Kamis, 07 April 2022
Fatwa Syi'ah; Melakukan Pengundian Untuk Menentukan Bapak Dari Anak Hasil Mut'ah!!!
Selasa, 05 April 2022
Teror Syiah kepada Muslimah yang Menolak Mut'ah
Ulama Syi’ah kembali menteror kaum wanitanya untuk dijadikan budak nafsu mereka. Mereka mengancam dengan neraka bagi siapa pun dari para wanita Syi’ah yang menolak tatkala diajak beribadah mut’ah/kawin kontrak (baca: zina) oleh sayyid dari kalangan mereka.
Adalah Muhsin Alu ‘Ashfur, salah satu dedengkot Syi’ah yang di dalam twitternya menteror para wanita Syi’ah seperti di atas. Saksikanlah, si busuk ini berkata:
قال السيد فاضل المدرسي نقلاً عن الإمام الصدوق (ع) : (كل إمرأة طلبها سيد في متعة ورفضت فقد أوجبت على نفسها النار وحرمت عن نفسها الجنة والأجر)
“Telah berkata As-Sayyid Fadhil Al-Madrisiy menukil dari Al-Imam Ash-Shaduq: “Setiap wanita yang dimintai oleh sayyid untuk ber-mut’ah lalu dia (si wanita) menolak, maka sungguh neraka wajib atas dirinya dan diharamkan dari dirinya akan Surga juga pahala.” [Twitter Muhsin Alu ‘Ashfur: https://twitter.com/ ShMohsnAlAsfor/status/ 349582741517508608]
Sumber: http://jaser-1eonheart.blogspot.com/2013/08/neraka-bagi-para-wanita-syiah-yang.html
Kamis, 31 Maret 2022
Pesantren Al Qalam Jakarta Pusat
Jakarta Pusat, VIRALREPORTER5.COM – Danramil 01/Menteng Mayor Inf Endra Krismanto S.Pd melaksanakan Sosialisasi Rekrutmen Calon Prajurit TNI AD TA. 2022 di Madrasah Aliyah (MA) Pondok Pesantren Al Qalam Jl.Menteng Tenggulun No.17, RT.9/RW.10, Menteng, Kec. Menteng.(24/1/22)
Danramil 01/Menteng Mengatakan,bahwa Sosialisasi Rekrutmen Calon TNI AD ini untuk memberikan gambaran juga wawasan tentang peran TNI AD dalam menjaga NKRI, selain itu untuk menarik minat warga masyarakat terutama generasi muda untuk menjadi bagian dalam menjaga nasionalisme melalui profesi sebagai anggota TNI AD.
“Kehadiran kami adalah untuk memberikan wawasan dalam rangka mempersiapkan generasi muda sebagai calon anggota TNI AD yang berkualitas dan berahlak serta memiliki nilai karakter kejuangan yang luhur”, jelas Danramil.
“Sehingga para siswa/santri akan lebih paha tentang persiapan yang harus disiapkan secara dini sebagai kesiapan pribadi sebelum mendaftar menjadi calon anggota TNI”, lanjut Danramil.
Persiapan itu antara lain membina fisik, menjaga kesehatan, mempelajari pengetahuan akademik dan sebagainya. Pendaftaran dilakukan secara on line dan penerimaan sebagai calon anggota TNI baik Akmil, Pa PK, Pa PSDP, Pa Bea Siswa, Bintara dan Tamtama, tidak dipungut biaya apapun. (@2022)
Rabu, 30 Maret 2022
Kisah Perdebatan A Hassan
Kisah Perdebatan
A. Hassan dengan Tokoh Atheis
Oleh:
Artawijaya
GEDUNG
milik organisasi Al-Irsyad, Surabaya, hari itu penuh sesat dipadati massa.
Almanak menunjukkan tahun 1955. Kota Surabaya yang panas, serasa makin panas
dengan dilangsungkannya debat terbuka antara Muhammad Ahsan, seorang atheis
yang berasal dari Malang, dengan Tuan A. Hassan, guru Pesantren Persatuan
Islam, Bangil. Meski namanya berbau Islam, Muhammad Ahsan adalah orang atheis
yang tidak percaya bahwa Tuhan itu ada, dan tidak pula meyakini bahwa alam
semesta ini ada Yang Maha Mengaturnya. Ia juga menyatakan manusia berasal dari
kera, bukan dari tanah sebagaimana dijelaskan Al-Qur’an.
Menurut keterangan Ustadz Abdul Jabbar, guru Pesantren
Persis, yang menyaksikan perdebatan itu, hadirin yang datang cukup membludak.
Lebih dari ratusan massa datang berkumpul, mengular sampai ke luar gedung.
Mereka mengganggap perdebatan ini penting, karena Muhammad Ahsan, telah secara
terbuka di Surat Kabar Harian Rakyat, 9 Agustus 1955, meragukan keberadaan
Tuhan. Ia juga menolak keyakinan Islam bahwa orang yang berbuat kebaikan di
dunia, akan dibalas di akhirat kelak. Ahsan berkeyakinan, segala sesuatu
tercipta melalui evolusi alam, dan akan musnah dengan hukum alam juga. Dalam
surat kabar itu, ia menyatakan lugas, “Pencipta itu mestinya berbentuk. Tidak
mungkin suatu pencipta tidak berbentuk, “tulisnya.
Atas pernyataan itu, Hasan Aidit, Ketua Front Anti
Komunis, menghubungi A. Hassan agar bersedia bertukar pikiran dengan tokoh
atheis itu. Sebelumnya, Hasan Aidit dan Bey Arifin sudah melayangkan tantangan
debat di forum Study Club Surabaya pada 12 Agustus 1955, namun rencana itu
gagal. Ia kemudian menyusun rencana agar Ahsan yang atheis itu dipertemukan
dengan A. Hassan, sosok yang dikenal ahli dalam berdebat soal-soal keislaman.
A. Hassan dan Muhammad Ahsan bersedia bertemu di forum terbuka.
Singkat kata, perdebatan terbuka benar-benar terjadi. Karena
dikhawatirkan akan berlangsung panas, maka panitia memberikan beberapa
peraturan kepada hadirin yang datang menyaksikan. Hadirin tak boleh bertepuk
tangan, tidak boleh bersorak sorai, tidak boleh saling berbicara, tidak
menampakkan gerak-gerik yang merendahkan salah seorang pembicara, dan tidak
boleh mengganggu ketentraman selama berlangsungnya perdebatan.
Sementara untuk orang yang berdebat dibuat aturan pula.
Masing-masing berdiri di satu podium dan diberi mikrophone, kemudian saling
bertukar pertanyaan dan jawaban. Sementara pimpinan acara, yaitu Hasan Aidit,
duduk di sebuah meja didampingi seorang sekretaris untuk mencatat jalannya
perdebatan. Tugas pimpinan acara adalah mengatur jalannya perdebatan, dan
menegur siapa saja yang melanggar aturan.
Setelah dibuka dengan ceramah dari KH. Muhammad Isa
Anshary, tokoh Persatuan Islam yang juga petinggi Partai Masyumi, acara pun di
mulai. Perdebatan berlangsung dalam format tanya jawab dan saling menyanggah
pendapat yang diajukan.
Berikut point-point penting dari ringkasan perdebatan itu.
Tokoh atheis Muhammad Ahsan akan disingkat menjadi (MA), sedangkan A. Hassan
disingkat menjadi (AH):
A.H: Saya berpendirian ada Tuhan. Buat membuktikan keadaan
sesuatu, ada beberapa macam cara; dengan panca indera, dengan perhitungan,
dengan kepercayaan yang berdasar perhitungan, dengan penetapan akal.
Makatentang membuktikan adanya Tuhan, tuan mau cara yang mana?
Kamis, 24 Maret 2022
Awas Gafatar
MATERI DI DALAM BUKU:
TEOLOGI ABRAHAM;
MEMBANGUN KESATUAN
IMAN YAHUDI, KRISTEN DAN ISLAM
TULISAN MAHFUL M.
HAWARY YANG BERISI PENODAAN
Oleh : H. M. Amin Djamaluddin
|
Nama buku |
: |
Teologi Abraham; Membangun Kesatuan Iman, Yahudi,
Kristen dan Islam |
|
Penulis |
: |
Mahful M Hawary |
|
Penyunting |
: |
MY Daruwijaya, SH |
|
Penerbit |
: |
Fajar Madani Dwima Plaza I, 4th Floor suite 417
Jl. A. Yani Kav. 67 – Jakarta 10510 |
|
Distributor |
: |
Didistribusikan oleh Setjen KOMAR Tlp. (021) 2362 6164 |
|
Cetakan |
: |
Cetakan I, Mei 2009 |
|
ISBN |
: |
- |
Berikut ini, kami kutipkan beberapa tulisan Mahful M. Hawary di dalam bukunya Teologi Abraham yang kami anggap sebagai bentuk penodaan, yaitu :
- “Dari sinilah, banyak kelompok (minoritas) yang
memahami bahwa masih terbukanya pintu seorang Nabi dan Rasul setelah
Muhammad yang akan mengantarkan ummat dunia menuju kebangkitan Madinah
al-Munawwarah jilid dua; Khilafah Islam.” (Teologi
Abraham, hal. 133)
- ”Karenanya, Teologi Abraham adalah satu-satunya ilmu
yang dapat digunakan di dalam menjembatani unifikasi iman anak-anak
spiritual Abraham, baik dari kaum Yahudi, Nasrani, maupun Islam. Dari
kerangka pikir tersebut, dapatlah dipahami mengapa Allah menyindir dengan
pedas sikap mereka yang tak menerima Teologi Abraham (Millah Ibrahim). Dia
menegaskan, hanya orang bodoh saja yang menolak Teologi Abraham sebagai
pintu pemersatu anak-anak spiritual Abraham, yang pada saatnya nanti akan
membangun perdamaian dunia.” (Teologi Abraham, hal. 137)
- ”Saatnya hari ini, kaum Yahudi, Nasrani, dan Islam
untuk duduk bersama mendialogkan hal-hal prinsipil yang memiliki akar
teologi yang sama dengan cara mengembalikan akar sengketa teologisnya kepada
sumber utamanya, yakni Teologi Abraham sebagai Pokok Anggur Allah.
Membangun kesatuan teologi bagi para generasi iman Abraham (anak-anak
spiritual Abraham), baik dari kaum Yahudi, Nasrani dan Islam, akan menjadi
sumber utama bagi terciptanya perdamaian ummat beragama dari kedamaian
insan dunia, yang turut memberi berkat dan kedamaian bagi keharmonisan
seluruh mahluk di alam semesta.” (Teologi
Abraham, hal. 138)
Rabu, 23 Maret 2022
Sejarah Penting
SIKAP PAK NATSIR
TERHADAP ALIRAN SESAT
DAN SEJARAH
LAHIRNYA LPPI
Oleh : M.Amin Djamaluddin.
Pengantar
Sekitar tahun 1973-1975, penulis aktif di organisasi Pemuda Persatuan Islam Daerah Jakarta Raya (sekarang wilayah DKI Jakarta) dan menjabat menjadi Sekretaris Umum. Selama menjadi pengurus Pemuda Persis, aktif juga melakukan kegiatan dakwah termasuk melibatkan diri dalam kegiatan politik (mengikuti perkembangan politik), terutama sekali politik yang berkaiatan dengan pembuatan Undang-Undang yang sangat merugikan Islam; dan selalu berinduk/berkoordinasi dengan Menteng Raya 58 sebagai markas GPI yang pada saat itu Ketua Umumnya adalah Abdul Qadir Djaelani.
Setiap ada demontrasi menentang RUU (Rancangan Undang-Undang) yang berpotensi merugikan Islam, pasti saya akan ikut terlibat, sehingga saya dan teman-teman pernah membubarkan anggota DPR RI di Senayan yang sedang membahas Rancangan Undang-Undang Perkawinan (RUUP). RUUP tersebut sangat menghebohkan umat Islam Indonesia di masa itu, karena beberapa materinya sangat bertentangan dengan ajaran Islam.
Di bawah koordinasi Abdul Qadir Djaelani sebagai Ketua Umum GPI pada masa itu, alhamdulillaah para pemuda Islam dari segala unsur berhasil masuk memenuhi balkon Ruang Sidang Utama DPR RI untuk mendengarkan jawaban Pemerintah yang diwakili oleh Menteri Agama RI. Prof. Mukti Ali. Malamnya, tokoh-tokoh pemuda Islam mengadakan rapat koordinasi di suatu tempat di Jakarta yang memutuskan bahwa, “Kalau jawaban dari Menteri Agama bahwa RUUP tersebut akan dimusyawarahkan besok di DPR RI, maka kita serentak untuk menolak RUUP (Rancangan Undang-Undang Perkawinan) tersebut. Sebab keputusan/tuntutan dari umat Islam adalah untuk MENOLAK dan bukan MEMUSYAWARAHKAN. Karena jika dimusyawarahkan, maka pasti umat Islam akan kalah, mengingat anggota DPR RI saat itu dikuasai oleh Golkar yang dikendalikan oleh (almh) Ibu Tien Soeharto yang sangat memaksakan agar RUUP yang bertentangan dengan Islam tersebut disahkan oleh Pemerintah.”
Rancangan Undangan-Undang Perkawinan sekuler tersebut berubah (tidak bertentangan dengan Islam) setelah pada tanggal 30 September 1986 para Pemuda Islam menguasai dan mengusir para anggota DPR RI yang sedang mendengarkan jawaban Pemerintah. Pada saat itu Ketua DPR/MPR RI Bapak Idham Khalid yang sedang memimpin sidang dan Menteri Agama RI yang sedang berkata atas nama Pemerintah terhadap Rancangan Undang-Undang Perkawinan tersebut. Karena aksi Pemuda Islam inilah, kursi anggota DPR menjadi kosong, karena mereka ketakutan dan lari terbirit-birit. Ketua DPR/MPR Bapak Idham Khalid juga lari menyelamatkan diri dan Menteri Agama RI pun meninggalkan podiumnya. Akhirnya, semua kursi anggota DPR, kursi ketua DPR, dan podium tempat pidato dikuasai seluruhnya oleh para pemuda Islam. Lalu saya pada waktu itu naik ke atas podium, tempat pidato Menteri Agama, dengan mengangkat SPANDUK bertuliskan, “ALLAHU AKBAR” yang memang sudah disiapkan sebelumnya. (Lihat buku 30 Tahun Indonesia Merdeka 1965-1973, hal. 263-264, cet. Ketujuh, Tahun 1986).
Kembali kepada judul tulisan di atas, SIKAP M. NATSIR TERHADAP ALIRAN SESAT; dalam berdakwah beliau (Allaahu yarham) selalu menyampaikan istilah yang sangat terkenal di kalangan Dewan Dakwah yaitu kata BINAAN WADIFA’AN, artinya membina dan mempertahankan. Dua pekerjaan ini harus sekaligus dilakukan oleh para da’i, muballigh dan umat.
“Membina” maksudnya melakukan dakwah dalam rangka pembinaan kepada umat agar tetap berada di jalan Islam yang sebenarnya yang berlandaskan kepada Al-Qur`an dan Al-Hadits. “Mempertahankan” yaitu mempertahankan Islam dari rongrongan aliran sesat dalam berbagai bentuk dan manifestasinya. Mempertahankan Islam, baik dari musuh yang datang dari dalam, maupun musuh yang datang dari luar. Musuh dari dalam ini yang sangat sulit untuk diprediksi, bak “musang berbulu ayam, harimau bermantel bulu domba”, mereka sangat berbahaya sekali. Adapun musuh dari luar mudah untuk diketahui.
Ada cerita terbatas dari tema-teman lama di Dewan Dakwah bahwa saya (M. Amin Djamaluddin) adalah anak “pungut” Pak. Natsir. Mengapa disebut anak pungut? Saya disebut anak pungut karena saya tidak pernah dikirim oleh M. Natsir untuk belajar di Timur Tengah, seperti kebanyakan kader-kader beliau yang lainnya. Lalu, bagaimana ceritanya bisa “dipungut” ketemu gede? Singkat ceritanya sebagai berikut,
Pada awal tahun 80-an, di IAIN Syarif Hidayatullah Ciputat, Jakarta (sekarang UIN), Rektornya dengan didukung oleh Menteri Agama RI, K.H. Munawwir Sadzali, MA mulai menggalakkan pembaharuan Islam di Kampus. Menjelang Dies Natalis IAIN Ciputat yang ke-26, Prof. DR. Harun Nasution berpidato dengan judul, “ULAMA KURANG KUASAI ILMU-ILMU DUNIA, PEMBAHARUAN ISLAM PERLU INTERPRETASI MENDASAR” (lihat Harian Umum Pelita, Rabu, 3 Agustus 1983).
Menteri Agama K.H. Munawwir Sadzali, MA dalam DIES NATALIS IAIN Jakarta tersebut memberikan sambutan dengan judul “UMMAT ISLAM HARUS JADI PEMIKIR DAN BERANI BERTANGGUNG JAWAB.” (lihat Harian Umum Pelita, Rabu, 10 Agustus 1983). Pembaruan Islam yang digalakkan di IAIN Ciputat saat itu adalah antara lain penggalakan mempelajari mata kuliah falsafah (filsafat) dan tasawuf.
Begitu mengetahui bahwa pembaharuan Islam di IAIN Ciputat tersebut adalah penggalakan mata kuliah falsafah, seakan-akan pikiran saya berontak karena teringat betul peringatan dari Ibnu Shalah (teman dekat Ibnu Taimiyyah) yang mengingatkan umat Islam akan bahaya mempelajari filsafat dengan sebuah peringatan sebagai berikut, “Falsafah adalah pokok kebodohan dan penyelewengan bahkan kebingungan dan kesesatan. Siapa yang berfalsafah maka butalah hatinya dari kebaikan-kebaikan syari’ah yang suci yang dikuatkan dengan dalil-dalil yang jelas. Barang siapa yang mempelajarinya, maka bertemankan kehinaan, tertutup dari kebenaran dan terbujuk oleh setan. Apakah ada ilmu lain yang lebih hina dari pada ilmu yang membutakan orang yang memilikinya dan menggelapkan hatinya dari sinar kenabian kita?”
Bersambung….
Selasa, 22 Maret 2022
SEJARAH SAYA MENJADI STAF AHLI BAPAK MUHAMMAD NATSIR
DAFTAR ISI
- AWAL
MULA PERJUMPAAN SAYA DENGAN (ALLAAHU YARHAM) BAPAK M. NATSIR ..................
- KATA
SAMBUTAN Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII) Pusat .................
- Harian
Umum PELITA
Selasa, 18 Oktober 1983
Menanggapi Gagasan Prof. Dr. Harun Nasution (1)
Soal Penggalakan Kuliah Falsafah, Ilmu
Kalam dan Sejarah Kebudayaan Islam ....
- Harian
Umum PELITA
Rabu, 19 Oktober 1983
Menanggapi Gagasan Prof. Dr. Harun Nasution (2)
Pandangan Ahli Filsafat Islam terhadap
Kebenaran Agamanya .....
- Harian
Umum PELITA
Kamis, 20 Oktober 1983
Menanggapi Gagasan Prof.Dr.Harun Nasution (3)
Bagaimana Rasionalitas Itu ......................................
- Harian
Umum PELITA
Jum’at, 21 Oktober 1983
Menanggapi Gagasan Prof.Dr.Harun Nasution (4 -
selesai)
Pembaharuan Setuju, Asal Tidak Menyimpang .................................................:
- Catatan dan
Kenang-kenangan..........................
AWAL MULA PERJUMPAAN SAYA DENGAN
(ALLAAHU YARHAM)
BAPAK M. NATSIR
Oleh M. Amin
Djamaluddin
Tanggapan Bapak
M. Natsir terhadap tulisan saya yang dimuat oleh Harian Umum Pelita tanggal 18,
19, 20 dan 21 Oktober 1983, yaitu tanggapan dan bantahan terhadap Pembaharuan
Islam yang digalakkan di IAIN Ciputat (sekarang UIN Jakarta) oleh Rektor IAIN
Ciputat Prof.Dr. Harun Nasution, pada saat itu yang dimuat oleh majalah
Panjimas dan Harian Umum Pelita, Rabu 3 Agustus 1983 dengan judul, “Dr. Harus
Nasution Menyongsong Dies Natalis IAIN ke-26; Ulama Kurang Kuasai Ilmu-ilmu
Keduniaan, dan Harian Umum Pelita, Rabu 10 Agustus 1983 dengan judul, ”Menteri
Agama pada Dies Natalis IAIN Jakarta; Umat Islam Harus Jadi Pemikir dan
Berani Bertanggungjawab.”
Hari keempat
(terakhir) dari tulisan saya di Harian Umum Pelita itu, kemudian Bapak M.Natsir
memanggil Bapak Hardi M.Arifin yang menangani masalah pondok pesantren di Dewan
Dakwah Islamiyah Indonesia, beliau meminta, “Arifin coba Saudara teliti,
siapa Amin Djamaluddin yang menulis bersambung di Harian Pelita itu, dan dari
mana pendidikannya, dan organisasinya apa, dan kalau sudah beristeri, isterinya
orang mana dan pendidikannya apa?”
Mendengar
perintah dari Bapak M.Natsir ini, Bapak Hardi Arifin menjawab, “Amin
Djamaluddin itu orang Bima, pendidikannya di PGAN 6 tahun Bima, dan
organisasinya Persis (Persatuan Islam) dan isterinya orang Bogor, tamatan
Pesantren Persis Bangil.” (Padahal isteri saya tamatan dari Pesantren
Persis No. 1 Pajagalan Bandung, Jawa Barat).
Setelah mendengar
jawaban Bapak Hardi Arifin tersebut, Bapak M.Natsir pun langsung memerintahkan
kepadanya, “Tolong dicari Saudara Amin Djamaluddin itu, saya ingin sekali bertemu
dengan dia!” Pada hari itu juga, pas selesai shalat Zhuhur di masjid
Al-Furqan DDII Bapak Hardi Arifin berkata kepada saya, “Min dicari Bapak, ente!”
Saya pun balik bertanya, “Bapak, siapa?” “Pak Natsir, ayo ikut saya!”
Saya sangat
kaget, setelah tahu Bapak M.Natsir lah yang mencari saya. Padahal sebelumnya,
saya belum pernah bertemu dengan Bapak M.Natsir. Saya pun ikut Bapak Hardi
Arifin masuk ke ruangan kerja Bapak M. Natsir. Setelah masuk ke ruangan Bapak M.Natsir,
Bapak Hardi Arifin berkata kepada Bapak M.Natsir, “Ini Amin Djamaluddin itu,
Pak!” Setelah Bapak Hardi Arifin memperkenalkan saya kepada Bapak M.Natsir,
Bapak Hardi Arifin langsung menuju ke ruang kerjanya, dekat dengan ruang kerja Bapak
M.Natsir. Bapak M.Natsir pun langsung bangun dari kursi kerjanya, dan duduk di
kursi biasa, posisinya berhadapan dengan saya, dan langsung berkata, “Saya
sudah baca dan teliti tulisan Saudara yang bersambung di Harian Umum Pelita itu.
Prof. DR. Harun Nasution itu dia adalah tokoh orientalis yang bertaraf
internasional. Jadi pekerjaan yang Saudara lakukan ini, adalah pekerjaan yang
bertaraf internasional. Jarang sekali, orang yang bisa berbuat seperti Saudara.
Saya meminta Saudara untuk membantu saya. Pintu rumah saya 24 jam terbuka untuk
Saudara.”
Inilah,
perjumpaan pertama kalinya, antara saya dengan Bapak. M.Natsir, sehingga saya
diminta menjadi staf ahli khusus Bapak M. Natsir di dalam menghadapi aliran
sesat sampai beliau wafat. Kemudian, untuk mendirikan LPPI yang saya pimpin, Bapak
M.Natsir telah memberikan uang kepada saya, sebesar Rp. 75.000,- (tujuh puluh lima
ribu rupiah) untuk membuat Akta Notaris pada tahun 1985. Alhamdulillaah,
LPPI saat ini dengan modal tersebut sudah mempunyai gedung sendiri berlantai
empat di jalan Tambak No. 20B Jakarta Pusat.
Memang
antara saya dengan Bapak Hardi Arifin, tokoh-tokoh GPI dan anak-anak PII, sejak
awal tahun 1978, sudah sangat kenal dekat, karena sering berkumpul di Menteng
Raya 58 Jakarta, markasnya GPI (Gerakan Pemuda Islam) dan PII (Pelajar Islam
Indonesia). Sampai kemudian, pada tahun 1978, (tepatnya pada bulan Maret 1978),
kami semua sama-sama masuk Pesantren Pak Domo (istilah kami), dan kalau orang
bilang, masuk penjara. Disebut Pesantren Pak Domo, karena Jenderal Soedomo saat
itu menjadi Panglima Komkamtip Pusat, yang kerjanya menangkapi orang-orang yang
suka berdemontrasi. Kami pernah ramai-ramai ditahan di Rumah Tahanan Salemba
Jakarta. Kami masuk penjara waktu itu, karena melakukan demontrasi menolak
aliran kepercayaan yang akan disamakan atau dianggap sebagai agama oleh MPR RI
saat itu dan juga menolak PMP (Pendidikan Moral Pancasila) masuk ke dalam GBHN.
Dulu,
di salah satu ruangan di Kramat Raya 45 itu, ada ruang khusus untuk GPI dan anak-anak
PII. Di ruangan itulah tempat kami berkumpul bersama anak-anak PII, waktu muda
dahulu. Sehingga saya sering berada
di Kramat Raya 45, kantor PII tersebut.
Itulah sejarahnya, saya
bisa menjadi staf khusus (Allaahu yarham) Bapak M. Natsir. Bapak M. Natsir
sangat percaya kalau suatu aliran itu sesat, setelah saya memvonisnya sesat dan
menyesatkan. Maka sebagai kenang-kenangan, tulisan saya di Harian Umum Pelita selama
empat hari berturut-turut tersebut saya terbitkan kembali dalam bentuk buku
saku, mudah-mudahan bermanfaat bagi generasi muda Islam saat ini dan di masa
yang akan datang.
Saya sebagai penulis,
hanya lah tamatan PGAN 6 tahun Bima tahun 1970. Tapi saya berani untuk mengoreksi
dan menanggapi pemikiran seorang profesor doktor yang sedang menjabat rektor sebuah
perguruan tinggi Islam terkenal saat itu. Hal ini dikarenakan semangat mencari
ilmu dan semangat belajar juga membaca saya yang tinggi, walaupun saya tidak
pernah masuk perkuliahan di sebuah perguruan tinggi.
Wallaahu a’lam bish showaab.
Jakarta, 14 Jumadil Akhir 1439
H
02 Maret 2018 M
Wassalaam,
Tertanda,
M. Amin Djamaluddin
Acc,
Tertanda,
Hardi M. Arifin
Puncak Bogor, 4 Januari 2019





