Kamis, 10 Maret 2022

HITAM DI BALIK PUTIH; BUKU BANTAHAN ATAS BUKU PUTIH MAZHAB SYIAH

 

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya kepada seluruh umat manusia. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah SAW, keluarga dan para sahabatnya serta semua pengikutnya sampai akhir zaman, amma ba’du :

Layaknya seorang pedagang, para pengusung ajaran Syiah juga melakukan trik-trik dagang yang jitu agar dagangannya laris di pasaran. Di antara trik tersebut adalah dengan mengemas ajaran mereka seolah-olah bersumber dari ajaran Rasulullah SAW dan tidak ada penyimpangan sedikit pun. Di antara konsep yang berhasil dibangun oleh Syiah yaitu Syiah berhasil membuat konsep “mengentengkan” ajaran agama Islam. Yaitu Syiah meyakini bahwa prinsip beragama yang paling utama hanya cukup dengan berwilayah kepada Ali (meyakini bahwa Ali adalah wali/penguasa mereka). Siapa yang menerimanya, maka dia akan beruntung dan selamat di akhirat. Karena pada hari Kiamat, Ali akan memberikan penyelamatan terhadap seluruh umat manusia yang mencintainya. Bahkan menurut Syiah, Ali lah yang telah mengajari malaikat Jibril. “Ketika Jibril menghampiri Nabi saw, tiba-tiba Ali juga menemui beliau saw. Jibril berdiri untuk memuliakan dan menghormati Ali as. Rasulullah saw bersabda kepada Jibril, “Apakah engkau berdiri untuk menghormati pemuda ini? Jibril memaparkan, ‘Ya, dikarenakan dia memiliki hak pengajaran kepadaku.’” Rasul saw berkata, “Apakah hak itu? Jibril menjelaskan, ‘Ketika Allah menciptakanku, lalu Dia menanyaiku, ‘Siapakah engkau, siapa namamu, siapa Aku dan siapa nama Aku?’ Saya merasa kikuk, apa yang harus aku jawab, secara tiba-tiba seorang pemuda (Ali as), manifestasi dari Alam Nuraniyah berkata, ‘Katakanlah! Engkau adalah Tuhan Yang Mahaagung, nama-Mu Indah, dan aku adalah hamba-Mu yang hina-dina, namaku Jibril.” (Kecuali Ali, Abbas Rais Kermani, Penerbit Al-Huda, hal. 35).

Selain itu, Syiah juga berani membuat konsep ibadah yang selalu bersebrangan dengan Ahlu Sunnah wal Jama'ah, karena mereka berkeyakinan bahwa Ahlu Sunnah wal Jama'ah lah yang telah membunuh Imam Husein yang Syiah agungkan. Misalnya Syiah mengatakan bahwa tatacara shalat Rasulullah saw adalah sebagai berikut, “Sayid Ibnu Thawus meriwayatkan bahwa Imam Ali Ridha as pernah ditanya tentang shalat Ja’far at-Thayyar. Beliau menjawab, “Mengapa kalian lupa dengan shalat Rasulullah saw? Mungkin Rasulullah saw belum pernah melakukan shalat Ja’far tersebut, dan Ja’far juga belum pernah melaksanakan shalat beliau itu!” Perawi berkata, “Jika begitu, ajarkanlah shalat (Rasulullah saw) tersebut kepadaku!” Beliau berkata, “Kerjakanlah shalat 2 rakaat, dan di setiap rakaat bacalah surah al-Fatihah 1 kali dan inna anzalnahu (surah al-Qadr) 15 kali. Bacalah juga surah al-Qadr tersebut ketika ruku, bangun dari ruku, sujud pertama, bangun dari sujud pertama, sujud kedua, dan bangun dari sujud kedua masing-masing 15 kali. Setelah itu bacalah tasyahud dan salam…” (Kunci-kunci Surga jilid 1, Syekh Abbas Al-Qummi, hal. 150).

Selain membuat tatacara shalat Rasulullah SAW versi Syiah, Syiah juga membuat tatacara shalat yang dilakukan oleh para imam mereka, mulai dari tatacara shalat Ali bin Abi Thalib as, shalat Imam Hasan dan Husain as dan imam-imam yang lainnya yang sangat berbeda dengan tatacara shalat kaum muslimin di dunia yang bermazhab Ahlu Sunnah wal Jama'ah. Misalnya tatacara shalat Ali as adalah sebagai berikut, “Syekh Thusi dan Sayid Ibnu Thawus ra meriwayatkan bahwa Imam Ja’far Shadiq as berkata, “Sesiapa di antara kalian melaksanakan shalat Amirul Mukminin as yang berjumlah 4 rakaat, niscaya ia akan terbersihkan dari dosa seperti ia baru lahir dari perut ibunya dan segala keperluannya akan dipenuhi. Pada setiap rakaat, bacalah surah al-Fatihah 1 kali dan surah al-Ikhlash 50 kali.” (Kunci-kunci Surga jilid 1, Syekh Abbas Al-Qummi, hal. 152).

   Selain perbedaan dalam masalah ibadah, juga Syiah berani berbeda dalam masalah aqidah. Misalnya Syiah berkata, “Imam Shadiq as dalam menafsirkan ayat, “Segala sesuatu akan musnah, kecuali wajah Allah….”berkata, “Yang dimaksud dengan Wajah Allah dalam ayat ini adalah Ali as.” (Kecuali Ali, Abbas Rais Kermani, Penerbit Al-Huda, hal. 22).

Di antara yang menjadi penyebab lakunya paham Syiah, yaitu beragama di dalam Syiah sangat mudah, hanya cukup cinta dan setia kepada Ali as akan mendapatkan jaminan keselamatan di akhirat. Mereka telah berhasil menyesatkan banyak orang. Aqidah batil tersebut telah merusak keimanan kepada Allah SWT dan Rasul-Nya, dan seluruh ajaran Islam. Ahlu Sunnah wal Jama'ah meyakini jika rasa cinta kepada Allah dan Rasul-Nya belum tentu akan menyelamatkan seseorang dari adzab-Nya jika tidak dibarengi dengan iman dan amal shalih, lalu bagaimana mungkin rasa cinta kepada Ali dianggap cukup untuk menyelamatkan seseorang dari adzab-Nya?  

Kecintaan kepada Ali as yang diusung oleh Syiah adalah dikarenakan Rasulullah SAW telah mengangkat Ali as di Ghadir Khum sebagai pemimpin setelah beliau saw. Untuk masalah ini, ada baiknya Syiah merenungkan beberapa hal di bawah ini :

  1. Jika masalah kepemimpinan adalah sangat penting adanya, seharusnya Nabi r menyampaikannya kepada seluruh kaum muslimin di Arafah, sebelum beliau meninggal dunia, tepatnya pada saat haji Wada. Karena ketika di Arafah, semua jamaah haji dari berbagai negeri berkumpul. Tidak hanya penduduk Madinah, tapi dari seluruh penjuru Jazirah Arab. Sehingga apabila penduduk Madinah berkhianat, dan mereka lebih memilih Abu Bakar t sebagai khalifah, maka kaum muslimin yang lainnya yang datang dari luar Madinah bisa menjadi saksi akan hal itu.
  2. Apabila benar bahwa Rasulullah SAW  telah berwasiat kepada Ali RA untuk menjadi khalifah, mengapa Ali tidak menyampaikan hal tersebut di hadapan para sahabat? Apakah Ali takut untuk menjadi syahid membela wasiat Rasulullah SAW? Bukankah ini bertentangan dengan sejarah hidup Ali RA yang terkenal dengan keberanian dan kejujurannya?
  3. Hadits Ghadir Khum sebenarnya adalah hadits yang berisi pemulihan nama baik Ali RA oleh Rasulullah SAW. Hal ini dikarenakan ada beberapa orang para shahabat yang tidak berkenan oleh sikap Ali RA dalam masalah ghanimah/rampasan perang dari Yaman dan bukan sebagai pengangkatan Ali sebagai khalifah pengganti Rasulullah SAW.

 

Jika kondisi seperti ini terus dibiarkan, maka perlahan namun pasti akan merongrong kelestarian ajaran Islam Ahlu Sunnah wal Jama’ah. Karena ajaran Syiah mengusung cinta kepada Ali RA dan membenci para shahabat lain yang dianggap telah merampas hak kepemimpinan Ali RA seperti membenci Abu Bakar Shiddiq, Umar bin Khoththob dan Utsman bin Affan.

Oleh karena itu, sebagai bentuk pelaksanaan amar ma’ruf nahi munkar yang menjadi kewajiban kita, saya secara pribadi menyambut baik terbitnya buku “Putih” itu “Hitam” Bantahan Terhadap “Buku Putih Mazhab Syiah.” Semoga buku ini bisa bermanfaat untuk umat Islam dan menjadi bahan rujukan bagi semua pihak yang berkepentingan dalam menjaga kelestarian ajaran Islam Ahlu Sunnah wal Jama’ah di Indonesia.

 

Jakarta, 29 April 2014

Wassalam,

 

 

M. Amin Djamaluddin 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar