Selasa, 28 Oktober 2025

Kegiatan Ahmadiyah Indonesia Bulan September 2025

 

    

Objek : Aktivitas Jemaat Ahmadiyah Indonesia
Periode: 16 September – 07 Oktober 2025
Fokus : Analisis atas Kegiatan JAI di Seluruh Wilayah Indonesia.

 

 

    

    

 


 

KEGIATAN 1 :

1. Identitas Kegiatan

  • Nama Kegiatan: Silaturahmi Intelijen Kodim 0908 Bontang ke Rumah Misi Jemaat Ahmadiyah Bontang[1]
  • Tanggal Kegiatan: Selasa, 16 September 2025
  • Tempat: Rumah Misi Jemaat Muslim Ahmadiyah Bontang
  • Pihak yang Hadir:
    • Dari Ahmadiyah:
      • Mln. Andhika Ibrar Ahmad (Mubaligh Daerah Kaltim 2 Utara)
      • Puji Darminto (Amir Daerah Kaltim 2 & Utara)
      • Warsono (Nazim Ansharullah)
      • Pengurus Jemaat lokal dan regional lainnya
    • Dari Intelijen Kodim 0908: Lima anggota rombongan



2. Materi Kegiatan

  1. Sejarah Ahmadiyah: Disampaikan bahwa Ahmadiyah masuk Indonesia sejak 1925, dan Jemaat Ahmadiyah Bontang berdiri tahun 1992.
  2. Tokoh-tokoh Nasional yang Dikaitkan: WR. Soepratman (pencipta lagu Indonesia Raya) dan Arif Rahman Hakim (tokoh mahasiswa) disebut sebagai sosok yang “bersinggungan” dengan Ahmadiyah.
  3. Kontribusi Sosial Ahmadiyah:
    • Pengajian internal jemaat
    • Donor darah
    • Gotong royong
    • Santunan fakir miskin
    • Program Clean The City
  4. Simbolisasi Persahabatan: Rombongan Kodim menerima buku “Sumbangsih Ahmadiyah untuk Negeri” sebagai cinderamata.
  5. Dokumentasi: Foto bersama, jamuan minum, dan interaksi cair penuh keakraban.

3. Analisa Kritis (Pandangan Ahlussunnah)

a. Aspek Aqidah dan Penyimpangan

  • Ahmadiyah bukan bagian dari Islam menurut kesepakatan ulama Ahlussunnah. Mereka mengangkat Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi setelah Nabi Muhammad ﷺ, padahal Allah menegaskan:

“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup para nabi.” (QS. Al-Ahzab: 40).

  • Menggunakan nama Jemaat Muslim Ahmadiyah adalah upaya sistematis untuk mengaburkan identitas dan menyusup ke dalam masyarakat Muslim, sehingga menimbulkan fitnah aqidah.

b. Pola Penyusupan Sosial

  • Penyampaian sejarah, klaim kontribusi nasional, serta program sosial adalah strategi soft approach untuk membangun citra positif Ahmadiyah di mata aparat negara.
  • Pemberian buku “Sumbangsih Ahmadiyah untuk Negeri” merupakan bentuk propaganda terselubung untuk melegitimasi eksistensi mereka.

c. Potensi Dampak Politik & Sosial

  • Dampak Politik: Hubungan hangat dengan institusi militer berpotensi membuka jalan legalisasi Ahmadiyah di daerah, sekaligus melemahkan posisi umat Islam yang menolak keberadaan mereka.
  • Dampak Sosial: Keharmonisan semu melalui kegiatan sosial bisa menimbulkan simpati publik. Jika masyarakat awam tidak memahami penyimpangan aqidah mereka, maka akan mudah terkecoh.
  • Dampak Agama: Silaturahmi seperti ini rawan dimanfaatkan untuk memperluas pengaruh dakwah Ahmadiyah, padahal aliran ini telah difatwakan sesat oleh MUI (1980 & 2005).

d. Analogi Strategi

  • Pertemuan dengan aparat negara dipoles dengan jamuan hangat, canda tawa, dan dokumentasi. Ini adalah strategi “normalisasi” – sama halnya dengan upaya kelompok sesat lain yang mengedepankan wajah sosial untuk menutupi penyimpangan akidah.

4. Kesimpulan Investigasi

  • Kegiatan silaturahmi antara Intelijen Kodim 0908 Bontang dan Jemaat Ahmadiyah bukan sekadar temu ramah, melainkan agenda strategis Ahmadiyah untuk membangun jejaring dengan aparat negara.
  • Dengan mengemas diri sebagai komunitas sosial yang peduli pada masyarakat, Ahmadiyah berusaha mengikis stigma sesat dan perlahan menanamkan pengaruhnya.
  • Dari perspektif Ahlussunnah, pertemuan ini berbahaya karena bisa menimbulkan legitimasi simbolik bagi Ahmadiyah di mata publik, sementara dari sisi aqidah mereka jelas menyimpang.
  • Masyarakat Muslim harus waspada agar tidak terkecoh oleh propaganda kemanusiaan yang disusupi misi aqidah menyimpang. Aparat negara seharusnya mengedepankan sikap netral, kritis, dan memahami fatwa ulama agar tidak terjebak dalam strategi infiltrasi.

Minggu, 08 Oktober 2023

SEJARAH A. HASSAN MEMPUNYAI KITAB-KITAB AHMADIYAH

 

SEJARAH A. HASSAN

MEMPUNYAI KITAB-KITAB AHMADIYAH

Oleh : M. Amin Djamaluddin

 

 

            Bapak M. Natsir (alloohu yarham) pernah bercerita kepada saya, bagaimana Tuan A. Hassan (alloohu yarham) mendapatkan buku-buku Ahmadiyah.

Pada suatu hari, Presiden Indonesia, Ir. Soekarno melakukan kunjungan kerja ke Jawa Timur bersama beberapa orang Duta Besar negara sahabat. Begitu Presiden Soekarno dan rombongan tiba di Jawa Timur, Presiden Soekarno dan rombongan tidak langsung menuju ke hotel tempat beliau dan rombongan akan menginap. Akan tetapi, Presiden Soekarno dan rombongan justru menuju ke rumah Tuan A. Hassan terlebih dahulu.

Setelah Presiden Soekarno dan rombongan selesai bersilaturahim dengan Tuan A. Hassan di rumahnya, sebelum Presiden Soekarno dan rombongan pergi menuju hotel, pada saat itu Presiden Soekarno bertanya kepada Tuan A. Hassan. “Tuan Hassan, perlu bantuan apa dari saya?” mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Presiden Soekarno, maka Tuan A. Hassan pun menjawab, “Saya minta Duta Besar India bermalam di rumah saya malam ini.” Permintaan Tuan A. Hassan ini segera dikabulkan oleh Presiden Soekarno, dan langsung menyuruh Duta Besar India untuk bermalam di rumah Tuan A. Hassan. Alhamdulillaah, Duta Besar India mau bermalam di rumah Tuan A. Hassan.

Pada saat itu, Tuan A. Hassan membahas masalah Ahmadiyah termasuk buku-buku Ahmadiyah dengan Duta Besar India. Pada saat itu, Tuan A. Hassan mencatat semua nama buku-buku Ahmadiyah yang disebutkan oleh Duta Besar India tersebut.

            Setelah bermalam di rumah Tuan A. Hassan, Duta Besar India dan Tuan A. Hassan pagi-pagi sekali langsung pergi ke hotel tempat Presiden Soekarno dan rombongan menginap. Sesampainya di hotel dan bertemu dengan Presiden Soekarno, Tuan A. Hassan mengatakan kepada Presiden Soekarno, “Ini yang saya minta bantuannya dari Bapak Presiden” sambil Tuan A. Hassan menyerahkan sehelai kertas kepada Presiden Soekarno.

            Setelah Presiden Soekarno membaca tulisan Tuan A. Hassan tersebut yang isinya permintaan untuk dicarikan buku-buku Ahmadiyah di India, maka Presiden Soekarno langsung meminta Duta Besar India untuk segera pulang ke negaranya dan membelikan semua buku-buku Ahmadiyah yang diperlukan oleh Tuan A. Hassan tersebut.

            Tidak berapa lama, Duta Besar India pun segera pulang ke negaranya untuk membelikan buku-buku Ahmadiyah yang diperlukan oleh Tuan A. Hassan.

Setelah Duta Besar India mendapatkan buku-buku Ahmadiyah yang diperlukan oleh Tuan A. Hassan, maka dia melaporkannya kepada Presiden Soekarno dan langsung diserahkannya buku-buku Ahmadiyah tersebut kepada Tuan A. Hassan. Inilah, sejarah singkat Tuan A. Hassan bisa mempunyai koleksi buku-buku Ahmadiyah yang di kemudian hari diwariskan kepada Pak Natsir dan dari Pak Natsir lah saya memperoleh buku-buku Ahmadiyah tersebut.

Memang, jika ada waktu senggang, Pak Natsir (alloohu yarham) suka bercerita banyak hal kepada saya. Termasuk sejarah ini.

 

 

***

Senin, 27 Maret 2023

Kajian LPPI atas Mimpi-mimpi Muhammad Qasim "Imam Mahdi" dari Pakistan

 

HASIL KAJIAN LPPI

TERHADAP MIMPI-MIMPI MUHAMMAD QASIM

 

 

 

 

 

LEMBAGA PENELITIAN DAN PENGKAJIAN ISLAM

TAHUN 2023

 

 KATA PENGANTAR

             Syukur alhamdulillâh, kajian terhadap mimpi-mimpi Muhammad Qasim yang disebarkan melalui media sosial resmi Muhammad Qasim dapat diselesaikan pada waktunya. Pada awalnya, ketika fenomena Muhammad Qasim viral di media sosial, kami mengira masyarakat Indonesia tidak akan mudah mempercayainya. Hal ini dikarenakan, semua klaim Muhammad Qasim tidak didasarkan atas kesadaran diri, terlebih data ilmiah. Tetapi justru semua klaimnya hanya berlandaskan kepada mimpi-mimpi yang dia alami, mimpi orang biasa tidak memiliki kekuatan hukum. Akan tetapi, setelah mendapat beberapa masukan, kajian ini dilaksanakan oleh penulis, sebagai respon atas banyaknya umat Islam yang mengikuti dan mengkultuskan mimpi-mimpi Muhammad Qasim tersebut. Ini dapat terlihat dari antusiasme masyarakat di akun media sosial Muhammad Qasim dan para pendukungnya yang menyebarkan mimpi-mimpi Muhammad Qasim, baik melalui video di akun Youtubenya, maupun melalui tulisan di website resminya.

            Semoga Allah ﷻ meridlai ikhtiar LPPI dalam menjaga aqidah umat Islam di Indonesia khususnya yang disajikan dalam bentuk kajian ilmiah ini.  

 

Jakarta, 6 Februari 2023.

Penulis,

 

Rahmat Ramadhan, Lc., M.H.       

 Silahkan dibaca dalam format PDF-nya.

  

Rabu, 30 November 2022

Waketum MUI Ajak Umat Islam Rawat Bangsa dan Negara

 JAKARTA— Wakil Ketua Umum MUI, KH Marsudi Syuhud, mengajak segenap elemen masyarakat terutama umat Muslim untuk Kita harus merawat negara dan bangsa ini.


Rabu, 23 November 2022

ISLAM JAMA’AH SEBUAH P.R. TAMBAHAN

 

ISLAM JAMA’AH SEBUAH P.R. TAMBAHAN

Oleh : Dr. Ahmad Syafii Maarif

 

 Bismillaahirrahmaanirrahiim.

 Pendahuluan.

            Gerakan Islam Jama’ah atau Gerakan Darul Hadits dengan tokoh utamanya mendiang Nurhasan Ubaidah pernah menghebohkan masyarakat Indonesia beberapa tahun yang lalu, dan puncak kehebohan itu terjadi pada akhir 1979, pada saat gerakan ini mendapat serangan dan kecaman keras dari berbagai pihak. Menurut informasi yang diberikan oleh Bambang Irawan Hafiludin, bekas salah seorang tokoh puncaknya, Gerakan Islam Jama’ah (GIJ) ini bukan hanya merupakan gejala Indonesia, tetapi juga punya beberapa markas di luar negeri, antara lain di Makkah dengan peralatan fisik yang serba modern dan mewah. Gerakan ini dianalogikan orang juga sebagai Khawarij Gaya Baru (lihat Panjimas, 21 Juni 1986, hal. 19) dengan sifatnya yang ekslusif dan anti rasio. Dalam makalah ini, saya akan melakukan sorotan ulang terhadap hakekat, karakteristik gerakan ini, dan kira-kira bagaimana strategi kita menghadapinya, karena gerakan ini telah muncul ke permukaan kembali dengan berbagai nama dan bentuk. Kabarnya beberapa anggota Muhammadiyah di beberapa tempat telah berhasil disedotnya. Ini adalah sebuah Pekerjaan Rumah (PR) tambahan bagi kita di samping tugas-tugas lain yang semakin menumpuk.

 

Islam versi Islam Jama’ah

Dari literatur yang masih terbatas, kita diberi tahu tentang versi Islam gerakan ini. Doktrin mereka bertumpu pada sebuah hadits mauquf yang dipercayai berasal dari Umar bin Khatttab :

لا إسلام إلا بالجماعة و لا جماعة إلا بالإمارة و لا إمارة إلا بالبيعة و لا بيعة إلا بالطاعة.

“Tiada Islam bila tanpa jama’ah, tiada jama’ah tanpa keamiran, tiada keamiran tanpa bai’at, dan tiada bai’at tanpa kataatan.”

 

Dengan bergayut pada doktrin ini, gerakan ini secara semena-mena telah menggiring seluruh ajaran Islam kepada hadits mauquf ini tapi menurut tafsiran yang sesuai dengan selera amir tertinggi mereka. Jelas kita melihat di sini suatu kerja eksploitatif terhadap kesucian ajaran agama untuk mencapai tujuan-tujuan pragmatis-materialistik.

Tapi tujuan-tujuan pragmatis ini tidak cepat dapat disadari oleh para pengikutnya, karena memang sengaja disembunyikan, sekali pun hal itu tentunya banyak tergantung pada kesigapan batin seseorang dalam menangkap tujuan sebenarnya dari gerakan ini. Seorang Bambang Irawan, misalnya, memerlukan tempo sekitar 23 tahun untuk mengenal betul hakekat IJ ini. Irawan, sebagaimana kita ketahui, adalah calon pengganti Ubaidah, tapi kemudian setelah belajar agama ke Makkah, pada 1983 ia meninggalkan gerakan itu, dan telah membeberkan seluk beluk gerakan ini. Irawan pernah mengeluh, “Sayang, 23 tahun saya menjadi korban berat IJ. Sebuah pengalaman pahit,” (Ibid, hal. 23).

Dalam membuat doktrinnya lebih efektif, sang amir dengan sengaja membaca hadits mauquf di atas secara terbalik. Dengan jalan begini ia telah menentukan posisi keimanan seseorang. Jadi hadits itu dibalik begini :

“La tha’ata berarti la bai’ata, la bai’ata berarti la imarata, la imarata berarti la jama’ata, la jama’ata berarti la islama, la islama berarti kafir.” (ibid).

            Dengan cara inilah memastikan surga atau neraka bagi seseorang. Sebuah jalan pintas yang sangat sederhana di samping sangat licik. Oleh sebab itu tidak mengherankan bila sebagian besar pengikut mereka adalah orang-orang yang awam dalam soal agama, sekali pun mungkin punya ketenaran pada sisi lain. Kesederhanaan dan kemudahan inilah menurut almarhum Buya Hamka “sebagai daya tarik bagi yang butuh pegangan.” Para artis misalnya, kata Hamka, kan sebenarnya punya kehausan keagamaan. Selama ini mungkin mereka merasa kotor. Tiba-tiba datang kiyai yang menurut mereka meyakinkan, dan berkata, “Kamu tidak apa-apa. Kamu masuk surga, asal begini-begini, begitu-begitu.” (Tempo, No. 32 Th. IX (6 Oktober 1979), hal. 18). Dengan doktrin ini para pengikut itu merasa mendapat tempat dan dihargai. Bukan saja sebagai siswa, tapi malah sebagai muballigh. Kemudian Tempo menuturkan, “Anak-anak muda SMP dan SMA dikirim ke Kediri. Hanya dua bulan dapat pelajaran, langsung disebut “muballigh” dalam ukuran ‘cabe-rawit’ dan “mengajar.” (ibid).

Rabu, 17 Agustus 2022

MENYOAL PASAL PENODAAN AGAMA DALAM DRAFT RKUHP

 MENYOAL PASAL PENODAAN AGAMA DALAM DRAFT RKUHP

Oleh : Ustadz Rahmat Ramadhan, Lc., M.H.


Belum lama kita melihat debat hebat antara dua Ahli Hukum UGM membahas RKUHP di acara Mata Najwa. Yang pertama mewakili pemerintah Prof Edward Omar Sharif Hiariej yang biasa disapa prof Eddy, dan yang kedua mengatasnamakan rakyat yaitu Dr. Zainal Arifin Mochtar. Salah satu yang dikritisi Zaenal adalah proses meaningful participation atau partisipasi publik yg bermakna dalam proses pembuatan draft RKUHP. Menurut Zaenal KUHP adalah sesuatu yang sakral dan sebuah hadiah besar yang mana kehadirannya harus menggembirakan semua elemen masyarakat, tidak hanya untuk elemen kekuasaan. 

Menjawab krititk ini Eddy membantah dengan mengemukakan fakta lapangan bahwa pemerintah sangat memperhatikan partisipasi publik yang bermakna. Dan salah satu fakta yang disampaikan Eddy adalah reformulasi pasal penodaan agama yang ketika itu melibatkan tim khusus yang fokus pada penodaan agama. Namun disayangkan pada forum ini saya tidak mendengar Edie menyebutkan keikutsertaan salah satu ormas Islam seperti MUI, NU, Muhammadiyah, Persis, DDII dll. 

Saya pun mencoba untuk melihat kembali draft RKUHP terbaru, karena yang terakhir saya lihat adalah draft RKUHP pada tahun 2021 yang mana pada draft itu masih ada klausa yang menggunakan kalimat ‘Penodaan terhadap Agama’ pada pasal penodaan Agama. 

Senin, 18 Juli 2022

HAUZAH......PUSAT KADERISASI SYIAH MILITAN, KINI EKSIS DI INDONESIA

Banyak pihak yang merasa khawatir dengan keberadaan dan pergerakan Syiah di Indonesia. Syiah di Indonesia semakin merajalela dan sedang mempersiapkan kader-kadernya untuk men-Syiahkan Ahlu Sunnah wal Jamaah di Indonesia.

Akankah Indonesia akan menjadi negara dengan mayoritas Syiah. Apakah Indonesia akan di-Syiahkan seperti di Yaman? 

Inilah faktanya bahwa mereka tidak main-main di dalam menyiapkan kader-kadernya. Apakah umat Islam di Indonesia akan santai-santai saja? Allaahul mustaan.

Berikut ini foto-foto Hauzah dan seluruh para kader Syiah :


















HATI-HATI DENGAN PERMABI

Ada sebuah ormas Syiah yang bernama Permabi (Perduli Masjid Ahlul Bait Indonesia). Program utamanya adalah membersihkan seluruh masjid di Indonesia. Mereka terdiri dari beberapa orang saja. Jika dilihat oleh mata orang-orang awam, mereka memang memiliki kepedulian yang cukup besar terhadap kebersihan masjid-masjid. 

Akan tetapi, secara aqidah, mereka adalah para pengikut Syiah. Apakah perlu kita tolak jika masjid kita dibersihkan oleh orang Syiah? Jika Syiah hanya sebatas membantu membersihkan masjid kita, tentunya kita sebagai sesama manusia, kita tidak akan menolak mereka. Lain halnya jika mereka mengajak kita untuk masuk ke dalam ajaran Syiah, maka akan kita menolaknya dengan tegas. 

Mengapa kita harus menolaknya? Karena ajaran Syiah adalah ajaran yang sesat dan menyesatkan. Mereka mengafirkan para sahabat, syahadat mereka berbeda dengan kita, tata cara berwudlu dan tata cara shalat mereka berbeda dengan kita dan lain sebagainya. Mana buktinya? Jangan asal nuduh lho! Buktinya, silahkan baca dan teliti isi dari kitab-kitab induk mereka. Syiah di Indonesia beda lho dengan Syiah yang suka melaknat...?! Nah, inilah taqiyyah mereka. Saat ini, mereka tidak akan berani melakukan itu (mencaci maki para sahabat), karena mereka sedang dalam tahap mengenalkan ajaran mereka kepada umat Islam. Tentu akan dikenalkan kepada ajaran yang baik-baik saja dan seolah-olah sama dengan ajaran Ahlu Sunnah wal Jamaah.






Rabu, 15 Juni 2022

Sekretaris Bidang Fatwa MUI Sumut Kunjungi LPPI Jakarta

Sekretaris Bidang Fatwa MUI SU Kunjungi LPPI dan M. Amin Djamaluddin di Jakarta

Sekretaris Bidang Fatwa MUI Sumatera Utara, Dr. Irwansyah, M.H.I. mengunjungi LPPI untuk mencari data mengenai ajaran Tarekat Naqsyabandiyah Prof Kadirun Yahya yang saat ini berkembang di Sumatera Utara, pada Senin, 13 Juni 2022 di Jakarta.

Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam atau dikenal dengan singkatan LPPI yang terletak di Jl. Tambak No.20B Pegangsaan Jakarta Pusat adalah sebuah lembaga yang berusaha untuk mengumpulkan data-data primer berbagai macam aliran dan faham yang menyimpang yang tumbuh subur di Indonesia. Alhamdulillah, keberadaan LPPI menjadi lembaga rujukan yang banyak dikunjungi oleh para aktifis dakwah yang konsen dalam aliran dan faham dhal mudhil (sesat dan menyesatkan) di Indonesia. 


Amin Djamaluddin : Pakar Aliran Sesat Indonesia

LPPI pimpinan K.H. M. Amin Djamaluddin sudah sejak lama terkenal sebagai lembaga penelitian aliran-aliran sesat yang berkembang di Indonesia. Disampaikan oleh Dr. Irwansyah bahwa dahulu, ketika ingin memperoleh data akurat dan lengkap tentang Ahmadiyah, Ketua Komisi Fatwa MUI Sumatera Utara (almarhum) Prof. Dr. H. Ramli Abdul Wahid, MA pernah berkunjung dan mencopy banyak data tentang Ahmadiyah dari LPPI, sehingga kemudian terbitlah sebuah buku dengan judul, "Kupas Tuntas Ajaran Ahmadiyah" yang ditulis langsung oleh Prof. Dr. H. Ramli Abdul Wahid, MA. Buku ini menjadi salah satu buku terlengkap yang memuat data-data langsung dari kitab-kitab induk Ahmadiyah, seperti kitab sucinya Tadzkirah, Ruhani Khazain, Eik Ghalti Ka Izalah, Kasythi Nuh, Bisyarat, majalah Sinar Islam, Ajaranku, Khilafat telah Berdiri, Mahzarnamah, Peringatan Agung dari Ilahi, majalah Asy-Syifa, dll. 

Tercatat, H. M. Amin Djamaluddin sudah banyak menerbitkan buku-buku karyanya, seputar aliran dan faham sesat. Alhamdulillah, di antara karya M. Amin Djamaluddin dihadiahkan ke Dr. Irwansyah, untuk dibawa ke Komisi Fatwa MUI Sumatera Utara, di antaranya Capita Selekta Aliran dan Faham Sesat di Indonesia dan buku tentang Shalawat Wahidiyah.

Kamis, 19 Mei 2022

All About LPPI From Netizen

 


The most active anti-heretical organisation in Indonesia, the Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam (LPPI – Institute for Islamic Study and Research), has benefitted from the process of democratisation after the downfall of the Suharto regime in 1998. It has taken exclusionary stances towards what it considers to be heretical religious groups, particularly the Ahmadiyya. Established in the 1980s, the LPPI was marginalised and suppressed by the Suharto regime, and its leader, Amin Djamaluddin, was arrested several times for placing himself at loggerheads with the regime. LPPI, however, survived this repression and even found its momentum after 1998. Since then, it has been able to propagate its mission to root out and eradicate heretical beliefs and even gain support from the Majelis Ulama Indonesia (MUI – Council of Indonesian Ulama) and the government. This article studies the political and religious roles of the LPPI in promoting a strict and standardised Islam before and after 1998 by answering the following questions: What theological and political positions were adopted by this organisation in relation to the Ahmadiyya? How have the Persatuan Islam (Persis – Muslim Union) and the Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII – Indonesian Council for Islamic Propagation) influenced the LPPI in opposing nonconformist religious groups? Why did they disseminate anti-Ahmadiyya discourse, provoke people to oppose the Ahmadiyya, and lobby the government to ban this religious community? Did strategies to dismantle ‘deviant religious groups’ differ between the Suharto era and the post-Suharto era?

Organisasi anti kesesatan yang paling aktif di Indonesia, yaitu Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam (LPPI), telah diuntungkan dari proses demokratisasi setelah jatuhnya rezim Suharto pada tahun 1998. LPPI telah mengambil sikap eksklusif terhadap yang dianggapnya sebagai kelompok sesat, khususnya Ahmadiyah. LPPI didirikan pada 1980-an, dan LPPI pernah dipinggirkan dan ditekan oleh rezim Suharto, dan pemimpinnya, M. Amin Djamaluddin pernah ditangkap beberapa kali, karena berselisih dengan rezim. Namun, LPPI selamat dari penindasan rezim dan bahkan menemukan momentumnya setelah tahun 1998. Sejak itu, LPPI mampu menyebarkan misinya untuk membasmi dan memberantas aliran sesat dan bahkan mendapatkan dukungan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan pemerintah.

Artikel ini mempelajari peran politik dan dakwah LPPI di dalam mempromosikan Islam yang ketat dan baku sebelum dan sesudah tahun 1998 dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut ini : Posisi teologis dan politik apa yang dianut oleh organisasi ini dalam kaitannya dengan Ahmadiyah? Bagaimana Persatuan Islam (Persis) dan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) mempengaruhi LPPI di dalam menentang kelompok nonkonformis? Mengapa mereka menyebarkan wacana anti-Ahmadiyah, memprovokasi orang-orang untuk menentang Ahmadiyah, dan melobi pemerintah untuk melarang komunitas agama ini? Apakah strategi pembubaran 'kelompok aliran sesat' berbeda antara era Suharto dan pasca-Soeharto?


Selasa, 12 April 2022

MGA Mati Terhinakan

 HARTONO Ahmad Jaiz pernah bertanya kepada Dr. Hasan bin Mahmud Audah, mantan orang kepercayaan Khalifah Ahmadiyah ke-4 Thahir Ahmad, yang sudah kembali pada Islam. “Apakah benar, nabinya orang Ahmadiyah, Mirza Ghulam Ahmad Al-Kadzab yang lahir di India 15 Februari 1835 dan mati pada 26 Mei 1906, itu matinya di kakus (WC)?”

Kemudian Dr. Hasan bin Mahmud Audah pun menjawab, “Ha…, ha…, haa… itu tidak benar. Mirza Ghulam Ahmad Al-Kadzab tidak bisa ke WC. Dia meninggal di tempat tidur. Tetapi berminggu-minggu sebelum matinya dia berak dan kencing di situ. Jadi tempat tidurnya sangat kotor seperti WC. Karena sakitnya itu, sampai-sampai dalam sehari dia kencing seratus kali. Makanya, tanyakanlah kepada orang Ahmadiyah, maukah kamu mati seperti nabimu?”

Indonesia akan Dijadikan Pusat Ahmadiyah di Dunia (Berita 2008)

Jakarta - Sebagian umat Islam meminta Ahmadiyah dilarang bukan hanya karena ajarannya yang dinilai sesat. Namun, karena pemimpin Ahmadiyah hendak menjadikan Indonesia sebagai pusat aliran itu.

"Indonesia akan dijadikan sebagai pusat Ahmadiyah di dunia, sehingga umat Islam bangkit," ujar Ketua Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam (LPPI) Majelis Ulama Indonesia (MUI), Amin Djamaludin.

Hal itu disampaikan dia di Kejagung, Jl Sultan Hasanudin, Jakarta Selatan, Kamis (3/1/2008).

Amin dan rombongannya yang tergabung dalam Forum Umat Islam (FUI) menyampaikan surat kepada Jaksa Agung Hendarman Supandji yang meminta agar Ahmadiyah dilarang. FUI memiliki sekitar 54 anggota yang terdiri dari ormas Islam dan partai politik seperti PPP, PBB, PKS, dan PBR.

Amin mengungkapkan, rencana Ahmadiyah itu diketahuinya dari tulisan di majalah resmi mereka di Inggris bernama Al Fadhl International. Tulisan tersebut dimuat secara bersambung pada majalah edisi 13, 14, dan 20 tahun 2000.

Khalifah ke-4 Ahmadiyah, yakni Tahir Ahmad, pernah datang ke Indonesia pada tahun 2001. Ia sempat bertemu dengan mantan presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

LPPI: Jamaah Ahmadiyah Dilarang Berhaji

Berita Lama (Selasa 08 Sep 2009)

Diberitakan oleh Republika bahwa pada tahun 2009, jamaah Ahmadiyah diperbolehkan untuk beribadah haji ke Tanah Suci oleh Kantor Wilayah Departemen Agama (Kanwil Depag) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). hal ini kemudian menuai reaksi keras dari umat Islam. Di antaranya, Ketua Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam (LPPI) H. M. Amin Jamaluddin mengatakan bahwa jamaah Ahmadiyah tidak diperbolehkan untuk menunaikan ibadah haji ke tanah suci Makkah, Arab Saudi.

"Mereka (jamaah Ahmadiyah) bukan umat Islam," kata Amin kepada Republika, Senin pada 7/9/2009. Selian itu, menurut Amin, larangan beribadah haji ke Tanah Suci Makkah adalah peraturan Pemerintah Arab Saudi, bahwa semua jamaah Ahmadiyah dari berbagai negara tidak diperbolehkan untuk menunaikan ibadah rukun Islam yang kelima itu.

Amin meminta kepada Kanwil Depag NTB untuk satu suara dengan Majelis Ulama Indonesia dan pemerintah, bahwa jamaah Ahmadiyah tidak diperbolehkan berhaji. "Pemerintah dari pusat sampai daerah harus satu sikap, yakni melarang jamaah Ahmadiyah untuk menunaikan ibadah haji," tegasnya.

Dia mengaku, pemerintah sampai saat ini belum memiliki aturan pencegahan jamaah Ahmadiyah untuk beribadah haji. "Namun, jika orang itu sudah jelas termasuk jamaah Ahmadiyah, maka orang itu tidak boleh diberangkatkan," ujarnya.

Amin mencontohkan, saat musim haji tahun 2009, ada dua orang calon jemaah haji di Asrama Haji Pondok Gede, Bekasi yang diketahui sebagai jemaat Ahmadiyah. Setelah mengetahui kedua orang tersebut, Amin melaporkan keduanya ke Kedutaan Arab Saudi yang berada di Jakarta. Lantas, keduanya pun kemudian tidak jadi berangkat karena dilarang oleh Pemerintah Arab Saudi melalui Kedutaan besarnya di Jakarta.

Kamis, 07 April 2022

Siswi SMP/SMA Korban Mut'ah di Iran

Pada Februari 2011, Syi'ah Bahrain atas instruksi pimpinan tertinggi mereka di Iran, menjalankan aksi demonstrasi untuk menggulingkan pemerintahan sah Bahrain. Bermuka dua adalah sikap utama Syi'ah, saudara lihat Syi'ah Iran mendukung semua revolusi, dan demonstrasi, bahkan terkadang ikut mendukungnya, terkecuali revolusi rakyat Suria.


Makar yang tertata rapi, dan bertujuan menjadikan Bahrain Irak kedua, putus di tengah jalan setelah Dir' al-Jazirah (Tentara gabungan Arab Teluk) yang dipromotori Saudi masuk ke Bahrain guna mempertahankan pemerintah dari rongrongan Syi'ah. Apalagi hubungan Saudi-Bahrain bukan sekedar negara tetangga, tetapi lebih erat lagi setelah pangeran Bahrain menikahi putri Sahab binti Abdullah Alu Saud.

Demonstrasi 'damai' menurut klaim Syi'ah ini, ternyata adalah demonstrasi brutal dan binal. Untuk bukti kebrutalan mereka saudara bisa browsing di internet. Tapi kali ini kami akan mengangkat 'demonstrasi binal dan amoral' Syi'ah Bahrain.

Fatwa Syi'ah; Melakukan Pengundian Untuk Menentukan Bapak Dari Anak Hasil Mut'ah!!!

Bukan Syi'ah bila tidak doyan Mut'ah. Zina berkedok agama tersebut memiliki kedudukan yang sangat agung dan merupakan amalan yang amat mulia dalam agama Syi'ah. Bahkan hingga dikatakan secara dusta oleh mereka untuk membuat semangat para pengikutnya bahwa barangsiapa yang melakukannya hingga 4 kali, maka derajatnya sama seperti derajat Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi Wasallam. Na'udzubillah! 

Juga sebagaimana telah kita ketahui, terdapat pada ajaran mereka bahwa diperbolehkannya bermut'ah hingga seribu wanita. Kini ulama Syi'ah telah memberikan solusi baru kepada para pengikutnya, terutama bagi kaum wanitanya yang sudah seringkali berlomba-lomba menggapai pahala dengan 'ibadah mut'ah hingga sulit diketahui berapa jumlah laki-laki Syi'ah yang telah memut'ahnya, dan sulit pula diketahui siapa bapak sebenarnya dari anak yang lahir dari hasil mut'ahnya. 

Kasus yang amat memalukan demikian pernah ditanyakan kepada dedengkot Al-Khui seperti berikut, dan dia memberikan solusi dengan fatwanya yaitu dengan cara DIUNDI untuk pemilihan bapak bagi sang anak :

Selasa, 05 April 2022

Teror Syiah kepada Muslimah yang Menolak Mut'ah

 


Ulama Syi’ah kembali menteror kaum wanitanya untuk dijadikan budak nafsu mereka. Mereka mengancam dengan neraka bagi siapa pun dari para wanita Syi’ah yang menolak tatkala diajak beribadah mut’ah/kawin kontrak (baca: zina) oleh sayyid dari kalangan mereka.

Adalah Muhsin Alu ‘Ashfur, salah satu dedengkot Syi’ah yang di dalam twitternya menteror para wanita Syi’ah seperti di atas. Saksikanlah, si busuk ini berkata:
قال السيد فاضل المدرسي نقلاً عن الإمام الصدوق (ع) : (كل إمرأة طلبها سيد في متعة ورفضت فقد أوجبت على نفسها النار وحرمت عن نفسها الجنة والأجر)

“Telah berkata As-Sayyid Fadhil Al-Madrisiy menukil dari Al-Imam Ash-Shaduq: “Setiap wanita yang dimintai oleh sayyid untuk ber-mut’ah lalu dia (si wanita) menolak, maka sungguh neraka wajib atas dirinya dan diharamkan dari dirinya akan Surga juga pahala.” [Twitter Muhsin Alu ‘Ashfur: https://twitter.com/ShMohsnAlAsfor/status/349582741517508608]
Sumber: http://jaser-1eonheart.blogspot.com/2013/08/neraka-bagi-para-wanita-syiah-yang.html

Kamis, 31 Maret 2022

Pesantren Al Qalam Jakarta Pusat






Jakarta Pusat, VIRALREPORTER5.COM –
 Danramil 01/Menteng Mayor Inf Endra Krismanto S.Pd melaksanakan Sosialisasi Rekrutmen Calon Prajurit TNI AD TA. 2022 di Madrasah Aliyah (MA) Pondok Pesantren Al Qalam Jl.Menteng Tenggulun No.17, RT.9/RW.10, Menteng, Kec. Menteng.(24/1/22)

Danramil 01/Menteng Mengatakan,bahwa Sosialisasi Rekrutmen Calon TNI AD ini untuk memberikan gambaran juga wawasan tentang peran TNI AD dalam menjaga NKRI, selain itu untuk menarik minat warga masyarakat terutama generasi muda untuk menjadi bagian dalam menjaga nasionalisme melalui profesi sebagai anggota TNI AD.

“Kehadiran kami adalah untuk memberikan wawasan dalam rangka mempersiapkan generasi muda sebagai calon anggota TNI AD yang berkualitas dan berahlak serta memiliki nilai karakter kejuangan yang luhur”, jelas Danramil.

“Sehingga para siswa/santri akan lebih paha tentang persiapan yang harus disiapkan secara dini sebagai kesiapan pribadi sebelum mendaftar menjadi calon anggota TNI”, lanjut Danramil.

Persiapan itu antara lain membina fisik, menjaga kesehatan, mempelajari pengetahuan akademik dan sebagainya. Pendaftaran dilakukan secara on line dan penerimaan sebagai calon anggota TNI baik Akmil, Pa PK, Pa PSDP, Pa Bea Siswa, Bintara dan Tamtama, tidak dipungut biaya apapun. (@2022)

Rabu, 30 Maret 2022

Kisah Perdebatan A Hassan

 

Kisah Perdebatan 

A. Hassan dengan Tokoh Atheis

 


Oleh: Artawijaya

GEDUNG milik organisasi Al-Irsyad, Surabaya, hari itu penuh sesat dipadati massa. Almanak menunjukkan tahun 1955. Kota Surabaya yang panas, serasa makin panas dengan dilangsungkannya debat terbuka antara Muhammad Ahsan, seorang atheis yang berasal dari Malang, dengan Tuan A. Hassan, guru Pesantren Persatuan Islam, Bangil. Meski namanya berbau Islam, Muhammad Ahsan adalah orang atheis yang tidak percaya bahwa Tuhan itu ada, dan tidak pula meyakini bahwa alam semesta ini ada Yang Maha Mengaturnya. Ia juga menyatakan manusia berasal dari kera, bukan dari tanah sebagaimana dijelaskan Al-Qur’an.

Menurut keterangan Ustadz Abdul Jabbar, guru Pesantren Persis, yang menyaksikan perdebatan itu, hadirin yang datang cukup membludak. Lebih dari ratusan massa datang berkumpul, mengular sampai ke luar gedung. Mereka mengganggap perdebatan ini penting, karena Muhammad Ahsan, telah secara terbuka di Surat Kabar Harian Rakyat, 9 Agustus 1955, meragukan keberadaan Tuhan. Ia juga menolak keyakinan Islam bahwa orang yang berbuat kebaikan di dunia, akan dibalas di akhirat kelak. Ahsan berkeyakinan, segala sesuatu tercipta melalui evolusi alam, dan akan musnah dengan hukum alam juga. Dalam surat kabar itu, ia menyatakan lugas, “Pencipta itu mestinya berbentuk. Tidak mungkin suatu pencipta tidak berbentuk, “tulisnya.

Atas pernyataan itu, Hasan Aidit, Ketua Front Anti Komunis, menghubungi A. Hassan agar bersedia bertukar pikiran dengan tokoh atheis itu. Sebelumnya, Hasan Aidit dan Bey Arifin sudah melayangkan tantangan debat di forum Study Club Surabaya pada 12 Agustus 1955, namun rencana itu gagal. Ia kemudian menyusun rencana agar Ahsan yang atheis itu dipertemukan dengan A. Hassan, sosok yang dikenal ahli dalam berdebat soal-soal keislaman. A. Hassan dan Muhammad Ahsan bersedia bertemu di forum terbuka.

Singkat kata, perdebatan terbuka benar-benar terjadi. Karena dikhawatirkan akan berlangsung panas, maka panitia memberikan beberapa peraturan kepada hadirin yang datang menyaksikan. Hadirin tak boleh bertepuk tangan, tidak boleh bersorak sorai, tidak boleh saling berbicara, tidak menampakkan gerak-gerik yang merendahkan salah seorang pembicara, dan tidak boleh mengganggu ketentraman selama berlangsungnya perdebatan.

Sementara untuk orang yang berdebat dibuat aturan pula. Masing-masing berdiri di satu podium dan diberi mikrophone, kemudian saling bertukar pertanyaan dan jawaban. Sementara pimpinan acara, yaitu Hasan Aidit, duduk di sebuah meja didampingi seorang sekretaris untuk mencatat jalannya perdebatan. Tugas pimpinan acara adalah mengatur jalannya perdebatan, dan menegur siapa saja yang melanggar aturan.

Setelah dibuka dengan ceramah dari KH. Muhammad Isa Anshary, tokoh Persatuan Islam yang juga petinggi Partai Masyumi, acara pun di mulai. Perdebatan berlangsung dalam format tanya jawab dan saling menyanggah pendapat yang diajukan.

Berikut point-point penting dari ringkasan perdebatan itu. Tokoh atheis Muhammad Ahsan akan disingkat menjadi (MA), sedangkan A. Hassan disingkat menjadi (AH):

A.H: Saya berpendirian ada Tuhan. Buat membuktikan keadaan sesuatu, ada beberapa macam cara; dengan panca indera, dengan perhitungan, dengan kepercayaan yang berdasar perhitungan, dengan penetapan akal. Makatentang membuktikan adanya Tuhan, tuan mau cara yang mana?