al-Saharnafuri, Syaikh Abdurrahman al-Kamalfuri, Syaikh Abdullathif, Syaikh Badar Alim al-Mirati, Syaikh Syah Abdurrahim, Syaikh Hakimul Ummah Muhammad Asyraf Ali al-Tanawi, Syaikh Syah Abdurrahim, Syaikh Syah Abdulqadir dari Rayifur, Syaikh al-Mufti Kifayatullah al-Dihlawi dan para ulama lain dari Kalkuta, Binaris, Walkanu, Agharuh, Muard Abad, Lahore, Amratsari, Ludhiana, Pesyawar, Rowalbandi, Multan, Husyayarfuri, Ghurdasafur, Jahlum, Siyalkut, Ghujranawala, Haidar Abad, Dakan, Bufala, dan Rampur. Demikian pula fatwa ini ditandatangani oleh sejumlah para ulama yang mulia dan fatwa ini disebut Fatwa Pengkafiran Ahmadiyah dan dicetak oleh Percetakan al-I’zaziyyah di Deoband.

 

Kamis, 10 Maret 2022

HITAM DI BALIK PUTIH; BUKU BANTAHAN ATAS BUKU PUTIH MAZHAB SYIAH

 

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya kepada seluruh umat manusia. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah SAW, keluarga dan para sahabatnya serta semua pengikutnya sampai akhir zaman, amma ba’du :

Layaknya seorang pedagang, para pengusung ajaran Syiah juga melakukan trik-trik dagang yang jitu agar dagangannya laris di pasaran. Di antara trik tersebut adalah dengan mengemas ajaran mereka seolah-olah bersumber dari ajaran Rasulullah SAW dan tidak ada penyimpangan sedikit pun. Di antara konsep yang berhasil dibangun oleh Syiah yaitu Syiah berhasil membuat konsep “mengentengkan” ajaran agama Islam. Yaitu Syiah meyakini bahwa prinsip beragama yang paling utama hanya cukup dengan berwilayah kepada Ali (meyakini bahwa Ali adalah wali/penguasa mereka). Siapa yang menerimanya, maka dia akan beruntung dan selamat di akhirat. Karena pada hari Kiamat, Ali akan memberikan penyelamatan terhadap seluruh umat manusia yang mencintainya. Bahkan menurut Syiah, Ali lah yang telah mengajari malaikat Jibril. “Ketika Jibril menghampiri Nabi saw, tiba-tiba Ali juga menemui beliau saw. Jibril berdiri untuk memuliakan dan menghormati Ali as. Rasulullah saw bersabda kepada Jibril, “Apakah engkau berdiri untuk menghormati pemuda ini? Jibril memaparkan, ‘Ya, dikarenakan dia memiliki hak pengajaran kepadaku.’” Rasul saw berkata, “Apakah hak itu? Jibril menjelaskan, ‘Ketika Allah menciptakanku, lalu Dia menanyaiku, ‘Siapakah engkau, siapa namamu, siapa Aku dan siapa nama Aku?’ Saya merasa kikuk, apa yang harus aku jawab, secara tiba-tiba seorang pemuda (Ali as), manifestasi dari Alam Nuraniyah berkata, ‘Katakanlah! Engkau adalah Tuhan Yang Mahaagung, nama-Mu Indah, dan aku adalah hamba-Mu yang hina-dina, namaku Jibril.” (Kecuali Ali, Abbas Rais Kermani, Penerbit Al-Huda, hal. 35).

Selain itu, Syiah juga berani membuat konsep ibadah yang selalu bersebrangan dengan Ahlu Sunnah wal Jama'ah, karena mereka berkeyakinan bahwa Ahlu Sunnah wal Jama'ah lah yang telah membunuh Imam Husein yang Syiah agungkan. Misalnya Syiah mengatakan bahwa tatacara shalat Rasulullah saw adalah sebagai berikut, “Sayid Ibnu Thawus meriwayatkan bahwa Imam Ali Ridha as pernah ditanya tentang shalat Ja’far at-Thayyar. Beliau menjawab, “Mengapa kalian lupa dengan shalat Rasulullah saw? Mungkin Rasulullah saw belum pernah melakukan shalat Ja’far tersebut, dan Ja’far juga belum pernah melaksanakan shalat beliau itu!” Perawi berkata, “Jika begitu, ajarkanlah shalat (Rasulullah saw) tersebut kepadaku!” Beliau berkata, “Kerjakanlah shalat 2 rakaat, dan di setiap rakaat bacalah surah al-Fatihah 1 kali dan inna anzalnahu (surah al-Qadr) 15 kali. Bacalah juga surah al-Qadr tersebut ketika ruku, bangun dari ruku, sujud pertama, bangun dari sujud pertama, sujud kedua, dan bangun dari sujud kedua masing-masing 15 kali. Setelah itu bacalah tasyahud dan salam…” (Kunci-kunci Surga jilid 1, Syekh Abbas Al-Qummi, hal. 150).

Selain membuat tatacara shalat Rasulullah SAW versi Syiah, Syiah juga membuat tatacara shalat yang dilakukan oleh para imam mereka, mulai dari tatacara shalat Ali bin Abi Thalib as, shalat Imam Hasan dan Husain as dan imam-imam yang lainnya yang sangat berbeda dengan tatacara shalat kaum muslimin di dunia yang bermazhab Ahlu Sunnah wal Jama'ah. Misalnya tatacara shalat Ali as adalah sebagai berikut, “Syekh Thusi dan Sayid Ibnu Thawus ra meriwayatkan bahwa Imam Ja’far Shadiq as berkata, “Sesiapa di antara kalian melaksanakan shalat Amirul Mukminin as yang berjumlah 4 rakaat, niscaya ia akan terbersihkan dari dosa seperti ia baru lahir dari perut ibunya dan segala keperluannya akan dipenuhi. Pada setiap rakaat, bacalah surah al-Fatihah 1 kali dan surah al-Ikhlash 50 kali.” (Kunci-kunci Surga jilid 1, Syekh Abbas Al-Qummi, hal. 152).

   Selain perbedaan dalam masalah ibadah, juga Syiah berani berbeda dalam masalah aqidah. Misalnya Syiah berkata, “Imam Shadiq as dalam menafsirkan ayat, “Segala sesuatu akan musnah, kecuali wajah Allah….”berkata, “Yang dimaksud dengan Wajah Allah dalam ayat ini adalah Ali as.” (Kecuali Ali, Abbas Rais Kermani, Penerbit Al-Huda, hal. 22).

Di antara yang menjadi penyebab lakunya paham Syiah, yaitu beragama di dalam Syiah sangat mudah, hanya cukup cinta dan setia kepada Ali as akan mendapatkan jaminan keselamatan di akhirat. Mereka telah berhasil menyesatkan banyak orang. Aqidah batil tersebut telah merusak keimanan kepada Allah SWT dan Rasul-Nya, dan seluruh ajaran Islam. Ahlu Sunnah wal Jama'ah meyakini jika rasa cinta kepada Allah dan Rasul-Nya belum tentu akan menyelamatkan seseorang dari adzab-Nya jika tidak dibarengi dengan iman dan amal shalih, lalu bagaimana mungkin rasa cinta kepada Ali dianggap cukup untuk menyelamatkan seseorang dari adzab-Nya?  

Kecintaan kepada Ali as yang diusung oleh Syiah adalah dikarenakan Rasulullah SAW telah mengangkat Ali as di Ghadir Khum sebagai pemimpin setelah beliau saw. Untuk masalah ini, ada baiknya Syiah merenungkan beberapa hal di bawah ini :

  1. Jika masalah kepemimpinan adalah sangat penting adanya, seharusnya Nabi r menyampaikannya kepada seluruh kaum muslimin di Arafah, sebelum beliau meninggal dunia, tepatnya pada saat haji Wada. Karena ketika di Arafah, semua jamaah haji dari berbagai negeri berkumpul. Tidak hanya penduduk Madinah, tapi dari seluruh penjuru Jazirah Arab. Sehingga apabila penduduk Madinah berkhianat, dan mereka lebih memilih Abu Bakar t sebagai khalifah, maka kaum muslimin yang lainnya yang datang dari luar Madinah bisa menjadi saksi akan hal itu.
  2. Apabila benar bahwa Rasulullah SAW  telah berwasiat kepada Ali RA untuk menjadi khalifah, mengapa Ali tidak menyampaikan hal tersebut di hadapan para sahabat? Apakah Ali takut untuk menjadi syahid membela wasiat Rasulullah SAW? Bukankah ini bertentangan dengan sejarah hidup Ali RA yang terkenal dengan keberanian dan kejujurannya?
  3. Hadits Ghadir Khum sebenarnya adalah hadits yang berisi pemulihan nama baik Ali RA oleh Rasulullah SAW. Hal ini dikarenakan ada beberapa orang para shahabat yang tidak berkenan oleh sikap Ali RA dalam masalah ghanimah/rampasan perang dari Yaman dan bukan sebagai pengangkatan Ali sebagai khalifah pengganti Rasulullah SAW.